Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 November 2016 | 01.45 WIB

Perjuangan Para Relawan Inklusi, Cari Potensi Anak Berkebutuhan Khusus lalu Kembangkan

Liek Mustoko - Image

Liek Mustoko

KEPEDULIAN Liek Mustoko terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) sangat tinggi. Pria 65 tahun tersebut menjadi pendamping ABK sejak 38 tahun lalu. Saat itu usianya masih 27 tahun.



Pak Lik –panggilan akrab Liek Mustoko– juga masih lajang. Dia memilih bergabung dengan komunitas Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) yang berpusat di Surabaya.



Alasan Pak Lik bergabung dengan Gerkatin adalah memulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang lain mendampingi ABK. Sang adik, Mus Widodo, juga menyandang tunarungu.



”Dulu sering bikin event, sampai mengadakan lomba olahraga untuk ABK. Bolak-balik sana-sini buat cari dana,” kenangnya. Pak Lik sangat rajin mendatangi penyuluhan inklusi.



Sedikit informasi yang berkaitan dengan inklusi tidak dilewatkannya. Menurut Pak Lik, dirinya harus banyak belajar tentang kehidupan ABK agar pendampingannya bisa maksimal.



Di luar dugaan, anak pertamanya, Nabilatul Fadila yang lahir pada 6 September 1998, menyandang tunarungu. Suami Tati Sri Rahayu tersebut baru mengetahuinya saat memeriksakan anak semata wayangnya itu ke dokter.



Pada usia 3 tahun, Nabila belum bisa bicara. ”Dari situ, saya semakin fokus menjadi pendamping ABK. Apalagi, tepat tahun 1998, saya pensiun dari pekerjaan. Saya serahkan semua waktu untuk mereka,” tutur pria berperawakan kurus itu.



Sambil mendidik Nabila, Pak Lik membantu siapa pun yang ingin sharing tentang ABK. Tak jarang dia menjadi tempat curhat orang tua rekan anaknya.



”Ada yang cerita tentang anaknya yang autis. Saya berkali-kali harus meminta mereka bersabar. Kadang ada yang sampai geregetan dan memukul anak mereka,” ungkapnya.



Bergaul dengan anak-anak inklusi, Pak Lik jadi semakin memahami mereka. Saat berbicara dengan mereka, dia mewanti-wanti dirinya tidak sampai mengucapkan kata ’’jangan”, ’’awas”, dan ”tidak boleh”.



Sebab, perasaan anak-anak itu sangat sensitif. Mereka juga lebih mudah belajar jika dicontohkan. Selain itu, ada kalanya para ABK dibiarkan berekspresi tanpa dituntun. Lebih baik bila mereka dipantau dari jauh.



”Jangan sampai yang mendampingi melekat terus kayak prangko. Jangan sampai mereka terus merasa terbantu. Biar lebih mandiri,” jelasnya.



Kini Pak Lik lebih aktif di komunitas peduli ABK di SMAN 1 Gedangan (Smanig) atau yang kerap disebut Berlian.



”Rutin berkumpul tiga bulan sekali, kadang kondisional. Fokus utamanya memang pada 17 anak inklusi di Smanig,” ujarnya.



Dia mencoba menanamkan kepada para orang tua agar anak-anak tetap berdaya saing tinggi. Apalagi, persaingan global sudah berlangsung.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore