Minggu, 22 Jan 2017
Properti

Kapasitas Lebih Besar, Pilih Rumah Bertingkat

Rabu, 26 Oct 2016 14:29

DIMINATI: Perumahan GKB Centro di Jalan Kalimantan yang didesain bertingkat.

DIMINATI: Perumahan GKB Centro di Jalan Kalimantan yang didesain bertingkat. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Mahalnya harga tanah tidak hanya membuat masyarakat banyak membeli apartemen. Selain itu, terjadi tren membeli rumah bertingkat. Penjualan properti bertingkat kini terus naik.

Pengembang tidak mau menyia-nyiakan peluang tersebut. Tahun ini pengembang menggenjot produksi rumah bertingkat. Terutama pada lahan di kawasan perkotaan. Developer membidik masyarakat yang ingin tinggal di pusat kota.

’’Memang, produk rumah bertingkat menjamur. Saya pikir kondisi tersebut tidak terlepas dari pasar,’’ ujar anggota Pengurus Bidang Perumahan Menengah dan Besar DPD Real Estate Indonesia (REI) Jatim Achmad Z. Arief, Selasa (25/10).

Ketertarikan masyarakat, kata Arief, cukup beralasan. Menurut dia, rumah bertingkat rata-rata memiliki kapasitas huni yang lebih besar. Jumlah ruangan yang bisa dimanfaatkan cukup banyak.

Fungsi hunian pun semakin beragam. Misalnya, rumah bertingkat di kawasan Gresik Kota Baru (GKB). Fungsinya tidak lagi sekadar tempat tinggal. Ada yang diubah menjadi ruko untuk menjual barang.

’’Biasanya, lantai 1 untuk jualan, sedangkan lantai atas untuk tempat tinggal,’’ tambahnya. Arief menilai banyak rumah bertingkat yang tampak lebih asri. Sebagian penghuni membangun taman di teras lantai atas.

Mereka menanami bunga dan tumbuhan penyejuk. ’’Saat ini pembangunan rumah bertingkat menjadi solusi pengembangan permukiman di perkotaan,’’ katanya.

Hunian bertingkat menjadi salah satu senjata andalan penjualan properti. Tidak heran, pengembang ramai-ramai membangun cluster perumahan dengan konsep rumah susun.

Pernyataan Arief sejalan dengan catatan Gabungan Pengusaha Kontraktor Nasional Indonesia (Gapeknas) Gresik. Berdasar data organisasi tersebut, permintaan konstruksi rumah naik.

Permintaan paling besar adalah mempertinggi hunian. Banyak warga yang ingin menambah lantai hunian.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Gresik Tugas Husni Syarwanto mengakui, pembangunan rumah bertingkat memang menjamur. Rumah lantai 2-3 menjadi favorit.

Dia tidak menampik bahwa kondisi tersebut tidak terlepas dari kebutuhan hunian masyarakat Kota Pudak.

’’Gak papa dibuat tinggi. Namun, semuanya ada aturan,’’ katanya. Dia mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dan menghormati hak orang lain. Sewajarnya, pembangunan rumah tidak boleh melebihi lima lantai.

Masyarakat harus berpikir hak orang lain untuk mendapatkan sinar matahari. Selain itu, faktor keamanan harus menjadi perhitungan.

’’Pembangunan harus tetap memperhatikan kesehatan. Sebab, Gresik merupakan daerah basis industri,’’ lanjutnya. (hen/c15/ai/sep/JPG)

 TOP
©2016 PT Jawa Pos Group Multimedia