Selasa, 30 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Bisnis

Aang Permana Meraup Omzet Miliaran dari Ikan Buangan

Senin, 24 Oct 2016 18:31 | editor : fimjepe

CERDIK: Aang Permana berhasil mengolah ikan petek yang baunya amis menjadi ladang bisnis yang manis.

CERDIK: Aang Permana berhasil mengolah ikan petek yang baunya amis menjadi ladang bisnis yang manis. (dok.pribadi)

JawaPos.com- Ide bisnis ini berawal dari ikan petek yang banyak terbuang di pinggir Danau Cirata, Cianjur, Jawa Barat. Bau ikan seukuran teri bernama latin Parambassis ranga itu sangat amis sehingga tidak ada yang mau membeli. Namun, Aang Permana mengubah nasib pakan bebek tersebut menjadi bisnis rumah tangga beromzet besar.

Pekerja di sebuah perusahaan migas itu tahu bahwa di balik bau amis ikan petek terkandung kalsium dan protein yang lebih besar daripada ikan air tawar lainnya. Agar amisnya berkurang, alumnus Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut membungkus ikan dengan terigu sebelum digoreng garing.

Aang mendapatkan pasokan ikan dari 13 mitra nelayan di Waduk Cirata. Setiap hari, Masper (akronim Mahasiswa Perikanan) membutuhkan pasokan ikan 2,5 kuintal. Untuk proses produksi, Aang mempekerjakan belasan ibu-ibu berusia 45–60 tahun di sekitar rumah produksi Masperfood di Ciranjang, Cianjur. ’’Ibu-ibu sepuh kan sulit dapat pekerjaan. Dengan cara itu, mereka bisa tetap produktif,’’ terangnya.

Awalnya, pria kelahiran 1990 tersebut menawarkan ikan krispi dengan brand Crispy Ikan Sipetek itu di situs jejaring sosial dan menitipkan pada toko oleh-oleh. Lantas, Masper menggandeng 500 reseller di sejumlah kota di Indonesia untuk memasarkan olahan ikan endemik Sungai Citarum tersebut.

’’Banyak masukan dari pembeli untuk mengubah packaging agar lebih menarik,’’ ujar pemenang Wirausaha Inovatif Berbasis Lingkungan dan Sosial 2015–2016 itu.

Aang lantas merekrut sejumlah anak muda untuk mengembangkan bisnis Masperfood. Mereka bertugas melakukan inovasi produk dan marketing. Yang awalnya hanya mampu menjual beberapa kilogram per hari, kini penjualan Crispy Ikan mencapai 1.000–1.500 bungkus per hari.

Satu kemasan dibanderol dengan harga Rp 25 ribu. Dalam setahun, perputaran modal Masper bisa mencapai miliaran rupiah. ’’Dengan sistem agen, kami tidak untung sendiri,’’ jelas pria kelahiran Subang tersebut.

Karena pemasaran pada awalnya hanya melalui internet marketing, Aang memperkirakan pembeli Crispy Ikan didominasi anak muda. Nyatanya, pembeli muda hanya musiman karena tidak bisa menjadi konsumen loyal.

’’Pembeli anak muda itu kalau sudah nyoba ya sudah. Karena itu, kami alihkan target ke ibu-ibu yang menjadikan ikan krispi sebagai pelengkap atau pengganti abon,’’ terangnya.

Awalnya, Crispy Ikan juga bermain aneka rasa seperti keju dan balado. Namun, pembeli justru protes karena dua varian rasa tersebut menggunakan penyedap makanan. Akhirnya, hanya dua rasa yang dipertahankan, yakni original dan pedas. Saat ini Masper menyiapkan rasa daun jeruk, baby fish nila, baby fish mas, dan sambal ikan kering. (vir/c22/noe)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia