Kamis, 23 Feb 2017
Ekonomi

Mengintip Geliat Industri Kreatif Produksi Tas Buatan Tangan

Minggu, 23 Oct 2016 08:21

Salah Satu Industri Kreatif Tas Buatan Tangan

Salah Satu Industri Kreatif Tas Buatan Tangan (Riska Dhani/JPG)

JawaPos.com – Tekun dan ulet bisa dilakukan siapa saja. Semangat itu yang ditanamkan  Komaryatun, pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tas @oen Bag di Jalan Mawar Nomor 31, Beji, Depok, saat mulai membangun usahanya.

Ibu rumah tangga ini dengan telaten memproduksi tas buatan tangan (handmade) untuk berkembang menjadi industri kreatif rumahan.

Berawal saat tahun 2008, Atun, begitu ia akrab disapa, ikut sang suami tugas ke Jepang. Saat itu kecintaannya dalam menjahit belum muncul. Hingga saat balik lagi ke Indonesia, Atun berniat mengikuti kursus jahit. Usai mengikuti pelatihan menjahit bersama temannya, tahun 2014 membuat Atun serius menekuni usaha ini.

“Saya punya mesin jahit sudah lama. Awalnya yang suka jahit ibu saya. Lalu ada teman yang menawarkan kursus jahit free, awalnya baju dulu. Lalu mulai mulai tertarik browsing lihat bahan yang lucu dari situ baru tertarik bikin tas,” katanya di tokonya yang berada di dalam garasi rumah orangtuanya, Minggu  (24/10).

Atun menjelaskan dirinya dan dua pegawainya masih merintis usaha tersebut. Dengan bermodal ketertarikannya pada menjahit, dia lebih memilih tas sebagai produk utama yang diproduksi. Dengan dibantu dua pegawai, Atun mampu memproduksi rata-rata 8 buah tas setiap bulan.

“Tas itu kan lebih umum dalam ukuran, hanya tinggal bermain motif. Beda dengan baju lebih segmented banget dimana tergantung dengan model, ukuran, tiap orang pasti beda-beda,” tutur Atun.

Rata-rata tas buatan @oen Bag dibanderol dengan harga Rp 250 ribu-Rp 500 ribu. Atun menyadari dirinya masih terus mengembangkan usahanya sebab selama ini pemasaran baru dilakukan secara konvensional dari mulut ke mulut serta media sosial.

“Kami memang masih merintis, Sumber Daya Manusia (SDM) juga akan ditingkatkan. Baru lewat medsos dan teman ke teman. Saat ini karena sudah ada pegawai rata-rata satu minggu bisa produksi 2 tas,” tutur Atun.

Atun menjamin tas buatannya tidak pasaran. Setiap kali produksi, maksimal dia hanya membuat dua tas dengan motif yang sama. Sasarannya, kata dia, bagi ibu rumah tangga dan wanita yang aktif dan dinamis. Atun meyakini bisnis industri kreatif akan terus diminati masyarakat di tengah persaingan antara produk lokal lainnya hingga produk asing.

“Banyak orang enggak mau pasaran, dan produk ini handmade dan terbatas atau limited edition tergantung orderan. Saya yakin bisnis ini makin prospektif nantinya,” kata Atun. (cr1/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia