Minggu, 25 Jun 2017
Kesehatan

Gendongan Pembangun Bonding

Rabu, 19 Oct 2016 22:06 | editor : fimjepe

SETUMPUK MANFAAT: Para ibu memilih menggendong anaknya daripada membaringkannya di stroller.

SETUMPUK MANFAAT: Para ibu memilih menggendong anaknya daripada membaringkannya di stroller. (Angger Bondan/Jawa Pos-Yohana for Jawa Pos)

JawaPos.com- Pada 5–12 Oktober lalu, dunia merayakan International Baby Wearing Week alias Pekan Menggendong Bayi Internasional. Komunitas Indonesian Babywearers (IBW) turut menyambutnya. Sepenting apa sih menggendong sampai ada harinya?

Adalah Yohana Habsari yang menggagas berdirinya IBW. Dia merasa sedih melihat bayi-bayi yang ditemuinya lebih lama berada di stroller ketimbang di pelukan ayah dan ibunya. Padahal, kontak fisik berupa pelukan dan gendongan pada usia dini berperan besar terhadap relasi orang tua dan anak.

Yohana juga sangat akrab dengan aktivitas menggendong bayi. Perempuan 36 tahun itu memiliki pengalaman panjang dalam menggendong buah hatinya, Sarah, 5, dan Beatrice, 3. ’’Saya tidak pakai stroller. Selain karena lebih intim dengan menggendong, tempat-tempat di Indonesia kurang ramah stroller dengan banyaknya undakan atau tangga,’’ ujar Yohana ditemui di rumahnya di daerah Pucang, Surabaya.

Di luar negeri, sudah ada komunitas ibu penggendong bayi. Yohana pun bergabung dengan mereka yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Australia. ’’Cukup mudah menemukan komunitas penggendong bayi di Facebook,’’ kata perempuan yang bekerja sebagai wirausaha tersebut.

Saat sharing di grup tersebut, Yohana menemui beberapa orang Indonesia meski tidak banyak. Berbekal itu, dia lantas berinisiatif membentuk komunitas menggendong di Indonesia. Pada 2013, IBW terbentuk. ’’Anggota kami tersebar di Jawa, Sulawesi, Bali, Batam, Sumatera, Papua, hingga Malaysia,’’ jelas Yohana.

Ibu pekerja, ibu rumah tangga, hingga para ayah pun tergabung dalam grup tersebut. Yohana dan anggota lain aktif menambah jumlah anggota. Saat ini ada lebih dari seribu anggota yang aktif di grup Facebook IBW. ’’Awalnya, kami pakai fanpage. Namun, karena adminnya sudah tidak aktif, kami sekarang memilih sistem grup, blog, dan Instagram,’’ terangnya.

Dokter Astri Pramarini IBCLC yang sekaligus anggota dan admin di IBW makin paham esensi menggendong setelah bergabung dengan komunitas tersebut. Ketika ditemui untuk sesi wawancara pada Rabu siang (12/10), Astri terlihat selalu menggendong atau memangku putra semata wayangnya, Abdurrahman alias Maman, 1. ’’Sebisa-bisanya saya gendong. Maman lebih nyaman. Saya juga lebih dekat sama dia,’’ katanya.

Menurut Astri, menggendong merupakan salah satu parenting tools yang efektif dalam memperkuat hubungan ibu dan anak. Menggendong menjadi sarana agar bonding dengan anak makin kuat selain menyusui. Selain itu, menggendong bermanfaat untuk perkembangan psikologis buah hati.

Dengan sering digendong dan merasakan kontak fisik bersama orang tuanya, anak akan tumbuh menjadi sosok yang mudah percaya diri dan merasa aman. ’’Dia bakal belajar bahwa di dunia ini akan selalu ada orang tua yang melindungi dan menyayangi dia,’’ papar istri dr M Rizal SpA IBCLC tersebut.

Sebelum hamil dan melahirkan, Astri mencari tahu tentang pentingnya menggendong anak. Sebelumnya, saat menjadi ketua AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Jawa Timur, Astri punya banyak kenalan sesama ibu yang gemar menggendong anaknya. ’’Dari mereka, saya juga mulai tahu manfaat menggendong,’’ ucap Astri.

Suatu ketika, ketika mengikuti seminar menyusui di Luang Prabang, Laos, Astri kagum dengan cara ibu-ibu di sana menggendong anak. Di Laos, ibu-ibu yang berdagang di pasar malam tetap menggendong anaknya yang diikatkan ke tubuh dengan semacam kain bebat. ’’Kain itu dibuat saat sang ibu sedang hamil sebagai bentuk persiapan menyambut anak,’’ ungkap Astri.

Berdasar pengalamannya, menggendong turut membantu tumbuh kembang anak secara fisik. Astri melahirkan Maman secara prematur. ’’Dia bisa saja mengalami pertumbuhan yang lambat. Tapi, setelah sering saya gendong, Maman bisa tumbuh normal,’’ ujarnya. ’’Faktanya, bayi yang digendong memang tumbuh lebih optimal daripada yang hanya dibiarkan berbaring atau pasif,’’ tandasnya. (len/c14/ayi)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia