Minggu, 26 Mar 2017
Ekonomi

Pasar Eropa Masih Favorit, Tiga Industri Kayu Rintis Ekspor

Rabu, 19 Oct 2016 10:07

Komoditas Ekspor yang Dominan di Kota Pudak

Komoditas Ekspor yang Dominan di Kota Pudak (Grafis: Andrew/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Jumlah eksporter dari sektor perkayuan bertambah. Tiga industri kayu telah merintis ekspor pada semester II tahun ini. Mereka membidik pasar Eropa untuk mendulang keuntungan.

Berdasar catatan Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan, dan Perindustrian (Diskoperindag) Gresik, tiga industri tersebut masih berskala menengah.

Mereka memiliki modal di bawah Rp 10 miliar. Nilai ekspor ketiga industri mencapai USD 297.242.

’’Saya lihat di catatan, sektor perkayuan memang kuat. Selain perusahaannya banyak, setiap tahun banyak yang masuk ke pasar luar negeri,’’ ungkap Kepala Diskoperindag Gresik M. Najikh, Selasa (18/10).

Dia menambahkan, tahun lalu ada lima perusahaan di sektor tersebut yang juga merambah pasar luar negeri. Nilai ekspornya mencapai USD 450.000.

Pasar Eropa tetap menjadi favorit. Najikh menyatakan, ketertarikan industri tidak terlepas dari permintaan masyarakat barat. Warga Eropa menyukai produk olahan kayu dari Indonesia.

Termasuk hasil mebel. ”Karena itu, ekspor ke negara tersebut juga tinggi,” paparnya. Dia tak menampik, jumlah perusahaan yang ekspor melalui Gresik memang masih kecil.

Sebagian industri masih mengurus izin di Surabaya. Selain Pelabuhan Tanjung Perak, faktor lainnya adalah persoalan geografis.

Banyak perusahaan di Kota Pudak yang lokasinya lebih dekat dengan Kota Pahlawan. ’’Meski begitu, kami tak diam. Buktinya, jumlah ekspor yang lewat kantor (Diskoperindag Gresik, Red) terus bertambah,’’ katanya.

”Bahan minyak goreng juga masih urutan teratas grafis ekspor. PT Wilmar Nabati Indonesia masih menjadi pengirim produk minyak terbesar,” lanjutnya. Najikh menilai, pertumbuhan ekspor dipengaruhi posisi Kota Pudak.

Gresik merupakan satu di antara empat daerah di Jatim yang diberi kesempatan untuk menerbitkan surat keterangan asal (SKA) Indonesia sebagai syarat ekspor. Faktor lainnya adalah pelabuhan baru yang berada di kawasan Manyar.

Sebelumnya, pemkab memetakan sedikitnya 450 industri yang berpotensi masuk ke pasar internasional. Perusahaan berada pada skala menengah. Modalnya Rp 500 juta–Rp 10 miliar.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Gresik Tri Andhi Suprihartono menyatakan, perusahaan pengekspor kayu memang masih banyak.

Namun, secara kuantitas, jumlah barang yang dikirim terus menurun. Salah satunya disebabkan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan persaingan pasar.

’’Susahnya, sebagian industri kayu masih menggantungkan pasar luar daerah. Meski, mereka kami nilai cukup kreatif,’’ katanya.

Lelaki kelahiran Probolinggo itu mencatat ada 20 industri besar yang bergerak di perkayuan. Mereka tidak hanya mengolah kayu, tetapi ada juga yang beraktivitas sebagai tenaga penyalur barang saja. (hen/c21/ai/sep/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia