Senin, 24 Apr 2017
Sepakbola Indonesia

Skenario Jika Edy Rahmayadi atau Moeldoko Terpilih Jadi Ketum PSSI

Selasa, 18 Oct 2016 12:50

Diyakini, hanya dua nama yang paling berpeluang menjadi ketum PSSI.

Diyakini, hanya dua nama yang paling berpeluang menjadi ketum PSSI. (WAHYUDIN/JAWA POS)

JawaPos.com - Sembilan nama sudah lolos verifikasi sebagai calon ketua umum PSSI periode 2016-2020. Namun, diyakini hanya ada dua sampai tiga nama yang paling berpeluang, yakni Edy Rahmayadi, Moeldoko, dan Erwin Aksa. Apalagi, ada skenario yang sudah disiapkan jika salah satunya terpilih sebagai ketum baru PSSI.

Tak dimungkiri, dari total sembilan kandidat, tiga orang tersebut yang paling menonjol melakukan kerja politik untuk memenangkan pertarungan kursi nomor satu PSSI itu. 

Menariknya lagi, peta persaingan kandidat mulai mengerucut hanya ke dua nama saja, Edy Rahmayadi dan Moeldoko. Bahkan, agar bisa memenangi pertarungan, kedua kandidat sudah melakukan simulasi kepengurusan dengan menggaet para tokoh-tokoh sepak bola nasional yang bisa menjadi magnet dukungan dari voters.

Edy misalnya, sudah punya jagoan yang dianggap pantas menjadi mitra di kepengurusannya. Mereka adalah Direktur PT. Liga Indonesia dan juga PT. Gelora Trisula Semesta, Joko Driyono, serta CEO Arema Cronus Iwan Budianto, sebagai calon wakil ketua umum. “Paket itu sudah harga mati,” kata G.H Sutejo, sekretaris Kelompok (K)-85. 

Sebagaimana diketahui, K-85 adalah sebutan dari aliansi mayoritas voters yang berjumlah 85 dari total 107 pemegang hak suara. Mereka sejak awal memang sudah berkomiten untuk mendukung Edy menjadi ketua umum PSSI yang baru. Hanya saja, lanjut Sutejo, itu hanya berlaku bagi pasangan ketua dan wakil ketua.

Mengenai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, pria yang juga Asosiasi Pelatih Seluruh Indonesia (APSI) itu mengatakan belum ada kesepakatan bersama untuk itu. 

“Kalau untuk Exco masih persaingan bebas. Artinya siapa saja berpeluang untuk menang, itu tergantung kepiawaian masing-masing calon untuk menarik simpati dari voters,” tambahnya.

Kuasa hukum K-85, Gusti Randa mengatakan, kemenangan Edy Rahmayadi dalam persaingan menuju ketua umum PSSI itu sudah tidak bisa dibendung lagi. 

Sebab, jumlah voters yang bergabung tidak hanya 85, melainkan sudah 94 voters. Apalagi, manuver yang dilakukan oleh kelompok Moeldoko adalah mendekati member PSSI.

“Pendekatan yang dilakukan oleh tim Moeldoko selama ini hanya kepada anggota PSSI, bukan kepada voters. Padahal, members PSSI itu ada tujuh ratusan,” kata Gusti. 

“Kandidat lain memang berusaha mencari dukungan dari K-85, namun tidak bisa tembus. Karena kami memang sudah solid. Gerakan yang kami bangun ini sudah sangat matang dan lama,” tambah pria yang digadang gadang sebagai salah satu anggota Exco PSSI kepengurusan Edy itu.

Lain Edy, lain pula Moeldoko. Dia juga sudah punya skenario sendiri yang tidak kalah kuat. Mantan Panglima TNI itu sudah menggandeng Erwin Aksa, salah satu pengusaha muda asal Makassar sekaligus calon Ketua Umum PSSI untuk masuk dalam gerbongnya sebagai kandidat wakil ketua. 

Selain Erwin, ada juga Dodi Alex Noerdin, Presiden Sriwijaya FC yang dibidik untuk posisi itu.

Erwin Aksa tidak membantah kabar adanya negosiasi jabatan antara dia dengan Moeldoko tersebut. Menurutnya, selama ini komunikasi dia dengan Moeldoko memang berjalan lancar. “Kami memiliki semangat dan paradigma yang sama untuk membangun sepak bola tanah air,” ujar Erwin. 

Meski begitu, wakil presiden PT. Semen Bosowa Maros tersebut mengungkapkan bahwa, niat dia untuk bertarung dalam bursa perebutan kursi nomor satu otoritas tertinggi sepak bola tanah air itu tidak surut.

“Karena nama saya masih terdaftar sebagai calon ketua umum, dan saya tetap konsisten untuk bertarung dan menang,” timpalnya. (ben/ira/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia