Sabtu, 21 Jan 2017
Properti

Penurunan Uang Muka Dorong Daya Beli Rumah, Pengembang Khawatir Harga Tanah Naik

Sabtu, 15 Oct 2016 08:06

Wilayah yang Menjadi Basis Pertumbuhan Properti

Wilayah yang Menjadi Basis Pertumbuhan Properti (Grafis: Andrew/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Antusiasme warga menyambut penurunan uang muka kredit pemilikan rumah (KPR) dirasakan oleh para pengembang perumahan.

Mereka pun mulai menyiapkan langkah untuk memenuhi permintaan tersebut.

’’Kami merasakan ada kenaikan minat untuk membeli rumah. Meskipun masih kecil,’’ ungkap pengurus harian Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman (Apersi) Gresik Koko Wijayanto.

”Kebijakan penurunan uang muka paling terasa di kalangan pengembang dengan skala besar. Terutama pengembang yang memiliki produk di atas Rp 200 juta,” lanjutnya.

Koko mengakui, penurunan uang muka KPR menjadi senjata baru pengembang. Pengusaha properti menyambut positif kebijakan tersebut. Meski dia mencatat ada yang hal perlu digarisbawahi.

Pertama, kebijakan tersebut akan berdampak pada pergerakan harga tanah. Pasalnya, nilai lahan saat ini sudah mahal. ”Harga tanah menjadi salah satu kendala untuk membangun rumah murah,” terangnya.

Kondisi tersebut sudah berlangsung pada kawasan yang menjadi basis-basis properti. Beberapa lahan yang diplot perumahan terus melejit. Di antaranya, Bungah, Gresik Kota, Kebomas, Cerme, dan Menganti.

’’Pemantauan terhadap pergerakan harga tanah cukup penting. Harga seharusnya tidak menghambat pertumbuhan bisnis,’’ tambah Koko.

Pendapat Koko sejalan dengan langkah Pemkab Gresik. Saat ini pemkab tengah berupaya merumuskan satu aturan terkait harga tanah. Mereka mengebut pembuatan zona nilai tanah (ZNT).

Berdasar informasi yang dikumpulkan, ZNT terakhir di-update pada 2009. Pemkab Gresik berharap penurunan uang muka KPR bisa memicu masuknya investasi properti.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Hingga saat ini, permohonan izin proyek perumahan terus mengalir.

Badan penanaman modal dan perizinan (BPMP) mencatat, sedikitnya 38 izin proyek baru pembangunan perumahan masuk pada Januari–September tahun ini.

Nilai investasinya mencapai Rp 408,6 miliar. Jumlah itu diprediksi masih terus bertambah.

’’Yang datang tidak hanya pengembang baru. Ada yang masih baru memulai bisnis properti,’’ ungkap Kepala Bagian Perizinan dan Investasi BPMP Gresik Farida Haznah Ma’ruf.

Luas lahan yang diajukan pengembang memang beragam. Kisarannya rata-rata 3.000 meter persegi. ”Saya optimistis penanaman modal di sektor properti bakal terus melejit,” katanya. (hen/c6/ai/sep/JPG)

 TOP
©2016 PT Jawa Pos Group Multimedia