Jumat, 20 Jan 2017
Properti

Uang Muka Turun, Realisasi KPR Naik

Jumat, 14 Oct 2016 17:06

Seputar Penggunaan Dana KPR Perbankan

Seputar Penggunaan Dana KPR Perbankan (Grafis: Bagus/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Penurunan uang muka kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi 15 persen disambut positif oleh masyarakat maupun pengembang.

Kebijakan tersebut membuat bisnis properti di Kota Pudak mulai merangkak naik. Pertumbuhan penjualan perumahan tampak dari realisasi KPR di perbankan.

Permohonan kredit rumah mengalami kenaikan signifikan. Misal, KPR di Bank BTN Kantor Cabang Gresik. Lembaga keuangan itu mencatat adanya pertumbuhan KPR sejak kebijakan digulirkan pada September lalu.

’’Kami mendata, realisasi KPR mencapai Rp 29 miliar pada Agustus. Jumlah tersebut bertambah Rp 13 miliar pada September,’’ ungkap Branch Manager Bank BTN Kantor Cabang Gresik Iwan Purwanto saat ditemui di kantornya Kamis (13/10).

Lelaki itu memprediksi, pertumbuhan KPR bakal melejit. Iwan tidak menampik, antusias masyarakat menyambut kebijakan itu memang tinggi. Terutama kalangan pekerja industri.

Mereka mendominasi permohonan kredit hunian. Adapun nilai kredit beragam. Nilai peminjaman rata-rata Rp 250 juta–Rp 350 juta.

Dana pinjaman setara dengan pembelian rumah berskala menengah. Misal, rumah tipe 36 atau 72. ’’Selain pekerja industri, karyawan BUMN dan PNS juga antusias,’’ ungkap Iwan.

Meski ada lonjakan nilai KPR, lelaki asal Sragen itu menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak memengaruhi target kantornya. Tahun ini BTN didorong mengeluarkan KPR minimal Rp 361 miliar.

Dana KPR itu digunakan untuk pembangunan rumah bersubsidi dan nonsubsidi. Alokasinya, Rp 57 miliar diperuntukkan masyarakat berpenghasilan rendah.

Sisanya dimanfaatkan untuk pembangunan rumah komersial dengan sasaran masyarakat kelas menengah ke atas. BTN mencatat, saat ini ada 50 pengembang yang memanfaatkan KPR untuk bisnis properti di Gresik.

Anggota Bidang Perumahan Menengah dan Besar DPD Realestat Indonesia (REI) Jatim Achmad Z. Arief menuturkan, saat ini para pengembang mulai mengubah strategi pemasaran.

Mereka bersemangat menggenjot penjualan. Penurunan uang muka menjadi senjata ampuh.

’’Kami optimistis dengan kebijakan tersebut. Meski saat ini dampaknya belum terasa secara maksimal,’’ katanya. Lelaki itu berharap dampak penurunan uang muka tidak sampai lama.

Pasalnya, developer juga membutuhkan modal untuk menggenjot konstruksi. Mereka perlu menambah stok penjualan. (hen/c6/ai/sep/JPG)

 TOP
©2016 PT Jawa Pos Group Multimedia