Selasa, 30 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Ekonomi

Likuiditas Terpantau Normal, OJK Dorong Intermediasi Perbankan

Jumat, 14 Oct 2016 11:05 | editor : Mochamad Nur

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok JPNN)

JawaPos.com -  Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  menilai kondisi stabilitas sektor jasa keuangan  dalam kondisi yang normal,  di tengah beberapa indikator kinerja sektor jasa keuangan yang perlu dicermati lebih mendalam.

"Kondisi likuiditas dan permodalan lembaga jasa keuangan (LJK)  yang cukup baik perlu dioptimalisasi untuk mendukung penguatan fungsi intermediasi," ujar Plt Deputi Komisioner Manajemen Strategis OJK  Slamet Edy Purnomo dalam rilisnya di Jakarta, Jum'at (14/10). 

Likuiditas dan permodalan LJK  berada pada level yang baik dan dinilai  cukup memadai untuk membiayai ekspansi kredit.  Ini terlihat dari posisis Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan per Agustus 2016 mencapai 23,26%.

Namun,  OJK masih memantau fungsi intermediasi lembaga jasa keuangan (LJK) yang belum tumbuh cepat. 

Pertumbuhan kredit perbankan per Agustus 2016 tercatat sebesar 6,83% yoy atau turun dari pertumbuhan kredit pada Juli 2016 di level 7,74%. 

Pelemahan pertumbuhan kredit ini,  terutama didorong oleh kontraksi kredit dalam valuta asing (valas)  sebesar 11,76% yoy yang sejalan dengan kinerja eksternal yang masih lemah. Kredit Rupiah masih tumbuh baik di level 10,70%.

Risiko kredit LJK terpantau masih relatif tinggi. Rasio non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 3,22%, meningkat dibanding posisi Juli 2016 sebesar 3,18%, sedangkan NPF tercatat relatif stabil pada level 2,22%.

Sementara pasar saham,  secara year to date, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  telah menguat sebesar 16,8%.  

Sejalan dengan pasar saham, pasar Surat Berharga Negara (SBN) terpantau menguat yang tercermin dari penurunan yield di semua tenor. 

Rata-rata yield jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang turun masing-masing sebesar 6 bps, 11 bps, dan 9 bps. 
Pada September 2016, Investor Nonresiden SBN mencatatkan net buy yang cukup signifikan sebesar Rp16,9 triliun.(nas/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia