Minggu, 23 Apr 2017
Ekonomi

Investasi PLTN Butuh Rp 70 Triliun, Jepara dan Bangka Memungkinkan

Rabu, 12 Oct 2016 07:48

Ilustrasi

Ilustrasi (dok.reuters)

JawaPos.com - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan salah t alternatif untuk pengembangan energi nasional. Namun, hingga saat ini pemerintah belum memutuskan untuk membangun pembangkit listrik tersebut.

Kepala Badan Tenaga Listrik Nasional (Batan) Djarot S Wisnubroto memperkirakan kebutuhan dana untuk membangun satu unit PLTN sekitar Rp 70 triliun.

"Untuk membangun bangun PLTN, mengacu  Uni Emirat Arab itu membutuhkan Rp 70 triliun untuk 1 PLTN berdaya 1.400 MW," kata dia seperti dikutip Indopos, Rabu (12/10).

Dia mengatakan, harga jual listrik dari PLTN cukup kompetitif. Hal itu berdasarkan perhitungan PT PLN."Harga listrik PLN pernah hitung 6-8 sen dolar per kwh jadi mungkin cukup kompetitif," tambah dia. 

Dia menerangkan, terkait kesiapan membangun PLTN, Indonesia telah memiliki modal. Beberapa perguruan tinggi  memiliki pembelajaran soal nuklir, seperti  Universitas Gadjah Mada (UGM), Intitut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Indonesia (UI).

Terkait wilayah,  Batan telah melakukan studi di beberapa daerah Indonesia.  "Yang sudah dilakukan studi tapak itu Jepara dan Bangka. Yang punya keinginan Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Otoritas Batam," imbuh dia.

Dari sisi teknologi, dia menuturkan, Indonesia bisa mengadopsi dari beberapa negara lain yang telah memiliki PLTN. 

"Dari sisi lokasi kita sudah melakukan studi tapak di beberapa lokasi, tinggal pilih mana. Dari sisi teknologi otomatis bisa adopsi Rusia, Jepang, Korea, Tiongkok atau Amerika," tukas dia.

Secara geologis, posisi Indonesia cukup rawan karena berada di jalur 'ring of fire' alias cincin api. Gempa tektonik maupun letusan gunung berapi akrab di wilayah Indonesia.

Djarot menggarisbawahi, jika ingin membangun PLTN, Indonesia harus memilih teknologi yang paling mutakhir, tahan gempa dan tsunami. 

"Kita belajar dari Fukushima. Yang harus kita perhatikan, pilih teknologi yang mampu menghadapi tsunami dan gempa. Kedua, pilih teknologi paling mutakhir," tegasnya.

Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang disusun pemerintah menyebutkan, nuklir adalah sumber energi pilihan paling terakhir yang baru dikembangkan bila sumber-sumber energi lain tidak memungkinkan. (lum/nas/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia