Senin, 27 Feb 2017
Ekonomi

Pemerintah Dorong Kemitraan Industri Olahan Susu dengan Peternak Lokal

Minggu, 09 Oct 2016 21:51

Ilustrasi

Ilustrasi (Pojoksatu.co.id/JPG)

JawaPos.com-  Kementerian Perindustrian mendorong industri pengolahan susu  menjalin kerja sama dengan peternak sapi perah dalam negeri. 

Program kemitraan ini dalam upaya peningkatan daya saing industrinya karena didukung dengan pemenuhan bahan baku susu segar yang berkesinambungan dan berkualitas baik.

”Program kemitraan ini juga  diharapkan memberi manfaat bagi  para peternak,” kata Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto  dalam rilisnya, Minggu (9/10).

Manfaat itu, antara lain pendampingan mengenai manajemen produksi susu, perbaikan sarana dan prasarana produksi, serta peningkatan kualitas dan produktivitas susu yang dihasilkan. 

Hal ini secara langsung akan berdampak pada peningkatan produksi susu dan kesejahteraan peternak sapi perah.

Kemenperin memberi apresiasi kepada PT Nestle  Indonesia  yang mengembangkan program kemitraan dengan  melibatkan sebanyak 27.000 peternak sapi perah di Provinsi Jawa Timur. 

Program ini telah meningkatkan penyerapan produksi susu sebesar 500.000 liter setiap harinya untuk diolah di pabrik susu Kejayan.

Kerja sama ini memungkinkan  peternak  mendapatkan kemudahan akses pasar yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan.

Panggah menyampaikan, kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) untuk susu olahan saat ini sebanyak 3,8 juta ton. Pasokan bahan baku susu segar dalam negeri hanya sekitar 798.000 ton dan selebihnya masih diimpor.

”Ini peluang dan  tantangan bagi usaha peternakan sapi perah di dalam negeri untuk meningkatkan produksi dan mutu susu segar sehingga secara bertahap kebutuhan bahan baku susu untuk industri dapat dipenuhi dari dalam negeri,” ungkap Panggah.

Di samping itu, tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia saat ini rata-rata 12,10 kilogram per tahun setara susu segar. 

Tingkat konsumsi tersebut masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang mencapai 36,2 kilogram per tahun, Myanmar 26,7 kilogram per tahun, Thailand 22,2 kilogram per tahun, dan Filipina 17,8 kilogram per tahun. 

”Masih rendahnya tingkat konsumsi perkapita tersebut, menunjukkan bahwa pasar untuk industri pengolahan susu ini masih sangat terbuka," papar Panggah.(nas/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia