Minggu, 26 Mar 2017
Finance

Keuangan Syariah Diyakini Bisa Jadi Solusi Pembangunan Berkelanjutan

Minggu, 09 Oct 2016 15:24

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad (Dok JPNN)

JawaPos.com - Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad menyebut  Keuangan Syariah bisa jadi  solusi dunia dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

“Prinsip-prinsip  keuangan syariah yang memihak pada pemerataan pendapatan  menjadikan pengembangan sistem keuangan syariah sangat relevan dengan pencapaian target-target SDGs,” kata Muliaman dalam rilisnya di Jakarta, Minggu (9/10).

Dia  menyampaikan ini  saat jadi pembicara dalam Seminar Keuangan Syariah di Washington DC, Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh World Bank dan Islamic Financial Services Board, Jumat (7/10).

Keuangan syariah, menurutnya,  tidak hanya bisa menjangkau aspek pemberantasan kemiskinan, tetapi juga mencakup peningkatan kesehatan,  pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, serta  penurunan tingkat ketimpangan tingkat pendapatan.

OJK sebagai otoritas sektor jasa keuangan di Indonesia terus mendorong perkembangan sektor keuangan syariah maupun  pasar modal syariah.

Share industri perbankan syariah terhadap industri perbankan nasional menunjukkan meningkat dari 4,60% di Juli 2015 menjadi 4,81% di Juli 2016. 

Sejalan dengan perkembangan share tersebut, terjadi kenaikan aset perbankan syariah  sebesar 18,49% (YOY), dari Rp272,6 triliun (Juli 2015) menjadi Rp305,5 triliun (Juli 2016). 

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya penghimpunan dana pihak ketiga sebesar 12,54% (YOY), dari Rp216 triliun (Juli 2015) menjadi Rp243 triliun (Juli 2016) yang selanjutnya telah mendorong penyaluran pembiayaan tumbuh sebesar 7,47% (YOY), dari Rp204,8 triliun (Juli 2015) menjadi Rp220,1 triliun. 

Sementara untuk pasar modal syariah, persentase nilai masing-masing efek syariah dari total efek per tanggal 23 September 2016 adalah sebagai berikut, saham syariah sebesar 55,97%, sukuk korporasi sebesar 3,88%, reksa dana syariah sebesar 3,76% dan sukuk negara sebesar 15,08%.

Muliaman menyampaikan bahwa pasar modal syariah juga bisa berperan signifikan dalam membantu pembiayaan proyek-proyek infrastruktur pemerintah, terutama melalui pengembangan pasar sukuk.

Total aset industri perbankan syariah di Indonesia saat ini mencapai sekitar USD 23 miliar dengan sekitar 19,5 juta nasabah.(nas/JPG) 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia