Minggu, 26 Mar 2017
Properti

Terkendala Lahan, Pekerjaan Kereta Cepat Molor

Sabtu, 08 Oct 2016 11:51

Ilustrasi

Ilustrasi (Pixabay.com)

JawaPos.com - Setelah sempat dilakukan peletakan batu pertama oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 21 Januari 2016, pelaksanaan pekerjaan proyek kereta cepat Jakarta Bandung molor. Hal itu disebabkan oleh pembebasan lahan, perizinan, dan pendanaan yang terkendala.

Direktur PT KCIC Dwi Windarto mengungkapkan, pihaknya sedang menyiapkan pengerjaan konstruksi besar di beberapa lokasi kerja, terutama di sekitar jalan bebas hambatan Jakarta-Cikampek.

Rute ini termasuk dalam terase KA cepat sepanjang 142,3 km yang membentang dari Halim (Jakarta Timur) hingga Tegalluar, Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

”Beberapa lokasi kerja KA cepat dalam progres persiapan. Sebagaimana bisa dilihat adanya pemagaran pada beberapa ruas di jalan tol. Target pekerjaan besar dimulai pada Oktober atau November ini,” kata Windarto dalam siaran persnya yang dilansir Indopos (Jawa Pos Group), Sabtu (7/10).

Sebagaimana diketahui, proyek kereta cepat ini dikerjakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), perusahaan patungan BUMN Indonesia dan BUMN Tiongkok. Proyek raksasa ini menelan biaya senilai USD 5,1 miliar

Perusahaan patungan itu menargetkan konstruksi besar prasarana kereta api (KA) cepat atau high speed railway (HSR) Jakarta-Bandung mulai dibangun pada Oktober-November ini.

Terpisah, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan, pihaknya sudah memberikan izin pembangunan KA cepat. Dengan demikian, KCIC bisa melakukan pembangunan prasarana HSR tersebut.

"Kemenhub saya pikir tugasnya sudah selesai. Kami sudah memberikan izin. Ini tinggal berkoordinasi saja dengan para investor maupun Kementerian BUMN, kapan proyek itu dimulai. Saya pikir sedang dipersiapkan," tutur Budi.

Pembangunan KA cepat Jakarta-Bandung ditaksir menelan dana investasi USD 5,1 miliar.

Dari jumlah itu, 25 persen ditanggung PT KCIC yang merupakan perusahaan patungan antara konsorsium empat BUMN nasional, yakni PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga, PT KAI, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII), dengan konsorsium BUMN Tiongkok.

Keempat BUMN nasional itu tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan porsi kepemilikan saham di KCIC sebesar 60 persen.

Adapun 75 persen dana pembangunan HSR Jakarta-Bandung bakal memanfaatkan pinjaman China Development Bank (CDB). (ers/iil/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia