Minggu, 20 Aug 2017
Ekonomi

Nasib Produsen Kain Batik Lokal di Tengah Banjir Produk Impor

Minggu, 02 Oct 2016 20:18 | editor : Mochamad Nur

Salah satu pedagang batik di Pusat Perbelanjaan Thamrin City, Jakarta

Salah satu pedagang batik di Pusat Perbelanjaan Thamrin City, Jakarta (Riska Dani/JPG)

JawaPos.com – Semangat pemerintah untuk memajukan para perajin dan pedagang kain batik masih terganjal dengan persaingan produk impor.  Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) membuka keran produk impor membanjiri pasar Indonesia.

Kondisi ini dikeluhkan produsen  kain batik nasional. Mereka harus ulet dan tekun untuk bersabar menghadapi persaingan dengan produk impor. 

Diketahui, produk impor asal Tiongkok menjadi salah satu pesaing yang dikeluhkan produsen batik lokal.

“Kalau produk impor dari Tiongkok itu kan gulungan hanya motif batik yang diaplikasikan. Beda dengan kain batik tulis asli Indonesia yang memang pakai proses pembuatannya,” kata Wulan pengelola Liani Batik di Thamrin City, Jakarta, Minggu (2/10).

Persaingan tidak hanya soal kuantitas dan corak tetapi juga soal harga. Produk impor dinilai masyarakat lebih murah ketimbang produk lokal.

“Masyarakat bilang kain kita lebih mahal, impor berani jauh lebih murah,” tukasnya.

Wulan menuturkan harga batik tulis umumnya mencapai jutaan rupiah karena membutuhkan proses yang lama dan modal yang tidak sedikit. 

Ia juga mengungkapkan bahwa  batik yang ditenun kualitasnya jauh lebih bagus. Pengunjung biasanya paling banyak membeli kain batik Pekalongan dan Cirebon di tokonya.

“Kami berharap di Hari Batik Nasional membuat masyarakat lebih cinta produk Indonesia. Agar lebih menghargai kain asli tanah air yaitu batik. Mungkin selama ini masih kurang penyuluhan atau sosialisasi,” tandasnya. (cr1/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia