Jawa Pos Logo

Bola Kristal di Ruang Sidang

SEKIAN banyak ahli telah dihadirkan di persidangan dengan Jessica selaku terdakwanya. Termasuk ahli psikologi. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan adanya kondisi kejiwaan tertentu pada diri terdakwa.

Pertanyaannya, apakah kondisi kejiwaan tersebut pasti akan muncul dalam bentuk perilaku? Lebih spesifik; karena konstruksi penalaran yang dibangun oleh ahli tersebut adalah memberatkan terdakwa, maka apakah temuan tentang kondisi kejiwaan terdakwa tersebut merupakan informasi penguat bahwa terdakwa memang sudah diduga akan melakukan aksi kriminal? Dia sudah jahat dari ’’sana’’-nya?

Ada pandangan awam, bahkan kalangan hukum pun menaruh ekspektasi serupa, bahwa para ahli psikologi (dan psikiatri) mampu meramal perilaku seseorang di masa depan. Seberapa jauh sesungguhnya kemampuan ilmu psikologi dan psikiatri dalam membuat ramalan tersebut? Bukankah perilaku merupakan sesuatu yang kompleks untuk diramalkan?

 

Dinamis, Majemuk

Dulu, gangguan kejiwaan manusia dipandang sebagai kelainan pada aspek kepribadian dan perilaku semata. Dengan kata, gangguan kejiwaan berada pada dimensi psikologi, tanpa masalah pada dimensi faali. Namun, studi-studi tentang otak, terlebih seiring perkembangan teknologi pindai otak, mengubah pandangan terdahulu tersebut. Kini diketahui, tidak hanya pada dimensi psikologi, gangguan kejiwaan pun mempunyai penanda pada otak penderitanya.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA