Kamis, 24 Aug 2017
Opini

Wabah Anti-Intelektualisme

Oleh: Zen R.S.*

| editor : 

Zen R.S.

Zen R.S. (Jawa Pos Photo)

Anti-intelektualisme adalah pandangan, sikap, dan tindakan yang merendahkan ide-ide, pemikiran, kajian, telaah, riset, diskusi, hingga debat. Dalam rumusan Richard Hofstadter, anti-intelektualisme diindikasikan dengan perendahan, purbasangka, penolakan, dan perlawanan yang terus-menerus, ajek, serta konstan terhadap dunia ide dan siapa pun yang dianggap menekuninya. Turunan dari hal itu adalah syak wasangka yang akut terhadap filsafat, sains, sastra, dan seni – pendeknya: mencurigai teori.

Kita sering menjumpai ejekan semacam ”ah, teori”, ”cuma bisa ngomong teori doang”. Ejekan semacam itu mencerminkan sikap anti-intelektualisme. Dalam konteks Indonesia, ejekan semacam itu tidak datang tiba-tiba. Ada prakondisi yang memungkinkan ejekan semacam itu tumbuh subur.

Secara etimologi, teori meniscayakan kesediaan mempertimbangkan, berspekulasi, menggugat, dan mempersoalkan (dari kata theoria dan theorein dalam Yunani). Dalam ilmu pengetahuan, teori selalu merupakan agregasi tiada henti dari berbagai fakta, beragam hipotesis, yang satu sama lain saling berdialog dan kadang bertarung, sampai kemudian disepakati sebuah rumusan. Dalam perjalanannya, setiap rumusan juga akan menghadapi tantangan dari fakta-fakta baru, konteks-konteks baru, temuan baru.

Teori sulit lahir dari para ”pemeluk teguh”, yang memandang kebenaran sebagai iman yang diterima tanpa syarat. Teori kurang cocok dengan mereka yang terobsesi pada mufakat. Diskusi-diskusi dicurigai, kajian-kajian yang tidak lazim hingga debat di parlemen sekalipun dihalangi dan dibatasi. Jangan heran jika Soeharto selalu menjadi presiden secara aklamasi. Sebab, mufakat adalah keutamaan dan ketidaksetujuan sebagai tidak berkepribadian Timur.

Dengan sendirinya budaya debat tidak tumbuh. Dan yang paling berbahaya: kritik dihambat. Macam-macam caranya: mulai interogasi, kemudian ditangkap, diadili, dan akhirnya dipenjara –hingga klise berbunyi ”kritik harus bertanggung jawab”, ”kritik harus disertai solusi”. Siapa pun yang mengkritik tapi tak disertai solusi sering diledek, ”Ah, teori!”

Teori, juga aktivitas mempelajari dan menelaah teori, dianggap sebagai hal yang tidak praktis, mengawang-awang, ndakik-ndakik, tidak membumi, dan tak memberikan dampak apa pun bagi kehidupan. Teori sering direndahkan sebagai mimpi basah para pelamun, takhayul lama yang tak berguna, karena para resi sudah turun dari lereng gunung, dan empu bisa diciptakan hanya dalam tujuh semester (minus kuliah kerja nyata, bahkan di banyak kampus bisa tanpa skripsi).

Jangan heran jika atmosfer akademik di perguruan tinggi dirancang atau dikondisikan untuk meluluskan mahasiswa dalam empat tahun, jika perlu lebih cepat. Tak perlu berlama-lama di kampus. Bacalah diktat, jangan bacaan aneh-aneh. Diskusikan saja tema-tema yang ada dalam silabus. Yang pasti-pasti saja: kuliah, kerjakan tugas dosen, wisuda, kemudian bekerja di perusahaan-perusahaan mapan atau jadi PNS.

Ijazah, dan turunannya yang bernama sertifikat(si), menjadi mantra penjinak nasib (buruk). Ijazah bukan lagi tanda (bahwa seseorang adalah terpelajar), tapi telah menjadi pesan itu sendiri, sudah menjelma kualitas itu sendiri. Siapa yang tak punya ijazah, juga tak tersertifikasi, layak dianggap tak kredibel.

Anti-intelektualisme tidak ada urusannya dengan tingkat pendidikan, juga tidak bergantung pada latar belakang militer atau sipil. Sangat banyak contoh, bisa dimulai dengan menukil fakta-fakta yang disusun Fernando Baez dalam buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, betapa anti-intelektualisme sangat jamak berlangsung di kepala orang-orang yang berpendidikan, juga di kalangan sipil.

Hoax tersebar dengan luas dalam kecepatan tak terhingga. Tautan sebuah tulisan/berita disebarkan hanya karena judulnya. Politikus diserang karena lingkar perutnya atau karena warna kulitnya. Video ceramah pendakwah dibagikan jutaan kali hanya karena lidahnya licin membantah Darwin. Serial kultwit dijadikan bahan untuk berdebat seakan telah membaca sebuah jurnal ilmiah yang disunting editor profesional dan diperiksa para pembaca ahli sekelas para profesor.

Segenap perilaku macam itu berlangsung dengan masif, seakan hal biasa saja. Namun sesungguhnya merupakan bentuk tak kasatmata dari anti-intelektualisme. Sekaligus bersepupu dengan aksi konkret seperti pembakaran buku, pembubaran paksa diskusi, atau pementasan teater oleh aparat bersenjata.

Anti-intelektualisme di tubuh militer Indonesia terasa lebih berbahaya karena mereka memegang bedil. Dengan bedil, dan keterampilan fisik yang terlatih, juga legitimasi politik, militer bisa tak terhentikan ketika bertindak anti-intelektualis. Seperti yang dilakukan Kodam Siliwangi kala membubarkan lapak Perpustakaan Jalanan akhir Agustus lalu.

Situasinya menjadi lebih mudah bagi militer karena, tidak bisa tidak, mereka tak sendirian berdiri di bawah payung anti-intelektualisme. Militer ada di medan energi yang sama dengan khalayak dalam soal anti-intelektualisme ini. Pembubaran diskusi buku-buku kiri oleh militer, misalnya, menjadi dimudahkan karena mendapatkan legitimasi sosial dari khalayak yang masih juga tidak mau peduli dengan temuan-temuan terbaru soal 1965 yang membantah pandangan Orde Baru.

Politik Indonesia hari ini bukan seperti ketika Sjahrir menentang bandul politik Soekarno-Hatta di awal kemerdekaan dengan menerbitkan pamflet Perdjoeangan Kita. Juga bukan lagi zaman ketika Tan Malaka, di dalam penjara, menulis buku tipis berjudul Thesis, yang kemudian dibantah Alimin dengan buku tipis berjudul Analysis. Ini zaman ketika Wali Kota gaul Ridwan Kamil mempromosikan jenderal sebagai calon presiden dengan alasan wajah yang ganteng. Saat seorang gubernur disukai karena berani marah-marah kepada anak buahnya. Ketika seorang presiden didukung habis-habisan sebagai representasi wong cilik hanya karena merayap dari bawah sebagai tukang mebel –sekaligus dihinakan karena wajah ibunya dianggap terlalu muda untuk menjadi ibu kandungnya.

Kita sedang hidup di lingkungan anti-intelektualisme dan ini menjadi alasan yang sangat kuat untuk waspada agar tak terjerembap pada lubang serupa. Sebab, kadang seseorang tidak tahu bahwa dirinya sudah tidak berpikir dengan kritis. Tahu-tahu seseorang, dan semogalah kita tidak termasuk di dalamnya, menjadi pembela sesuatu yang kita tidak tahu persis apa duduk perkaranya. Sebab, sering kali kita merasa sudah berpikir. Padahal, yang bekerja sebenarnya hanyalah favoritisme, subjektivisme, dan pikiran-pikiran ideologis yang dogmatis dan membeku. (*)


*Esais

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia