Senin, 24 Apr 2017
Otomotif

Terbakar di Inggris, Sapu Angin Batal Ikut Lomba

Rabu, 29 Jun 2016 16:00

Mobil sapu angin saat dirangkai dan kondisinya kini setelah terbakar.

Mobil sapu angin saat dirangkai dan kondisinya kini setelah terbakar. (Dipta Wahyu/Jawa Pos dan ITS for Jawa Pos)

JawaPos.com- Kemalangan menimpa tim mobil Sapu Angin 11 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Minggu lalu (26/6) mobil kebanggaan arek ITS itu terbakar saat diturunkan dari mobil ekspedisi menuju arena lomba di lintasan Stadion Olympic, London, Inggris. Akibat insiden tersebut, ITS dipastikan tidak bisa melanjutkan kompetisi.

Rencananya, pada 30 Juni–3 Juli, tim Sapu Angin 11 ITS yang terdiri atas tujuh mahasiswa beserta satu dosen pembimbing mengikuti ajang Divers World Championship (DWC). Lomba yang diselenggarakan Shell Eco-marathon (SEM) tersebut diikuti tim dari tiga benua. Yakni, Asia, Eropa, dan Amerika. ITS menjadi salah satu peserta dari lima tim yang mewakili Asia. Selain ITS, wakil Indonesia yang ikut dalam kompetisi tersebut adalah Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Menurut salah seorang anggota tim, Risky Ardi Wilis Prakoso, kebakaran terjadi saat peti kemas mobil Sapu Angin 11 diturunkan dari truk pengangkut menuju arena lomba. Wilis mengaku mendapat keterangan itu dari panitia saat tim sedang menuju area lomba.

”Kami diberi tahu melalui e-mail oleh panitia lomba bahwa mobil kami terbakar saat akan diturunkan dari truk,” jelas mahasiswa teknik mesin tersebut.

Sontak, kejadian itu membuat semua anggota tim merasa shock. Mereka tidak tahu mengapa insiden tersebut bisa terjadi. Menurut Wilis, akibat kejadian itu, mobil Sapu Angin 11 tersisa mesin dan bodi bagian belakang. Bagian lain hangus tak berbentuk. ”Yang tidak hangus tinggal mesin dan beberapa bagian lain,” ucapnya.

Meski tidak bisa melanjutkan kompetisi, seluruh tim tetap stand by di arena lomba untuk melihat pertandingan. Hal tersebut, menurut dia, berguna bagi tim untuk melihat potensi kekuatan lawan. ”Kami tidak akan pulang. Jalannya pertandingan terus kami pantau sembari menunggu hasil investigasi selesai,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Teknik Mesin ITS Bambang Pramujati menyebutkan, pihak kampus akan melakukan investigasi untuk mengusut kasus itu. ”Rencananya, tim segera berangkat untuk mengecek kondisi mobil di London,” ucap Bambang.

Nanti tim berfokus pada penyebab kebakaran dan solusi yang bisa diambil agar kondisi serupa tidak terulang. ”Kami tidak ingin berspekulasi. Kami akan melakukan investigasi, mulai persiapan, saat dimasukkan dalam peti kemas, pengiriman melalui jasa kargo udara, hingga penurunan di arena lomba,” tuturnya.

Sebelumnya, muncul dugaan bahwa kebakaran itu terjadi karena sabotase oknum tertentu yang ingin menghalangi tim ITS. Sebab, sudah menjadi rahasia umum, mobil rancangan 20 mahasiswa ITS itu menelurkan banyak prestasi yang membanggakan.

Sejak mengikuti kompetisi internasional pada 2010, Sapu Angin selalu menjadi yang pertama. Terakhir, dalam ajang Shell Eco-marathon Challenge Asia 2016 di Filipina, Sapu Angin ITS berhasil menjadi juara pertama. ”Kemenangan itu menjadi kemenangan keenam yang diraih ITS dari kompetisi serupa setiap tahun,” jelas Bambang kepada Jawa Pos.

Dalam perlombaan tersebut, peserta akan beradu kecepatan sekaligus adu efisiensi bahan bakar. ”Jadi, nanti lombanya, selain kenceng-kencengan, juga harus irit,” tutur Bambang. Sebelum dibawa ke Inggris, mobil Sapu Angin 11 mengalami beberapa penyempurnaan agar sesuai dengan ketentuan panitia. ”Tak banyak yang diubah, hanya beberapa bagian yang kami sempurnakan dari model sebelumnya,” imbuhnya.

Rektor ITS Joni Hermana menyampaikan rasa dukanya saat mengetahui bahwa tim kebanggaan ITS batal berlaga di ajang kompetisi dunia itu. ”Kami sangat menyesalkan mengapa insiden tersebut bisa terjadi,” katanya. Joni berharap, dalam kejadian tersebut bisa diambil hikmahnya oleh seluruh civitas academica ITS. (elo/c7/oni)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia