Selasa, 30 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Otomotif

Gesits Menuju Produksi Masal

Hanya Baterai Yang Bukan Komponen Lokal

Rabu, 04 May 2016 09:00 | editor : diojepe

Motor listir Gesits

Motor listir Gesits (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com – Sebuah mahakarya buatan anak bangsa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah diperkenalkan. Setelah menghasilkan Mobil Listrik Nasional (Molina) Ezzy 1 dan Ezzy 2, tim ITS membuat karya terbaru bernama Gesits .

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek) Muhammad Nasir menyaksikan penyerahan produk motor matik tersebut ke pihak industri. Dia bangga karena Gesits hadir dan menjadi kendaraan listrik pertama untuk motor yang dibuat kalangan kampus.

Nasir mengaku akan menindaklanjuti temuan itu kepada para regulator di tingkat pusat. Terutama kepada Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan. ”Kami akan sampaikan ke regulator, target sudah ada. Kami akan perjuangkan,” katanya.

Selain itu, pihaknya akan menyampaikan usulan kepada Kementerian Perhubungan terkait dengan pengoperasian motor listrik. Sebab, selama ini belum ada regulasi tentang motor listrik di Indonesia. ”Yang pasti, kami akan melakukan sertifikasi pada produk. Saat industri jalan, regulasinya juga jalan,” terangnya.

Kepala Laboratorium Sistem Otomasi Industri ITS Muhammad Nur Yuniarto mengatakan, Gesits merupakan motor skuter yang dibuat sesuai dengan kesepakatan antara ITS dan Garansindo. Motor listrik itu dilengkapi baterai 5 kWh. Baterai bisa di-charge selama 1,5–2 jam dan digunakan untuk jarak tempuh 80–100 km. ”Teknologi dibuat mirip-mirip motor Zero (motor listrik asal Amerika). Kalau itu dijual Rp 200 juta, kita bisa Rp 20 juta,” katanya.

Nur menyebutkan, harganya bisa rendah lantaran menggunakan komponen lokal. Satu-satunya komponen yang impor adalah baterai dari Jepang. Namun, Menristek Nasir sudah memberikan sinyal bahwa ada salah satu perguruan tinggi negeri yang memproduksi baterai. ”Ada konsorsium mobil listrik nasional. Kami akan berkoordinasi lebih lanjut,” jelasnya.

Motor listrik yang digarap bersama 20 anggota tim ITS itu juga dilengkapi spidometer yang terkoneksi dengan smartphone Android. Menurut Nur, itu menjadi terobosan atau nilai tambah yang dimiliki Gesits. Nanti masyarakat dapat menginstal software spidometer pada smartphone sehingga bisa untuk monitoring. ”Bisa monitor dari motor maupun dari jauh. Ada fitur-fitur safety untuk motor,” tuturnya.

Selain spidometer, kapasitas baterai akan terhubung ke smartphone melalui koneksi bluetooth. Terkait dengan biaya operasional bahan penggerak, Nur menjelaskan bahwa nominalnya sangat terjangkau. Baterai yang digunakan adalah 5 kWh. Harga listrik per kWh sekitar Rp 1.500. Dengan demikian, untuk mengisi 5 kWh, hanya butuh Rp 7.500. Baterai, lanjut dia, tersimpan dalam jok. Baterai tersebut berbentuk kotak dengan dimensi panjang 20 cm, lebar 10 cm, dan tebal 10 cm.

Mengisi baterai juga mudah. Jika pengisian ulang atau recharge menggunakan listrik PLN, waktu yang dibutuhkan hanya 1,5–2 jam. Opsi lain, pengisian baterai dilakukan dengan sistem swap. Artinya, baterai cukup dilepas, lalu ditukar dengan baterai yang baru. Nanti konsep yang diusung Garansindo tidak menggunakan charger. Melainkan tukar baterai. ”Seperti mengisi gas elpiji atau air mineral galon. Kita beli isinya. Nah, ini kita beli energinya. Dan, ini tanpa emisi gas buang,” tuturnya.

Terobosan yang tidak kalah menarik adalah cara mendapatkan energi listrik isi ulang baterai. Pengguna cukup mendapatkannya di toko-toko seperti Alfamart atau SPBU. Soal bodi motor, Nur mengakui, prototipe GESITS masih cukup berat. Saat ini berat motor 120 kg. ”Ini karena dari pelat. Nanti dibuatkan dari fiber atau karbon. Targetnya, berat tidak sampai 100 kg,” jelasnya.

Lantas, bagaimana dengan bagasi? Nur mengakui, jok motor digunakan untuk tempat baterai. Karena itu, bagasi belum tersedia. ”Mungkin nanti pakai keranjang seperti motor-motor di luar negeri,” tuturnya.(puj/c7/fat)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia