
Mengetahui Kriteria Gigi yang Masih Bisa Ditambal
JawaPos.com - Ada beberapa kriteria gigi yang masih bisa dilakukan perawatan akar dan ditambal. Salah satunya, lubang atau sisa gigi masih dua pertiga dari bagian keseluruhan. Selain itu, akar gigi harus masih kuat.
“Kalau sisa gigi lebih kecil atau tinggal sedikit, sulit dilakukan perawatan dan penambalan. Termasuk jika akar gigi tidak kuat. Nanti gigi mudah lepas atau patah sehingga perawatan tidak bisa bermanfaat banyak,” kata Dokter gigi (drg) Luciana Jaya Saputra SpKG, spesialis konservasi gigi Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan seperti yang dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group), Minggu (11/10).
Waktu perawatan akar gigi biasanya tiga hingga empat kali kunjungan atau hampir sebulan. Tahap-tahap perawatan dilakukan setiap seminggu.
"Penambalan biasanya membutuhkan waktu 1 x 24 jam. Kalau obat kering sempurna, gigi bisa langsung ditambal,” tutur Luci.
Perawatan akar memang cenderung lebih lama daripada cabut gigi. Pasien pun lebih sering mengunjungi dokter. Hasil dan manfaatnya lebih baik. Biasanya, pasien yang melakukan perawatan akar berumur 20–40 tahun.
Perawatan juga disarankan bagi pasien yang giginya tanggal, kemudian ditanam kembali karena kecelakaan. “Kebanyakan yang melakukan perawatan akar gigi adalah yang sakit karena berlubang,” katanya.
Setelah melakukan perawatan akar, pasien harus tetap melakukan perawatan secara mandiri dan menjaga kebersihan gigi. Gigi yang sakit karena berlubang dan sedang menjalani perawatan tetap digunakan untuk mengunyah makanan. Bukan menghindari mengunyah dengan gigi yang sakit yang kebanyakan orang lakukan.
Setelah melakukan perawatan akar, gigi yang ditambal tidak boleh mengunyah atau menggigit makanan yang terlalu keras karena kondisinya lebih rapuh. Sebab, jaringan dan sarafnya telah mati dan dibuang.
“Kebersihan gigi juga harus dijaga agar gigi lain tidak rusak dan sakit. Caranya, sikat gigi minimal dua kali sehari pada pagi dan malam sebelum tidur,” terang Luci.
Mendatangi dokter gigi untuk membersihkan karang gigi dan memeriksa kondisi juga harus rutin dilakukan setiap enam bulan. Itu juga merupakan tindakan preventif pengecekan gigi.
Jika ada yang bermasalah, bisa segera ditangani sehingga kondisinya tidak menjadi semakin parah. Masalahnya, kesadaran masyarakat untuk rutin mengunjungi dokter gigi setiap enam bulan masih rendah. Kebanyakan justru baru mendatangi dokter gigi ketika ada masalah pada gigi dan cenderung terlambat.
Pemahaman masyarakat tentang jenis-jenis perawatan dan penanganan masalah gigi juga masih kurang. Yang mereka tahu, mencabut gigi adalah cara utama untuk mengatasi masalah gigi.
Cara menggosok gigi juga belum tepat sehingga hasil yang didapat tidak maksimal. “Memang sulit mengubah mindset masyarakat. Saat pasien berkunjung untuk melakukan perawatan atau pengobatan masalah gigi, biasanya kami juga lakukan edukasi tentang perawatan gigi,” urainya. (ono/awa/jpg)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
