Jumat, 18 Aug 2017
Finance

Menkeu Lorotkan Pertumbuhan Ekonomi Hanys 5,3 Persen

Selasa, 22 Sep 2015 02:17 | editor : idham

Menkeu Bambang Brodjonegoro

Menkeu Bambang Brodjonegoro

JawaPos.com – Tim ekonomi Presiden Joko Widodo terpaksa harus merevisi target asumsi makro di Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016. Lagi-lagi global economy  dan domestik menjadi alasan pemerintah mengoreksi asumsi pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro saja mengusulkan asumsi makro pertumbuhan  ekonomi di RAPBN 2016 adalah 5,3 persen, terkoreksi 0,2 poin dari target yang disampaikan sebelumnya di kisaran 5,5 persen. 

"Dengan melihat global dan domestik, kami usulkan pertumbuhan di 2016 pada kisaran 5,3 persen, lebih rendah dari usulan 5,5 persen," ujar  Bambang saat menghadiri rapat kerja di Komisi XI DPR RI, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/9).

Asumsi makro yang diputuskan Kemenkeu tak lepas dari prediksi International Monetery Fund  (IMF)  yang menyatakan pertumbuhan ekonomi global di kisaran 3,8 persen, naik dari tahun 2015 yang berkisar di 3,2-3,3 persen. Namun, ada catatan karena IMF juga memprediksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan menurun dari 6,8 persen ke 6,3 persen.

"Kebetulan ekonomi kita dengan Tiongkok punya kaitan kuat. Jadi kita memang harus korting optimisme, karena ada sign kurang bagus soal Tiongkok," sebutnya. 

‎Terkait perubahan asumsi makro tentang inflasi, Bambang masih percaya target inflasi belum berubah. Pemerintah tetap mematok angka di 4,7 persen, dengan berupaya mengendalikan inflasi, khususnya yang berasal dari sektor pangan.

Sementara itu, untuk konsumsi domestik tahun depan, diperkirakan masih di kisaran 5 persen. 
"Upaya deregulasi dan debrokratisasi bisa membuat iklim investasi lebih baik dari sekarang," ucap dia.

Menurut mantan dosen FE Universitas Indonesia ini, perubahan asumsi makro merupakan jawaban atas desakan anggota Komisi XI yang ragu jika target 5,5 persen akan tercapai.

Bambang menjelaskan, sebenarnya, penetapan asumsi makro didasari asumsi realistis. Penyusunan asumsi makro awalnya yang berkisar 5,5 persen telah final sebelum pidato Presiden Joko Widodo pada  Agustus lalu tentang keyakinan pertumbuhan ekonomi. Namun, kondisi ekonomi global seketika berubah. 

Misalnya, devaluasi sejumlah mata uang asing yang menyebabkan rupiah semakin melemah. "Sehingga memang asumsi perlu perubahan," kata dia.

Oleh karena itu, kata Bambang, perubahan asumsi makro yang turun 0,2 persen sudah menjadi angka yang realistis. "Jadi di satu sisi relaitis tanpa meningalkan optimisme," pungkasnya. (dna/jpg)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia