Jumat, 18 Aug 2017
JPG Today

Inilah Penuturan 2 Korban WNI Tersandera Di Papua Nugini

Sabtu, 19 Sep 2015 22:22 | editor : ronald

Korban penyanderaan yang kini masih dirawat di rumah sakit.

Korban penyanderaan yang kini masih dirawat di rumah sakit. (Cenderawasih Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com--Dua WNI Sudirman dan Badar yang menjadi korban penyanderaan selama sembilan hari di Papua Nugini, sekarang masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara Polda Papua. Mereka, termasuk Kuba, korban penembakan di Kampung Skopro, dibesuk Gubernur Papua, Lukas Enembe, Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw, dan Danrem 172/ PWY Kolonel Inf Sugiyono, Sabtu (19/9). 


Sudirman dan Badar sempat membeberkan drama penyanderaan yang mereka alami mulai saat ditangkap hingga akhirnya dibebaskan. Menurut Sudirman, penyanderaan bermula saat mereka menjalankan tugasnya sebagai operator chain saw di kawasan hutan Kampung Skopro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Rabu (9/9) lalu. 

Saat itu, empat orang datang menangkapnya dan lalu membawanya masuk ke dalam hutan. "Saat kami berjalan, terdengar suara motor yang biasa kami gunakan menarik kayu. Mendengar suara itu, pelaku tanya itu siapa. Saya jawab teman saya Badar. Mereka langsung pergi ke arah suara motor dan mereka menangkap Badar,” ungkapnya di ruang Cenderawasih RS Bhayangkara. 

Setelah itu, Sudirman dan Badar diikat dengan tali rotan dan disuruh berjalan oleh pelaku yang berjumlah empat orang. Sudirman mengaku tidak bisa mengenali wajah keempat pelaku karena muka mereka dihitamkan dengan arang. 

“Belum lama berjalan, kami dengar suara tembakan dua kali. Saya langsung cemas karena di camp ada kakak dan teman saya. Saya baru tahu kalau yang mereka tembak ternyata Kuba,” ucap Sudirman yang dirawat di samping Kuba. 

Usai tembakan tersebut, sambung Sudirman, pelaku terus memaksa mereka berjalan hingga memasuki wilayah Papua Nugini (PNG). Begitu masuk di wilayah PNG, Sudirman dan Badar dibawa ke hutan Victoria yang merupakan markas dari KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) yang menyandera mereka. 

Selama berada di markas para penyandera, Sudirman dan Badar ditempatkan di sebuah honai (rumah tradisional papua). Badar, rekan Sudirman menambahkan, mereka hanya tinggal di hutan Victoria selama satu hari. Setelah itu mereka kembali berjalan ke Skowtiaw. 

Dalam perjalanan ke Skowtiaw, Badar mengatakan mereka sempat bermalam di dalam hutan. “Di sini kami berdua coba melarikan diri, tetapi hanya saya yang lolos setelah lompat dari tebing dan di sini kaki serta pinggul kanan saya cedera,” ungkapnya.

Meskipun sempat meloloskan diri dan bermalam di dalam hutan, keesokan harinya Badar kembali ditangkap para pelaku, di Kali Bewan. “Setelah itu kami ditawan di tempat yang terpisah," ujarnya. 

Badar mengaku pernah melihat helikopter tentara PNG yang berputar-putar di atas hutan Victoria. Ia bahkan sempat mencoba memberi kode dengan memutar-mutar pakaian yang dipakainya, tetapi penumpang helikopter itu tidak melihatnya.

Ia justru kepergok sehingga dimarahi oleh para pelaku yang berjumlah enam orang. “Jadi mereka ada enam orang. Empat orang pegang senjata api dan dua lainnya membawa busur dan panah,” tuturnya. 

Memasuki hari kedelapan, Badar mengaku mendengar bahwa ia dan Sudirman akan dibebaskan. Terkait pembebasan tersebut, Badar dan Sudirman dibawa para pelaku ke Kali Bewan untuk dilepaskan. “Kami dibebaskan di Kali Bewan, Skowtiaw, PNG. Tidak lama setelah kami dibebaskan, kami ditemukan tentara PNG,” pungkasnya.(jo/nat/jpg) 

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia