Jumat, 18 Aug 2017
radartulungagung
Features
Suradi, Pensiunan TNI yang Lihai Membuat Lampion

Belajar Otodidak, Bentuk Kotak dan Bulat Paling Diburu

Rabu, 09 Aug 2017 16:09 | editor : Didin Cahya FS

KREATIF: Suradi saat membuat lampion bertema Kemerdekaan RI di rumahnya.

KREATIF: Suradi saat membuat lampion bertema Kemerdekaan RI di rumahnya. (Whendy Gigih Perkasa/ RATU)

 Usia senja tidak membuat Suradi berhenti berkarya membuat lampion. Justru sejak pensiun sebagai anggota TNI, warga Desa Ngrendeng, Kecamatan Gondang itu semakin fokus membuat berbagai bentuk lampion untuk dijual. Kini, banyak pesanan yang harus diselesaikan, utamanya lampion bertemakan HUT Kemerdekaan RI.

WHENDY GIGIH PERKASA

Lampion menjadi salah satu hiasan yang biasa dipasang di depan rumah, ataupun jalan-jalan desa. Lampion juga mampu menambah semarak suasana. Seperti saat ini dalam momen HUT Kemerdekaan RI ke- 72. Pada momen tersebut, Suradi mendapat banyak pesanan pembuatan lampion termasuk hingga luar daerah.

Saat ditemui di rumahnya, pria berambut gondrong itu terlihat sibuk menyelesaikan pesanan lampion bertema kemerdekaan. Potongan kayu yang sudah dicat dikaitkan dengan paku. Beberapa hiasan pemanis seperti kertas dengan pola tertentu juga dipasang di lampion.

Ternyata, Suradi merupakan pensiunan anggota TNI. Dia bertugas di Kodim 0807 Tulungagung. Sejak pensiun pada 2016 lalu, dia semakin fokus untuk membuat lampion. Sebenarnya, usaha itu sudah dimulai sejak masih aktif menjadi anggota TNI. Namun, kali ini dia lebih serius dengan lebih banyak membuat berbagai bentuk dan ukuran lampion untuk dipasarkan.

Suradi menceritakan, awalnya dia tidak membuat lampion untuk dijual. Namun hanya digunakan sendiri dan dipasang di rumah serta lingkungan sekitar. Itu juga karena hobi sejak dulu untuk berkarya membuat lampion. Ternyata, ada yang tertarik dengan lampion buatan Suradi. Selanjutnya memesan untuk dibuatkan. Sejak saat itulah mulai berkembang dengan banyak pesanan termasuk dari luar desa.

Peluang itulah yang kemudian ditekuni Suradi. Kini dibantu anak, istri dan saudaranya, dia tekuni produksi lampion. Karena itulah berdiri Griya Lampion milik Suradi di jalan raya Trenggalek-Tulungagung tepatnya Desa Ngrendeng, Kecamatan Gondang.

Pria kelahiran 55 tahun lalu itu mengaku,  keahlian membuat lampion diperoleh secara otodidak. Salah satunya dengan melihat referensi dari gambar yang kemudian dibuat sendiri. “Belajarnya otodidak. Dulu awalnya hanya pasang di lingkungan. Sekarang alhamdulillah banyak pesanan,” ungkapnya.

Ada beberapa bahan yang biasa dipakai Suradi untuk membuat lampion. Yakni kayu, kertas vinyl, paku, lem, cat, kabel listrik, dan dudukan lampu. Semua bahan mudah diperoleh di pasaran. Untuk kayu banyak diperoleh dari limbah industri penggergajian dan mebeler. Ini bertujuan agar tidak terlalu sulit saat memotong dan membentuk kayu sesuai pola yang sudah ditentukan dalam pembuatan lampion.

Langkah awal membuat lampion, Suradi harus mengkonsep bentuknya. Kemudian membuat kerangka dari kayu. Selanjutnya ditutup dengan kertas vinyl yang sudah dilem. Tidak lupa pemasangan kabel dan dudukan lampu. “Proses pembuatan ini tidak ada yang sulit,” ujar Suradi.

Agar lebih menarik, bisa ditambahkan gambar seperti pejuang, Pancasila, logo HUT Kemerdekaan RI, dan lain sebagainya. Bentuk lampion karya Suradi juga beragam. Misalnya kotak, bulat, persegi panjang, tabung, segi enam, dan lain sebagainya termasuk bentuk karakter. Ada juga lampion bergambar Bupati Syahri Mulyo dan Wakil Bupati Maryoto Birowo. Paling diminati yakni bentuk kotak dan bulat. “Harga mulai Rp 40 ribuan, tergantung ukuran dan bentuk,” kata bapak tiga anak itu.

Pemasaran lampion produksi Suradi sudah sampai ke luar daerah, seperti Trenggalek, Ponorogo, dan lain sebagainya. Pemasaran juga dilakukan secara online. Dalam sehari, bisa memproduksi lampion antara 100 hingga 200 buah.

(rt/whe/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia