Kamis, 17 Aug 2017
radartulungagung
Kolom
Refleksi Peringatan Hari Anak Nasional

Menyelamatkan Anak Dari Tindak Kekerasan

Jumat, 21 Jul 2017 19:02 | editor : Didin Cahya FS

Oleh :  Didin  Cahya FS

Oleh : Didin Cahya FS

Setiap 23 Juli selalu diperingati Hari Anak Nasional. Namun berita kekerasan anak hingga sekarang sering tersiar di media cetak, online dan televisi. Nah bagi Anda warga Tulungagung tentu masih ingat dengan peristiwa pelecehan seksual terhadap NF, salah satu santri di Pondok Pesantren di Kecamatan Ngunut (Jawa Pos Radar Tulungagung terbitan 14 Mei 2017).

Dan masih sering terulangnya kasus kekerasan anak merupakan bukti hak-hak anak kerap terabaikan, serta perhatian pemerintah tergolong kecil.

Hampir dipastikan jika kasus kekerasan anak  yang mencuat di media, bukan merupakan puncak gunung es. Sebab kasus serupa tidak dilaporkan dan belum terungkap tentu tidak sedikit. 

Fenomena kasus kekerasan anak sebagai korban, sebab anak benar-benar berada dalam posisi tidak berdaya. Dari segi fisik anak, jelas tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi manusia dewasa yang lebih kuat. Berisiko sebagai korban, anak nanti menanggung dampak kekerasan. Terlebih  mengalami kekerasan fisik, imbasnya mengalami gangguan pertumbuhan pada tubuh dan mudah diamati.

Belum lagi faktor psikologi. Tentu anak memiliki memori derita yang pernah dirasakan. Tak menutup kemungkinan anak mengalami penyimpangan sikap, mulai mudah marah, menjadi pendiam. Lebih tragis, jika anak berpegang teguh pada prinsip ketika ingin menyelesaikan masalah, cara yang tepat adalah menggunakan kekerasan.

Sedangkan lokasi kekerasan anak terjadi di lingkungan anak yang seharusnya bisa nyaman, seperti lingkungan sekolah, rumah, dan lingkungan  sekitar. Dengan begitu pelaku kekerasan anak, bukan orang asing bagi si anak. Di mana para pelaku merupakan kerabat dekat dan orang yang dipercaya sering melakukan tindakan kekerasan seksual maupun fisik.

Modus pelaku sebelum melakukan kekerasan terlebih dulu memberikan iming-iming uang, alat permainan. Apabila anak berupaya menceritakan kekerasan yang sudah dialami, akan mendapatkan  ancaman  pelaku untuk tutup mulut.

Sementara  itu, faktor kekerasan bisa saja pelaku  dahulu dari lingkungan keras, stres, pengucilan sosial, gangguan kejiwaan atau ketidakstabilan emosi.

Tentu akan membuat permasalahan semakin rumit.  Sebab sejauh ini pasal 81 dan 82 UU No 35/2014 pengganti UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Padahal ancaman bagi pelaku minimal 5 tahun hingga 15 tahun, belum mampu mencegah orang yang melakukan tindakan serupa. Lantaran masih tetap terjadi. 

Maka diperlukan pencegahan semua pihak untuk mewaspadai kekerasan terhadap anak. Khususnya orangtua semestinya sensitif ke anak jika menemukan anak yang tiba-tiba menjadi pendiam, dan sebaliknya.

Di sisi lain berdasarkan realitas di atas, perlu diambil tindakan-tindakan pencegahan terhadap kekerasan anak.  Dengan mensosialisasikan konvensi hak anak yang sudah disepakati PBB, untuk langkah awal meningkatkan kesadaran dan kepedulian  masyarakat terhadap  kondisi anak sebagai masa depan  bangsa.

Tak lupa memberikan kesadaran pada masyarakat, perlu ada advokasi terhadap kekerasan anak,  untuk kemudian bersama dengan lembaga sosial masyarakat ataupun lembaga milik pemerintah guna proses pendampingan.

*) Penulis adalah anggota AJI Kediri dan wartawan Jawa Pos Radar Tulungagung.        

(rt/did/did/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia