Rabu, 26 Jul 2017
radartulungagung
Tulungagung
Kesehatan

Obat Setelan

Jumat, 14 Jul 2017 09:22 | editor : Andrian Sunaryo

Obat Setelan

Obat Setelan (Hendra Novias/Radar Tulungagung)

Kesehatan mahal harganya. Karena itulah, ketika sakit, tidak sedikit orang yang ingin segera sembuh. Salah satu cara utama yakni mengkonsumsi obat sesuai jenis penyakit yang diidap. Sayangnya, masih banyak orang yang belum mengerti tentang aturan mengkonsumsi obat, utamanya berkaitan dengan dosis.

Keinginan ingin sembuh membuat sebagian orang mengabaikan pentingnya aturan mengkonsumsi obat sesuai dosis seperti yang dianjurkan dokter. Kebanyakan langsung membeli obat di apotek, termasuk mengkonsumsi obat setelan. Obat jenis itu memang banyak dibuat di beberapa apotek. Meski banyak orang mengaku cocok dengan obat setelan, namun ternyata obat setelan justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan terlebih jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan jangka panjang.

Menurut Kabid Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Masduki, obat setelan merupakan penggabungan beberapa obat, yang dikemas ulang dalam satu kemasan. Ini sudah termasuk kategori produksi obat. Hal ini tidak dibenarkan dalam aturan dunia kesehatan, terlebih dengan menghilangkan kemasan asli atau primernya.

Penggabungan beberapa obat dengan takaran dan dosis yang sembarangan agar lebih manjur, berbahaya bagi kesehatan. Terlebih, dengan komposisi kostikostiroid atau anti inflamasi dan dikonsumsi dalam jangka waktu panjang atau lama. “Ini sangat membahayakan dan berdampak buruk bagi kesehatan,” ungkap Masduki.

Ada berbagai gangguan kesehatan, sebagai dampak buruk mengkonsumsi obat setelan. Di antaranya pendarahan lambung, perforasi lambung, reaksi hipersensitif (sindrom steven jonson), anemia aplastik, agranulisitosis, dan gagal ginjal. Dampak lain yakni kadar gula meningkat, gangguan anak ginjal, moonfice (wajah bidu-bidu), dan osteoporosis. “Karena itulah masyarakat harus berhati-hati, jangan asal cespleng (manjur) tapi berakibat buruk. Lebih baik ketika sakit, langsung periksa ke dokter,” kata Masduki.

Bagaimana dengan apotek yang memproduksi obat setelan atau bahkan membuatnya sendiri?. Masduki menyatakan tetap tidak diizinkan. Apotek yang mengubah bentuk dan menggabungkan serta mengemas ulang obat jelas salah. Apotek hanya diperbolehkan mengubah bentuk sediaan farmasi misalnya dalam puyer, salep, lotion, dengan penandaan apotek dan dibuat baru. Itu pun diserahkan langsung pada pasien atas permintaan dokter. “Kalau memproduksi jelas tidak boleh. Tahun ini kami memberikan peringatan keras kepada lima apotek yang membuat dan menjual obat setelan,” jelasnya.

Alasan utama sebagaian masyarakat memilihnya karena penyakit bisa langsung sembuh. Selain itu, obat setelan tidak merogoh kocek terlalu dalam alias murah. Bukan hanya itu, sebagian masyarakat ternyata tidak memahami dampak buruk ketika mengkonsumsi obat setelan dalam jumlah besar dan jangka panjang. “Bagi saya penyakit bisa cepat sembuh, tanpa mengeluarkan banyak biaya. Karena itulah pakai obat setelan. Kalau dampak buruk belum tahu pasti,” ungkap Kusnan, salah seorang warga yang sering mengkonsumsi obat setelan untuk sakit gigi dan asam urat. Riyadi, warga lain mengaku mengetahui dampak buruk ketika mengkonsumsi obat setelan. Namun apa boleh buat, faktor ekonomi menjadi salah satu alasan. “Yang penting tidak terlalu sering. Mau bagaimana lagi, biaya ke dokter spesialis dan beli obat sesuai resep juga tidak murah,” ujarnya. (wen)

(rt/whe/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia