Kamis, 17 Aug 2017
radarsurabaya
Gresik
Lomba Penanganan Kasus Henti Napas

Jadi Tolok Ukur Sekaligus Evaluasi Pelayanan

Sabtu, 12 Aug 2017 08:55 | editor : Aries Wahyudianto

CEKATAN: Para dokter dan perawat perwakilan ruang di RSUD Ibnu Sina mengikuti lomba resusitasi jantung dan paru, kemarin

CEKATAN: Para dokter dan perawat perwakilan ruang di RSUD Ibnu Sina mengikuti lomba resusitasi jantung dan paru, kemarin (Esti/Radar Gresik)

Untuk meningkatkan kemampuan tenaga media di tim kode biru atau permasalahan henti napas, RSUD Ibnu Sina mengevaluasi kemampuan paramedisnya dengan menggelar lomba. Lomba menitikberatkan pada penanganan resusitasi jantung paru (RJP).

ESTI SEPTIANI

Wartawan Radar Gresik

JUMAT pagi di salahsatu ruangan di RSUD Ibnu terlihat ada upaya penanganan gawat darurat. Sejumlah peralatan lengkap, seperti manekin yang menggambarkan korban serta alat untuk mengembalikan nafas pasien. Saat itu tim Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ibnu Sina, terlihat cekatan melakukan penanganan.

Penanganan dimulai dari pemeriksaan, hingga clear area. Kemudian melakukan 30 kompresi dan dua pernafasan selama lim akali hingga 2 menit penanganan. Tentunya dengan menggunakan rumus ABC Resusitasi. Yakni airways, breathing, dan circulation.

“Jadi bisa lebih tahu, seberapa siap tim kode biru dari IGD untuk penanganan ini, termasuk untuk evaluasi penanganan juga,” ujar Achmad Syafii, salah satu perawat yang terlibat.

Lomba diikuti tim medis dari 15 ruangan pelayanan kesehatan di RSUD Ibnu Sina. Kepala IGD RSUD Ibnu Sina M. Rusydi menyebutkan, dalam satu tim kode biru di setiap ruangan terdiri dari 4 sampai 5 orang. “Kami berharap dari lomba yang dikemas semavam ini bisa memotivasi para tenaga kesehatan agar memberi pelayanan lebih baik dan semakin cekatan dan berkualitas,” terang seraya menyebutkan, kasus pasien henti nafas dengan berbagai indikasi mencapai 42 kasus.

Ketua Pelaksnaa Lomba, Purtaji  berharap kegiatan jadi bahan evaluasi seluruh pelayan kesehatan. Mengingat kasus henti nafas selama ini banyak terjadi kepada pengantar pasien yang tak terduga. “Jadi dilatih untuk lebihcekatan lagi,” lanjutnya.

Diterangkan, dari koreksi para juri yang merupakan dokter spesialis, maka membuat perawat khususnya bisa menambah pengetahuan mereka. (*/ris)

(sb/ris/ris/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia