Kamis, 17 Aug 2017
radarsurabaya
Sidoarjo

TERMINAL KRIAN Sepi Angkot, Ramai PKL

Sabtu, 12 Aug 2017 08:54 | editor : Lambertus Hurek

PEMINATNYA SEDIKIT: Pintu masuk terminal Krian di Kelurahan Krian, Kecamatan Krian, Jumat (11/8). Penumpang di terminal ini makin lama makin sepi.

PEMINATNYA SEDIKIT: Pintu masuk terminal Krian di Kelurahan Krian, Kecamatan Krian, Jumat (11/8). Penumpang di terminal ini makin lama makin sepi. (SURYANTO/RADAR SIDOARJO)

Terminal seharusnya menjadi tempat menaikkan atau menurunkan penumpang dari angkutan kota (angkot). Tetapi terminal Krian justru banyak digunakan para Pedagang Kaki Lima (PKL). Masyarakat yang datang ke terminal mayoritas juga menuju ke PKL, bukan untuk naik angkot.

ANNISA FIRDAUSI

Wartawan Radar Sidoarjo

PKL ‘mangkal’ di terminal Krian dari pagi hingga malam. Bahkan ketika malam hari, terminal tampak seperti pasar. Banyak pedagang yang berjualan sayur, daging, dan kebutuhan memasak lainnya. Dengan banyaknya PKL ini, lahan terminal pun semakin sempit.

Kepala Dinas Perhubungan Sidoarjo Asrofi menyatakan saat ini Dishub belum melakukan langkah revitalisasi atau perbaikan kondisi terminal. Hal itu karena terminal tersebut semakin jarang digunakan oleh angkot. 

“Kondisinya sepi, jarang ada angkot maupun penumpang,” ujar Asrofi, Jumat (11/8).

Bahkan menurutnya, setiap hari jumlah angkot dan penumpang yang datang semakin menurun. Masyarakat lebih memilih untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum. Apalagi untuk ke arah Krian maupun Prambon, peminatnya juga minim. Jika kondisi terus seperti ini, maka untuk sementara Dishub tidak akan melakukan revitalisasi.

Asrofi menjelaskan biaya operasional yang dikeluarkan setiap bulan sudah cukup tinggi. “Dikhawatirkan, ketika sudah dilakukan perbaikan tetapi minat masyarakat terhadap angkot tetap menurun, maka perbaikannya tidak tepat sasaran,” lanjutnya.

Sedangkan untuk PKL yang memenuhi terminal Krian, Asrofi menjelaskan bahwa kegiatan berdagang di lokasi itu memang diperbolehkan. Pedagang pun membayar retribusi yang masuk ke kas daerah (Kasda). Namun dirinya mengingatkan pedagang agar tidak melakukan ekspansi lahan. Sebab hal itu akan menyulitkan angkot untuk lewat. 

“Lapaknya jangan terus dilebarkan sehingga menutupi jalan," pungkasnya. (*/jee)

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia