Kamis, 17 Aug 2017
radarsurabaya
Hukum & Kriminal

Nekat Rebut Senpi Anggota saat Dikeler, Bandar Narkoba Tewas Didor

Sabtu, 12 Aug 2017 07:20 | editor : Abdul Rozack

BERUSAHA MENGELABUHI: Kabid Pemberantas BNNP Jatim AKBP Wisnu Chandra menunjukkan sabu-sabu yang disembunyikan di dalam sepatu yang berhasil diungkap.

BERUSAHA MENGELABUHI: Kabid Pemberantas BNNP Jatim AKBP Wisnu Chandra menunjukkan sabu-sabu yang disembunyikan di dalam sepatu yang berhasil diungkap. (SATRIA NUGRAHA / RADAR SURABAYA)

SURABAYA-Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jatim tidak kenal kompromi dengan para bandar narkoba kelas kakap. Jumat malam (11/8), BNNP kembali menembak mati bandar narkoba, Dwi Boedy Santoso, 50. Warga Hangtuah 2/85 Sidoklumpuk, Sidoarjo ini dilumpuhkan setelah mencoba melawan anggota BNNP saat dikeler untuk menunjukkan tempat persembunyian narkoba (safe house). 

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jatim AKBP Wisnu Chandra menjelaskan penangkapan Santoso tersebut dilakukan setelah pihaknya terlebih dahulu menangkap dua tersangka lain, Irwadi,29, warga Dusun Teungoh, Tanah Jambo aye, Aceh Utara dan Abdul Munir,43, yang juga warga aceh Utara. Kedua tersangka tersebut sudah menjadi target operasi anggota BNNP. 

"Saat itu kami mendapatkan informasi jika keduanya membawa sejumlah SS dari aceh. Namun setelah kami lakukan penyekatan di bandara, mereka sudah berhasil kabur,"  ungkap AKBP Wisnu. 

Wisnu juga menjelaskan, setelah gagal melakukan penangkapan di Juanda, pihaknya lantas mencari informasi keberadaan kedua kurir tersebut. Setelah itu, anggota mendapati jika mereka menginap di Hotel Oval. Setelah mendapati keberadaan mereka, anggota lantas melakukan penggerebekan. "Hasilnya, kami menangamankan barang bukti SS seberat 1.000 gram," terangnya. 

Setelah mengamankan kedua tersangka, anggota BNNP memeriksa bagaimana mereka lolos dari pemeriksaan di Juanda. Ternyata mereka menyembunyikan SS tersebut di dalam sol sepatu yang mereka kenakan. Kemudian pada saat diintergoasi, tim BNNP mendapati ada seseorang yang menghubungi dua kurir tersebut. 

"Setelah diselidiki, ternyata nomor tersebut adalah pemesan atau bandar narkoba dari SS yang dibawa oleh Irwanni dan Munir. Mengetahui hal itu, bandar tersebut tidak lain adalah Santoso. Kami pun melanjutkan pengembangan," terangnya. 

BNNP mencoba memancing agar Santoso keluar dengan cara membiarkan Munir dan Irwandi tetap melakukan transaksi dengannya. Namun masih dalam pengawasan anggota BNNP. Kebetulan tempat yang dipilih untuk melakukan transaksi ialah kawasan Sidoarjo. Dengan cara inilah akhirnya, BNNP berhasil menyergap Santoso. 

Baca selengkapnya di edisi cetak Radar Surabaya, Sabtu (12/8/2017)

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia