Sabtu, 22 Jul 2017
radarsurabaya
Kota Lama
Menilik Sejarah Jalan Kranggan (5)

Tempat Mengatur Strategi untuk Melucuti Senjata Jepang

Senin, 17 Jul 2017 23:09 | editor : Wijayanto

SAKSI PERJUANGAN: Salah satu sudut Jalan Kranggan dengan rumah kunonya. Selain terkenal saat masa kerajaan, saat masa kemerdekaan Kranggan juga menjadi basis arek-arek Suroboyo melawan penjajah.

SAKSI PERJUANGAN: Salah satu sudut Jalan Kranggan dengan rumah kunonya. Selain terkenal saat masa kerajaan, saat masa kemerdekaan Kranggan juga menjadi basis arek-arek Suroboyo melawan penjajah. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SURABAYA)

Meski hanya sekitar tiga tahun Jepang menduduki Kota Surabaya, namun membuat penduduk lokal sengsara. Tidak ingin semakin berlarut-larut, arek-arek Suroboyo akhirnya melawan. Mereka membuat forum-forum kecil secara sembunyi-sembunyi untuk mengatur startegi mengalahkan Jepang.

Salah satu tempat yang digunakan untuk mengatur strategi tersebut adalah kampung Kranggan. Tindakan patriotik dilakukan di semua kawasan Indonesia untuk mengusir penjajah dari tanah air. Tindakan itu pula yang dilakukan oleh arek-arek Suroboyo. Mereka melakukan berbagai cara untuk megusir kependudukan Jepang dari Kota Pahlawan. Salah satunya membuat forum kecil dibeberepa kawasan, termasuk Kampung Kranggan.  

"Kampung ini juga menjadi saksi perjuangan arek-arek Suroboyo, sebab tempat ini digunakan untuk mengatur startegi dalam mengusir Jepang dari Surabaya," ungkap ahli sejarah Universitas Airlangga Purnawan Basundoro kepada Radar Surabaya. 

Upaya yang dilakukan arek-arek Suroboyo pun berhasil. Jepang bisa ditaklukan hingga akhirnya Indonesia mendapatkan kemerdekaanya. Meski demikian, forum-forum tersebut tidak berhentik begitu saja. Sebab, beberapa hari setelah Proklamasi Kemedekaan 17 Agustus 1945, orang-orang ramai membicarakan tentang banyak beredarnya selebaran yang berisi seruan agar rakyat Indonesia segera merebut kekuasaan dari pemerintah Jepang dan merebut semua senjata perang dari tentara Jepang.

"Mereka mempersoalkan apakah mungkin Indonesia merdeka tanpa mempunyai tentara kebangsaan yang kuat. Persoalan inilah yang dipergunjingkan dimana-mana, diantaranya di kampung Kranggan itu," terangnya.

Salah satu tempat yang digunakan untuk berdiskusi adalah rumah seorang penulis yang terletak di kampung Kranggan waktu itu. Beberapa pemuda arek-arek Suroboyo yang bekumpul ialah Shodanco Bambang Joewono dan Cudanco Soehardjo. Pertemuan rutin di rumah penulis di kampung Krangggan selalu terjadi antara bekas Cudanco Soerachman, Abdul Wahab Saimin, Slamet Ali Junus, Soehardjo, dan Bambang Joewono. Mereka bahkan sering mengadakan pertemuan dengan Cudanco Jonosewojo dan Soengkono serta lain-lain yang berada di Surabaya. 

Yang selalu mereka konsultasikan adalah bagaimana cara untuk menguasai senjata Jepang, dan bagaimana mengahadapi pendaratan Sekutu yang kemungkinan besar diboncengi oleh Belanda, yang tentu akan menghadapkan Bung Karno dan Bung Hatta ke meja hijau. “Hal itulah yang selalu ingin di pecahkan dalam tiap pertemuan di Kranggan dan tempat-tempat lainnya," tuturnya. (bersambung)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia