Jumat, 28 Jul 2017
radarsurabaya
Kota Lama
Menilik Sejarah Jalan Kranggan (4)

Tetap Jadi Kawasan Perdagangan Saat Pendudukan Jepang

Senin, 17 Jul 2017 22:56 | editor : Wijayanto

URAT NADI EKONOMI: Kawasan Kranggan saat ini yang ramai dengan aktivitas niaganya. Pertokoan Wijaya (sekarang BG Junction) yang dibangun setelah masa kemerdekaan menjadi bukti bahwa kawasan tersebut sejak dulu memang potensial.

URAT NADI EKONOMI: Kawasan Kranggan saat ini yang ramai dengan aktivitas niaganya. Pertokoan Wijaya (sekarang BG Junction) yang dibangun setelah masa kemerdekaan menjadi bukti bahwa kawasan tersebut sejak dulu memang potensial. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SURABAYA)

Kawasan kampung Kranggan sudah berubah semenjak pemerintahan diambil alih oleh bangsa Belanda. Kampung yang dulunya memproduksi keris dan juga senjata beraroma magis itu berubah menjadi kawasan perdangangan. Kondisi tersebut tidak berubah, bahkan ketika Jepang menduduki kota Surabaya. 

Sekitar tahun 1942 Jepang datang ke Surabaya dan berhasil merebut kekuasaan dari tangan Belanda. Perang perebutan kekuasaanpun tidak terhindarkan, beberapa kawasan di pesisir utara Surabaya sempat hancur karena perang tersebut. Meski demikian, kondisi kampung Kranggan tidak begitu berimbas sejak Jepang berhasil menakhlukan Belanda. Sebab, kawasan kampung Kranggan tetap menjadi salah satu tempat yang digunakan oleh Jepang sebagai kawasan perdangangan. 

"Masuknya Jepang ke Surabaya memang tidak begitu merubah bentuk fisik kota waktu itu. Hanya kondisi penduduk lokal saat itu memang lebih sengsara. Sebab, saat itu penduduk lokal dipaksa pemerintah Jepang untuk bekerja mempersiapkan perang Asia Pasifik," ungkap ahli sejarah, Purnawan Basundoro kepada Radar Surabaya. 

Untuk kondisi fisik tata kota, Jepang saat itu memang tidak banyak merubahnya. Bahkan mereka menjadikan beberepa bangunan yang sebelumnya ditempati Belanda sebagai tempat yang memiliki fungsi lain. Seperti kawasan Jembatan Merah, pada saat pemerintahan Belanda kawasan ini digunakan sebagai pusat perdangangan terbesar di Surabaya. 

"Namun saat pemerintahan Jepang, kawasan tersebut diambil alih dan dijadikan sebagai kantor pemerintahan Jepang," lanjut Purnawan. 

Meski ada beberepa kawasan yang beralih fungsi, namun kampung Kranggan tetap tidak berubah. Bahkan kondisi perdangangan dikawasan tersebut semakin berkembang. Hal itu bisa dilihat adanya pasar rakyat yang saat ini dikenal sebagai pasar Blauran. 

"Kawasan ini semakin potensial lantaran dekat dengan jalur sungai kalimas," terangnya. 

Ramainya kawasan tersebut diiringi dengan perkembangan Kota Surabaya yang makin ke selatan. Sebab, wilayah utara tidak cukup menampung beban penduduk yang terlalu padat saat itu. Sehingga memberikan peranan cukup penting untuk wilayah kampung Kranggan setelah ditinggal penggerajin keris. 

"Kondisi ini tetap bertahan hingga Jepang kalah dan Indonesia mendapatkan kemerdakaan," pungkas penulis buku Dua Kota Tiga Zaman ini. (bersambung)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia