Jumat, 28 Jul 2017
radarsurabaya
Ekonomi

Ekspor-Impor Jatim Selama Juni Turun

Senin, 17 Jul 2017 22:20 | editor : Abdul Rozack

SURABAYA-Libur panjang selama Lebaran berpengaruh terhadap kegiatan perdagangan dan industri di Jawa Timur. Kinerja ekspor maupun impor provinsi ini selama Juni 2017 mengalami penurunan, karena sebagian besar pengusaha melakukan ekspor dan impor sebelum Ramadan dan Lebaran.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono mengungkapkan, laju ekspor Jatim sepanjang Juni 2017 tercatat mencapai USD 1,372 miliar atau turun 18,39 persen dibanding ekspor Mei 2017 sebesar USD 1,681 miliar.

Sedangkan nilai impor Juni 2017 mencapai USD 1.596 miliar, turun 18,68 persen dibandingkan impor Mei 2017 yang mencapai USD 1.962, 70 miliar.

“Selama puasa hingga Lebaran selalu menjadi masa landai kinerja ekspor-impor Jatim, dan ini terjadi setiap tahun,” kata Teguh saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Jatim, Senin (17/7).

Secara rinci, kata Teguh, turunnya ekspor Juni 2017 didominasi sektor nonmigas yang mencapai 21,37 persen, dari USD 1,587 miliar pada Mei menjadi USD 1,248 miliar pada Juni. Sedangkan ekspor migas justru naik sebesar 31,72 persen, dari USD 94,39 juta pada Mei menjadi USD 124,34 juta pada Juni.

“Hampir semua komoditas ekspor andalan Jatim mengalami penurunan rata-rata di kisaran 10 hingga 20 persen atau bahkan lebih,” kata dia. 

Jika dilihat dari negara tujuan ekspor, penurunan terbesar terjadi pada ekspor ke Singapura dengan penurunan sebesar 43,70 persen, Malaysia turun 31,41 persen, Italia turun 27,78 persen, Jerman turun 25,26 persen dan Thailand turun 24,93 persen.

Sedangkan negara tujuan ekspor tradisional utama lainnya seperti Jepang juga turun sebesar 15,06 persen, Amerika Serikat turun 22,77 persen, Australia turun 17,56 persen dan ekspor ke India juga turun sebesar 20,02 persen.  

Teguh mengatakan, untuk dominasi impor nonmigas adalah kapal laut dengan nilai USD 146,85 juta, disusul mesin/peralatan mekanik sebesar USD 113,90 juta, besi dan baja sebesar USD 102,56 juta, sayuran sebesar USD 94,33 juta dan industri makanan sebesar USD 89,85 juta.

"Tiongkok merupakan negara pemasok barang impor nonmigas Jatim terbesar dengan nilai USD 365,33 juta, diikuti Jerman senilai USD 168,22 juta, dan Amerika Serikat senilai USD 112,04 juta. Dan untuk negara ASEAN asal barang impor nonmigas terbesar adalah Singapura, Thailand dan Malaysia," katanya. (han/mg1/hen)

(sb/han/jek/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia