Jumat, 21 Jul 2017
radarsurabaya
Kota Lama
Menilik Sejarah Jalan Kranggan (6)

Keberadaan Dua Bioskop jadi Lahan Adu Prestise

Minggu, 16 Jul 2017 23:27 | editor : Wijayanto

TINGGAL KENANGAN: Di Jalan Kranggan ini dulunya terdapat dua bioskop yang menjadi hiburan mewah saat itu.

TINGGAL KENANGAN: Di Jalan Kranggan ini dulunya terdapat dua bioskop yang menjadi hiburan mewah saat itu. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SURABAYA)

Kawasan Kampung Kranggan terus mengalami perubahan dari masa kerajaan hingga kemerdekaan. Perlahan tapi pasti, kampung yang terkenal dengan seni pembuatan keris tersebut terus berkembang. Kawasan yang juga menjadi salah satu pusat perdagangan itu semakin ramai, sebab tidak hanya digunakan sebagai kegiatan ekonomi, melainkan juga tempat hiburan. Hal ini didukung di kampung tersebut sempat berdiri dua bioskop megah. 

Sekitar tahun 50-an, Kota Surabaya sudah seperti kota metropolitan di kawasan Jawa Timur. Perkembangan Kota Pahlawan ini juga diiringi dengan pola serta gaya hidup masyarakat yang ekonominya semakin tertata. Salah satu kebiasaan masyarakat pada waktu itu ialah mencari tempat hiburan. Nah, salah satu yang paling digemari adalah menonton film di bioskop. 

Ahli sejarah Kota Surabaya Purnawan Basundoro menjelaskan, pada saat itu bioskop merupakan primadona sarana pariwisata dan tempat hiburan di Kota Surabaya. Sebagaimana di kota-kota lain, bioskop menjadi tempat hiburan favorit. Remaja, muda-mudi dan bahkan suatu keluarga menjadikan bioskop sebagai tempat hiburan utama. Tidak hanya itu, bioskop juga merupakan tempat adu prestise atau kehebatan seseorang. 

"Lucunya, saat itu seorang pemuda diuji isi kantongnya oleh sang pacar dan teman-temannya dengan mengajak nonton di bioskop," ungkap Purnawan.  

Keberadaan bioskop kemudian benar-benar sebagai tempat hiburan untuk menyaksikan film-film baru. Saat itu terdapat empat jenis film yang diputar di bioskop-bioskop. Yakni film Eropa dan Amerika, film Asia, khususnya India dan film Mandarin serta film nasional. Di samping itu, ada juga sekali-sekali muncul film-film dari Timur Tengah dan Afrika. Penonton film waktu itu seleranya juga tidak sama. Ada yang menyukai film-film Eropa dan Amerika, ada yang senang film Hongkong dan Mandarain, ada yang suka film India dan tentunya ada yang senang film nasional.

"Kerena selera masyarakat saat itu berbeda, sehingga banyak gedung bioskop yang saat itu berdiri. Di Surabaya sendiri tercatat pernah ada 61 gedung bioskop," terangnya. 

Dia menjelaskan dari 61 gedung bioskop dua di antaranya berada di Jalan Kranggan. Dua bioskop tersebut ialah Bioskop Garuda dan Bioskop Capital Concern. Meski berada di Jalan yang sama namun dua bioskop tersebut berdiri pada tahun yang berbeda. Gedung Bioskop Garuda didirikan pada tahun 1955 sedangkan Capital Corcern berdiri pada tahun 1957. 

"Pendirian bioskop baru ini lantaran bioskop yang lama seringkali melebihi kapasitas penonton, sehingga untuk bioskop Capital Corcern sengaja dibuat lebih besar untuk memenuhi kapasitas penonton. Selain itu, pemutaran film di bioskop ini lebih beragam," terang dosen sejarah Unair ini. 

Dengan demikian kampung atau Jalan Kranggan tidak hanya menjadi saksi perjuangan arek-arek Suroboyo dalam merebut kemerdekaan melainkan menjadi saksi sejarah tentang hiburan serta perfilman di Kota Surabaya saat itu. Hingga saat ini, sejarah Kampung Kranggan masih melekat di hati para penududuknya. Sejarah Kampung Kranggan selalu diceritakan turun-temurun oleh penduduk sekitar. (bersambung/hen)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia