Sabtu, 22 Jul 2017
radarsurabaya
Persona
Prof. Dr. Drs. Bagong Suyanto, M.Si

Selalu Belajar dan Mensyukuri Hidup

Guru Besar Sosiologi Ekonomi Unair

Sabtu, 15 Jul 2017 19:46 | editor : Abdul Rozack

dok

dok (dok)

Prof. Dr.  Drs. Bagong Suyanto, M.Si berhasil meraih predikat guru besar yang ke-461 bagi Universitas Airlangga (Unair). Gelar yang bagi sebagian besar kalangan pengajar merupakan puncak karir yang diimpi-impikan dan terus dikejar. Bagaimana Bagong Suyanto memaknai pencapaian tersebut? Berikut petikan wawancara jurnalis Radar Surabaya, Phaksy Sukowati dengan pria kelahiran Kertosono itu. 

Sebelumnya, selamat atas gelar guru besar yang diraih. Bidang sosiologi ekonomi menjadi khazanah ilmu yang Bapak pilih. Menurut Bapak, seperti apa manfaat memahami sosiologi ekonomi bagi masyarakat di era sekarang ini?

Sosiologi ekonomi ini merupakan ranah kajian baru dalam ilmu sosial yang berusaha memahami perilaku konsumen, gaya hidup, selera dan lain-lain dari aspek non-ekonomi. Sosiologi ekonomi mengkaji bagaimana kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi buruh, tapi juga mengeksploitasi konsumen dengan cara menciptakan mimpi, imajinasi melalui iklan, dan budaya populer.

Saya menawarkan satu pendekatan baru dalam sosiologi ekonomi. Selama ini kajian hanya banyak pada ranah produksi dan interaksi sosial atau pemasarannya. Nah, sedangkan kajian-kajian di ranah konsumsi tidak banyak dibahas di tengah masyarakat. Karena saya meyakini eksploitasi di era post kapitalisme saat ini, konsumen menjadi yang dieksploitasi. Hal ini adalah cara baru yang dikembangkan kapitalisme modern dan tanpa sadar dirasakan oleh masyarakat.

Namun, masyarakat yang belajar sosiologi ekonomi ini akan mampu mengembangan kemampuan bersaing --selain hanya mengandalkan faktor modal. Pengetahuan tentang gaya hidup konsumen akan bermanfaat untuk acuan mempromosikan produk.

Siapa sosok yang paling berjasa bagi Bapak hingga mampu menapaki karir mengajar dan keilmuan sampai jenjang guru besar ini?

Sosok yang paling berjasa dalam karir saya dan terus saya ingat adalah Prof. Soetandyo Wignjosoebroto, guru besar senior FISIP Unair. Pak Tandyo ialah orang yang mengajarkan kepada saya, bagaimana memahami realitas sosial, bagaimana peka memahami akar masalah, serta peka memahami hal-hal di balik realitas yang tampak kulitnya.

Selain Pak Tandyo, orang yang selalu mengingatkan dan menjadi pendorong adalah istri dan anak saya. Dua orang ini yang selalu menjadi energi saya betah berjam-jam menulis artikel dan buku ataupun belajar sepanjang waktu.

Bapak juga dikenal kritis dalam membahas soal eksploitasi anak, isu-isu kriminolog hingga kemiskinan dan urbanisasi. Selanjutnya nanti, apakah masih akan intens menaruh perhatian pada bahasan tersebut, atau fokus di sosiologi ekonomi saja?

Tentu saja saya tetap akan berkecimpung di dalamnya. Saya senang mengkaji berbagai isu sosial. Tidak hanya sosiologi ekonomi. Bagi saya, masalah sosial adalah masalah di wilayah grey area. Bukan bicara benar salah, tapi bagaimana memahami akar masalahnya. Menjawab: why?

Dan yang penting, saya tidak kaku mengembangkan pendekatan positivistik. Tapi, pendekatan kritis atau neo Marxian. Memahami di ranah kultural.

Initnya, saya tidak hanya akan fokus pada ranah ilmu sosiologi ekonomi. Saya akan tetap menggeluti beberapa isu yang selama ini saya ajarkan di FISIP Unair yang terdiri dari tiga bidang ilmu, yakni sosiologi ekonomi, seputar isu kemiskinan dan isu-isu soal hak anak.

Bapak tergolong rajin mengisi kolom tulisan di beberapa koran dengan pembahasan fresh dan menarik. Kalau boleh berbagi sedikit, bagaimana resep menulis yang baik sehingga dimuat di surat kabar besar ternama? 

Menulis sudah menjadi kegiatan sehari-hari yang selalu saya lakukan. Anak saya kuliah di Melbourne, Australia. Saya berdua dengan istri, di rumah. Pada malam hari, saya biasanya mengisi waktu dengan aktivitas supaya tidak kangen yang terlalu berlebihan dengan anak saya. Jadi, menulis bagi saya ialah pengisi waktu luang yang menyenangkan. Gemarilah menulis. Saya tidak hanya menulis artikel, tapi juga menulis jurnal dan buku. Saya juga ingat nasehat Pak Tandyo: jangan jadi pohon pisang, sekali berbuah terus mati. 

Bila dihitung, saya itu sudah 30 tahun menulis artikel, sehingga bagi saya aktivitas ini bukan beban, bukan pula target. Sambil nonton televisi pun saya bisa menulis.

Pertanyaan terakhir. Bapak sudah bergelar guru besar. Artinya sudah mencapai tangga tertinggi sebagai seorang pengajar. Lantas, apa impian atau keinginan pribadi yang belum Bapak raih sejauh ini?

Alhamdulillah apa yang sudah saya capai selama ini telah melampaui apa yang pernah saya bayangkan. Saya benar-benar mensyukuri hidup. Sekarang yang ingin saya lakukan hanya ingin mampu bertahan menjadi pendidik hingga akhir hayat saya. 

Kedua, saya ingin memastikan masa depan anak kami. Bagi kami, sekarang yang terpenting adalah anak kami semata wayang. Mimpi saya adalah anak saya bisa masuk PhD atau program doktor. Anak saya sudah lulus Master dari Monash University dan berencana melanjutkan S-3. Mimpi saya lainnya juga ingin istri saya tahun depan bisa meraih gelar profesor. (*/opi)

(sb/sa/jek/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia