Jumat, 28 Jul 2017
radarsurabaya
Surabaya
Limbah Asal Korsel Racuni Rusun Romokalisari

Polisi Tetapkan Tiga Tersangka

Juga Amankan Empat Kontainer Limbah B3

Sabtu, 15 Jul 2017 07:30 | editor : Abdul Rozack

AMBIL SAMPLE: Tim dari DLH Surabaya mengambil sample air sungai yang tercemar limbah B3 di kawasan Romokalisari.

AMBIL SAMPLE: Tim dari DLH Surabaya mengambil sample air sungai yang tercemar limbah B3 di kawasan Romokalisari. (SATRIA NUGRAHA / RADAR SURABAYA)

SETELAH melakukan pemeriksaan, polisi akhirnya menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus limbah B3 yang dibuang di kawasan Rusun Romokalisari. Tiga orang tersangka adalah M Faizi, 41, warga Bungah, Gresik; Soni Eko Cahyono, 38, warga Krembangan, Surabaya; dan Hadi Sunaryono, 49, warga Kebomas, Gresik. 

Sementara sopir yang turut diamankan tapi tidak ditetapkan sebagai tersangka adalah Kris Dwi Setiawan, 42, warga Tenggumung Wetan Surabaya.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Shinto Silitonga menjelaskan bahwa ketiganya ditetapkan sebagai tersangka lantaran terlibat aksi pembungan limbah beracun dan berbahaya itu. 

Menurutnya, limbah sengaja diimpor oleh tersangka dari Korea Selatan. Setelah itu, limbah yang ditempatkan dalam sebuah bak plastik besar di dalam kontainer tersebut dikirim ke Surabaya melalui Pelabuhan Teluk Lamong dan diinapkan di PT Indra Jaya Swastika (IJS) di Jalan Kalianak 57. 

"Kontainer berisi limbah ini bisa lolos dari pemantauan, lantaran dalam dokumennya tertulis sebagai oli bekas," ungkap AKBP Shinto. Dia menjelaskan bahwa limbah itu tiba sudah masuk di Terminal Teluk Lamong sejak Juni, dan berdasarkan waktu sewa harus keluar dari PT IJS sebelum tanggal 13 Juli. 

Hal inilah yang akhirnya membuat para pelaku memutar otak mencari cara untuk mengelurkan kontainer itu sesegara mungkin. Sebab jika tidak, mereka akan terkena charge yang per malam mencapai Rp 2,5 juta. 

"Sebelum dibuang ke Romokalisari, kontainer itu sempat dibawa ke tempat pengolahan limbah oli bekas di kawasan Waru, Sidoarjo. Namun setelah dicek, ternyata cairan tersebut didapati bukan oli lantaran larut dalam air," terangnya. 

Karena gagal, Faizi yang tidak lain adalah orang yang menerima kontainer berisi limbah tersebut di Surabaya lantas meminta Soni untuk mencarikan lokasi pembuangan limbah. Soni lantas menyuruh Hadi yang akhirnya mencarikan lokasi di dekat Rusun Romokalisari sebagai tempat pembuangan.

"Setelah itu, mereka bertiga meminta sopir truk (Kris Dwi Setiawan, Red) untuk membawa kontainer tersebut ke kawasan rusun, sebelum akhirnya warga mengalami keracunan," terang Shinto.

Untuk tugasnya itu, masing-masing tersangka mendapatkan upah Rp 2,5 juta untuk satu kontainer atau limbah yang berhasil dibuang. Sebab setelah diselidiki, masih ada tiga kontainer berisi limbah yang sama. Tiga kontainer limbah itu masih tersegel di PT IJS. “Kami masih mendalami kasus ini, termasuk mencari siapa saja yang terlibat dalam hal ini terutama yang mengupah ketiga tersangka," terangnya.

Dia menjelaskan berdasarkan informasi yang diperoleh dari tersangka, limbah itu diimpor oleh Sahat Rafelino, warga perumahan Bumi Citra Fajar Sidoarjo melalui PT Pasadena Solusindo Sakarto yang beralamat di Jalan Anggrek Raya, Taman Alamanda, Bekasi, Jawa Barat. 

Hanya saja, pihaknya menduga jika nama itu merupakan fiktif karena setelah dikroscek tidak ada identitas Rafelino. "Alamatanya ada, namun namanya bukan Rafelino melainkan orang lain. Meski demikian, kami terus mengembangkan kasus ini," ujarnya. 

SOPIR TIDAK TAHU

Sementara itu kepada polisi, Setiawan mengaku tidak tahu isi kontainer yang dimuatnya. Sebab, awalnya dia diminta oleh PT IJS untuk mengantarkan kontainer itu ke kawasan Waru. Namun saat barang tersebut hendak diturunkan, ada petugas yang melakukan pengecekan. 

"Saat itu, saya melihat petugas dari pergudangan Waru itu mengambil sampel cairan. Setelah cairan itu dimasukkan ke dalam air, ternyata diketahui jika cairan itu larut dalam air. Padahal, kalau itu oli bekas tentu akan terpisah dari air," terangnya. 

Akhirnya, barang itu ditolak masuk ke gudang Waru. Setiawan kemudian diminta oleh ketiga tersangka untuk kembali ke gudang PT IJS di Jalan Kalianak 57. Sebab, truk yang ia kemudikan akan dipakai untuk mengantarkan barang lain ke luar kota. 

Ia pun langsung kembali ke Kalianak. Setiba di kantor, Setiawan melihat tiga orang pemilik limbah di kontainer itu berdiskusi dengan atasannya. "Intinya, jika kontainer itu tidak keluar hari itu juga maka pemilik akan dikenakan charge Rp 2,5 juta per malam," terangnya. 

Hal itu membuat pemilik limbah keberatan, kemudian mereka meminta Setiawan untuk membawa kontainer ke kawasan Romokalisari. Awalnya, dia mengira jika truk berisi kontainer dengan nopol L 9166 UV itu akan dibawa ke salah satu gudang di kawasan Romokalisari. 

Truk itu juga diikuti dua pemilik yang mengendarai mobil warna putih. Setiba di kawasan aliran sungai, dia diminta untuk memutar balik dan berhenti tepat di jembatan dekat Rusun Romokalisari. 

Dia lantas diminta turun dan membuka kontainer 30 feet itu. Kemudian dia diminta membuka segel kontainer. Setelah dibuka, dia baru tahu jika di dalam kontainer itu terdapat sebuah bak besar yang di bawahnya ada keran. 

"Saya diminta membuka keran itu dan baunya sangat menyengat. Saya sempat bertanya cairan apa yang saya buang, tapi pemandu itu mengatakan jika itu adalah cairan duren," jelasnya. Namun belum semuanya selesai dibuang, aktivitas itu dihentikan warga dan dia diamankan bersama dua pemandunya. (yua/jay) 

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia