Senin, 21 Aug 2017
radarsolo
Sepak Bola

Persis Solo Optimistis Ada Revisi Sanksi

Kamis, 10 Aug 2017 08:29 | editor : Bayu Wicaksono

Perwakilan manajemen Persis Solo berikan paparan di hadapan Komding PSSI.

Perwakilan manajemen Persis Solo berikan paparan di hadapan Komding PSSI. (Persis for Radar Solo)

SOLO – CEO Persis Bimo Putranto, manajer tim Adi Riyanto, hingga asisten pelatih Albert Rudiana buka-bukaan soal kasus dihentikannya laga Persis Solo di kandang PSIR Rembang, Rabu (16/7). Namun, hingga pukul 23.00, tak kunjung terdengar ketukan palu Komisi Banding (Komding) PSSI terkait kejadian di Stadion Krida Rembang tersebut.

”Keputusan memang belum dirilis kepada kami. Namun sepanjang sesi banding, pihak komisi banding memberikan respons cukup baik atas paparan kami,” beber Manajer Persis Adi Riyanto tadi malam.

Hasil sidang yang dipimpin Todung Mulya Lubis, selaku ketua komding PSSI sangat penting bagi Persis yang tengah berjuang menuju babak 16 besar. ”Apapun hasilnya, jelas harus kita terima. Yang pasti ketika kami diberi kesempatan untuk banding, kami sudah terangkan semua yang benar-benar terjadi di sana,” ucapnya.

Sekedar informasi, Persis mendapatkan empat poin sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI akibat kericuhan antarsuporter dalam laga Persis di Rembang. Kala itu, pertandingan harus dihentikan sejak menit ke-51. Tak lama setelah tuan rumah mencetak gol. Kericuhan antardua kubu suporter membuat pengawas pertandingan harus menghentikan laga tersebut.

Dari empat poin sanksi, satu poin sudah dijalani Persis. Yakni larangan dua pertandingan tanpa penonton. Diketahui dua laga terakhir Persis di Stadion Manahan kontra Sragen United, Minggu (30/7), dan Persiba Bantul, Jumat (3/8), panita pelaksana (panpel) memang melarang massa menonton secara langsung laga tersebut.

Satu hal yang diharapkan manajemen Persis bisa direvisi adalah tiga poin lainnya. Yaitu pengurangan tiga poin, dianggap kalah 3-0 kontra PSIR, dan denda senilai Rp 100 juta.

Untuk menyakinkan Komding PSSI, manajemen Laskar Sambernyawa juga membeberkan beberapa bukti dokumentasi foto maupun video. Mulai dari suporter PSIR Rembang yang lebih dulu melempar ke kubu suporter asal Solo, lalu penonton yang masuk ke dalam lapangan adalah suporter PSIR, hingga bukti lemparan batu yang menghujani bench pemain Persis.

”Kami ungkapkan bahwa Persis bukan berhenti, tapi lebih pada pengawas pertandingan-lah yang menghentikannya. Kami tetap berharap tidak dianggap kalah 3-0 oleh PSIR. Kami juga berharap laga tersebut, bisa dilanjutkan (mulai menit ke-51 seperti saat terakhir laga tersebut berjalan) di lokasi yang netral,” papar Adi.

Jika harapan manajemen Persis terkabul, maka potensi untuk lolos ke babak 16 besar semakin besar. ”Tentu lebih membuat langkah kami lebih enteng ke depannya. Apalagi kami masih menyisakan cukup banyak laga kandang. Tapi tetap, sanksi nominal sebesar (Rp 100 juta) juga cukup memberatkan kami,” keluhnya.

Persis cukup optimistis keputusan Komding PSSI membawa angin segar. Sebab, beberapa sanksi kepada kesebelasan lainnya bisa direvisi. Di antaranya, tim PSS Sleman yang awalnya di sanksi empat laga dilarang menggelar pertandingan tanpa penonton. Berlanjut kasus meninggalnya suporter asal Magelang saat PSS bertanding ke Banyumas yang berakhir dengan keputusan mengizinkan PSS menggelar pertandingan dengan hadirnya suporter. 

”Apapun hasilnya, kami harap ini jadi bahan introspeksi semua pihak. Tim ini (Persis) sudah merasakan jejeran sanksi dari komdis. Bahkan main di Manahan pun pernah ada larangan penonton beratribut (tiga laga, Red), hingga kemarin malah bermain dengan tekanan hebat karena suporternya dilarang mendukung secara langsung di dalam stadion. Semoga tak ada sanksi serupa ke depannya,” harap Adi.

(rs/NIK/bay/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia