Rabu, 26 Jul 2017
radarsolo
Sragen

Derita Rina Hariyani, 24 Tahun Mengalami Kelumpuhan

Senin, 17 Jul 2017 15:57 | editor : Bayu Wicaksono

Rina Hariyani terbaring di kamarnya.

Rina Hariyani terbaring di kamarnya. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SRAGEN)

SRAGEN - Cukup banyak penderita kelumpuhan di Sragen yang berasal dari kalangan keluarga tidak mampu. Seorang di antaranya Rina Hariyani. Sudah 24 tahun, Rina menderita kelumpuhan.

Sejumlah orang dari komunitas Anteping Kalbu (Tebu) mendatangi sebuah rumah di Dukuh Kwangen RT 04 RW 01, Kelurahan Ngembat Padas, Kecamatan Gemolong, kemarin (16/7). Komunitas ini sering berkutat dengan kegiatan sosial. Terutama kepada keluarga yang tidak mampu.

Di depan rumah, mereka disambut pasangan suami istri yang sudah berusia lanjut. Suhari, 67 dan Ginem, 50. Pasangan suami istri ini tak lain kedua orang tua Rina Hariyani, 27, gadis penderita kelumpuhan sejak balita. Rombongan lantas dipersilahkan menuju sebuah kamar, tempat Rina berbaring sehari-hari.

Rina, putrid Suhari yang kesehariannya menjadi tukang becak di kawasan Gemolong ini mengalami kelumpuhan sejak berusia tiga tahun. Penyebabnya karena Rina terjatuh. Setelah itu, dia sejatinya masih bisa berjalan normal.

Namun beberapa hari berselang, suhu badan Rina sering panas. Dia juga sering kejang-kejang. Rina yang awalnya periang, pascajatuh, jadi tidak bisa berbicara. Melihat kondisi ini, kedua orang tuanya berinisiatif membawa Rina berobat ke dokter.

”Dulu sempat saya bawa ke Solo. Dokter bilang Rina tidak apa-apa. Saya bawa berobat kemana-mana sampai menjual rumah,” kata Suhari kepada Radar Sragen.

Saat diteliti, ternyata ada luka di bagian belakang tubuh Rina. ”Sebelum jatuh, dia sudah mulai belajar bicara. Tapi setelah jatuh, tidak mau bicara lagi. Hanya diam saja sampai sekarang. Kalau menangis, tandanya minta makan atau minum. Dokter bilang tidak kenapa-kenapa, tidak perlu operasi,” sambung ibu Rina, Ginem sambil menitikkan air mata.

Keluarga Rina sangat berharap uluran tangan dari dermawan. Mengingat penghasilan Suhari sebagai tukang becak cukup kecil. Hanya Rp 20 ribu per hari. ”Petugas puskesmas sering berkunjung mengecek kesehatan Rina,” beber Ginem.

Pada kesempatan ini, komunitas Tebu memberi sedikit bantuan untuk meringankan beban keluarga. ”Semoga ada tindakan dari pemerintah, mengupayakan perawatan dan kesembuhan Rina,” papar bendaraha komunitas Tebu, Sri Haryono.

Sejauh ini, kedua orang tua Rina belum melaporkan kondisi kesehatan putrinya ke dinas terkait. ”Jika dari awal ada penanganan medis, mungkin bisa diatasi. Dan Rina tidak seperti saat ini (lumpuh),” terang Petugas Dinas Sosial (Dinsos) Sragen Dewi Novita Kurniawati.

Dinsos berjanji bakal menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen untuk penanganan lebih lanjut. ”Ke depan kami akan berkordinasi dengan pemerintah setempat agar Rina segera mendapatkan penanganan,” beber Dewi.

(rs/din/bay/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia