Sabtu, 22 Jul 2017
radarsolo
Features

Abdul Wahid, Sepekan Tulis 16 Judul Cerpen

Kamis, 13 Jul 2017 14:38 | editor : Bayu Wicaksono

Abdul Wahid memamerkan buku hasil karyanya berjudul Balada Pensil Yang Tertukar.

Abdul Wahid memamerkan buku hasil karyanya berjudul Balada Pensil Yang Tertukar. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

SOLO - Tangga menuju kesuksesan kerap berkerikil dan berduri tajam. Hanya orang-orang tangguh yang bisa melaluinya. Itu pun tidak banyak. Termasuk di bidang tulis menulis.

Kios berukuran mini di Pasar Panggungrejo, Jebres, dijadikan Abdul Wahid menekuni bisnis penerbitannya beberapa tahun terakhir. Sosok simpel namun memiliki semangat tinggi ini sengaja terjun ke dunia penerbitan indie lantaran keinginannya menghasilkan karya tulis. Dia terinspirasi penulis kondang yang mulai memproduksi buku sendiri.

“Saya suka menulis sejak kelas tiga SMA,” ujar pria 24 tahun tersebut. Kala itu, beberapa karya dia kirim untuk majalah komunitas di Kota Solo. Berita singkat tentang aktivitasnya bersama teman SMA menjadi tulisan pertama yang dikirim.

Sungguh bahagia saat melihat hasil tulisannya muncul di majalah yang cetak lebih dari 1.000 eksemplar. Wajahnya semakin bersinar ketika tahu mendapat honor Rp 75 ribu.

Wahid sengaja memamerkan karya perdananya itu kepada beberapa orang, termasuk gurunya. Ada yang memuji, pun mengkritik karena tulisan beritanya masih amburadul. Dilihat dari strukturnya, gaya bahasa tulisan Wahid cenderung seperti seorang pujangga, mendayu-dayu.

Kritikan itu tak membuatnya mengkeret. Wahid menjadi tertantang menghasilkan karya lebih baik dengan masuk ke jurusan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS). “Biar bisa menulis. Tetapi ternyata di sana nggak ada pelajaran menulis, tampaknya saya salah jurusan,” kata dia.

Tak ingin berhenti mencari sumber inspirasi, dia memilih bergabung dengan komunitas penulis di Kota Bengawan. Yakni Forum Lingkar Pena (FLP) dan Show Our Talent on Baca, Bahas dan Tulis (Soto Babat).

Sudah tujuh tahun bergabung dengan komunitas penulis, Wahid merasa gundah lantaran tak memiliki karya berbentuk buku. “Katanya penulis, mana bukunya? Di situ kadang saya merasa tidak selevel dengan mereka (anggota komunitas lain),” jelasnya.

Awal 2016, Wahid berusaha keras menelurkan karya. Satu idenya adalah membuat biografi ulama besar di Kota Solo. Rencana dimatangkan. Mulai dari pengumpulan materi, pendalaman, wawancara, menerbitkan hingga launching buku.

Sejumlah narasumber telah diwawancara. Persentase materi tulisan sudah menyentuh 99 persen. Naskah yang dibuat pun disampaikan kepada pihak pemberi izin penerbitan biografi ulama yang bersangkutan. “Banyak yang perlu direvisi. Ada juga yang dilarang untuk dituliskan,” ujar dia.

Wahid kian menggebu-gebu karena memasuki tahap akhir penulisan. Tetapi alangkah terkejutnya saat mengetahui hard disk yang berisi karya biografi ulama tersebut hilang. Sudah dicari-cari tak ditemukan.

“Tulisan saya simpan di laptop dan hard disk. Laptop sudah saya jual sebelumnya, yang ada laptop baru. Satu-satunya file tersisa hanya di hard disk itu,” katanya.

Napasnya tertahan beberapa saat. Tubuhnya lunglai tak berdaya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu, Wahid yang biasanya memiliki semangat membara hanya mengisi harinya dengan kekosongan.

Terpukul karena karya besarnya pupus, Wahid mencoba bangkit. Dia kembali ke khitah sebagai penyuka tulisan ringan yang menghibur. “Karena penulis idola saya Ahmad Tohari, saya bertekad membuat novel, atau cerpen (cerita pendek) minimal,” ucapnya.

Di benaknya sudah menggelayut ribuan ide menulis cerpen. Sebagian besar adalah pengalaman pribadinya. Sembari mengumpulkan mood, Wahid mulai menulis satu per satu cerpen yang rencananya dibukukan.

Satu dua cerpen berhasil dia tulis tak lebih dari 24 jam di sela aktivitas harian yang padat. Jam tidur dipangkas untuk menuntaskan “dendam”. Akhirnya Wahid berhasil menulis 16 cerpen yang mencapai lebih dari 100 halaman. Cukup menjadi sebuah buku. “Saking dendamnya, saya selesaikan (16 cerpen) cuma seminggu,” tandas Wahid.

Tak mau pikir panjang, pada hari itu juga, Wahid mengoperasikan mesin mencetak tulisan menjadi sebuah buku. Cetakan pertama, dia hanya membuat 50 eksemplar. Akhirnya, dia mampu menyelesaikan karyanya yang diberi judul ‘Balada Pensil yang Tertukar’ tepat pada hari ketujuh. Wahid tak sabar memamerkan karyanya tersebut ke sang idola, Ahmad Tohari.

“Hari itu juga saya pakai sepeda motor ke rumah beliau di Jatilawang (Banyumas). Gila sepertinya. Untung ada di rumah, saya nggak janjian dan sebelumnya nggak tahu rumahnya,” kenang Wahid.

Oleh sastrawan yang terkenal dengan karya Ronggeng Dukuh Paruk, tulisan Wahid diapresiasi. Beberapa nasihat dan catatan terhadap potensi menulisnya pun didapat sebagai penyuntik semangat. “Dendam saya belum terbalaskan. Kalau merasa sudah terbalas, saya akan malas berkarya,” tegas dia. (wa)

(rs/irw/bay/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia