Sabtu, 29 Jul 2017
radarsemarang
Radar Semarang

Tak Ingin Kesemrawutan Pindah ke Kota Lama

Jumat, 14 Jul 2017 15:51 | editor : M Rizal Kurniawan

MENUJU WARISAN DUNIA: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu (kiri) saat meninjau pembangunan pedestrian di Jalan Letjen Suprapto, kawasan Kota Lama Semarang.

MENUJU WARISAN DUNIA: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu (kiri) saat meninjau pembangunan pedestrian di Jalan Letjen Suprapto, kawasan Kota Lama Semarang. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG - Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menegaskan wahana permainan sepeda hias di Simpang Lima Semarang harus ditata karena membuat semrawut. Ada wacana permainan sepeda hias tersebut dipindah ke Kota Lama. Namun Ita - sapaan akrab Hevearita - menegaskan pihaknya tidak menginginkan kesemrawutan Simpang Lima pindah ke Kota Lama. 

Dia keberatan jika pemindahan tersebut dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, Kota Lama saat ini masih dalam proses penataan. ”Saya minta jangan dulu, tetap ada wacana tersebut, tapi kami benahi dulu Kota Lama,” kata wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang ini. 

Dia khawatir, penataan sepeda hias dipindah ke Kota Lama tanpa persiapan, maka akan membuat pusing. ”Biarkan penataan Kota Lama selesai dahulu karena sekarang ini hanya tinggal menunggu pembangunan kantong-kantong parkir. Tapi kami targetkan tahun ini (sepeda hias) bisa dipindah. Kami kejar Kota Lama agar cepat selesai,” katanya. 

Dijelaskan, penataan tidak bisa dilakukan dalam sehari-dua hari. Prinsipnya, sepeda hias perlu ditata, tetapi diperlukan adanya kesiapan. ”Jika Kota Lama sendiri belum tertata, dikhawatirkan justru akan membuat kesemrawutan di Simpang Lima pindah ke Kota Lama,” katanya. 

Saat ini, pihaknya masih menunggu pembuatan kantong parkir dan pengalihan lalu lintas di Kota Lama. Lalu lintas di Kawasan Kota Lama akan ditutup dan tidak boleh dilewati kendaraan, sehingga harus ada kantong parkir dan pengalihan arus lalu lintas. 

Untuk penataan itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan kepolisian, Satpol PP dan Dinas Perhubungan. ”Penutupan arus lalu lintas di Kota Lama tidak boleh dilakukan parsial, karena menunggu kantong parkir selesai. Kalau semua sudah ditata, baru pelan-pelan mengalihkan arus lalu lintas,” terangnya.

Sedikitnya, disiapkan sebanyak empat titik kantong parkir. Yakni di Jalan Sendowo, Jalan Branjangan, di depan Kantor Satlantas Polrestabes, dan di areal gedung PGN. ”Bahkan banyak tempat lainnya yang menawarkan untuk dijadikan kantong parkir, misalnya PTPN,” katanya. 

Wacana pemindahan wahana permainan sepeda hias Simpang Lima ke Kota Lama sebelumnya disampaikan oleh Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi. Ia menilai, keberadaan praktik bisnis sewa-menyewa wahana permainan anak, mulai permainan motor trail mini, mobil mini, sepeda dan becak hias, di pedestrian Simpang Lima Semarang, tidak boleh dibiarkan. 

Pasalnya, Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan jantung kota tersebut seharusnya berfungsi sebagai tempat berinteraksi santai bagi masyarakat. ”Tetapi taman kota ini justru disalahgunakan untuk aktivitas bisnis persewaan permainan anak, sepeda dan becak hias. Sehingga membuat pemandangan kota semrawut,” katanya. 

Sewa-menyewa permainan anak tersebut menggunakan fasilitas publik dan tidak sesuai peruntukan. Bahkan belakangan diketahui bisnis sewa-menyewa wahana permainan di Simpang Lima Semarang tersebut ilegal alias tidak memiliki izin. Maka dari itu, DPRD Kota Semarang meminta agar Pemkot Semarang menertibkan praktik bisnis sewa-menyewa permainan anak di kawasan Simpang Lima tersebut.

(sm/amu/zal/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia