Jumat, 28 Jul 2017
radarsemarang
Features
Anak Kondektur Bus Sukses Kuliah dan Bisnis

Ulfa Nurjanah, Punya 6 Outlet Cumi Krispi, Belikan Rumah Orang Tua

Selasa, 11 Jul 2017 15:16 | editor : Ida Noor Layla

PANTANG MENYERAH: Salah satu outlet cumi krispi Mr Cuki yang dikelola Ulfa Nurjanah. (kanan) Ulfa Nurjanah di kampusnya.   

PANTANG MENYERAH: Salah satu outlet cumi krispi Mr Cuki yang dikelola Ulfa Nurjanah. (kanan) Ulfa Nurjanah di kampusnya.   (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG )

Ulfa Nurjanah tak hanya cerdas, tapi juga berjiwa entrepreneur. Di sela kuliah, mahasiswi program bidikmisi ini mengelola usaha kuliner beromzet puluhan juta rupiah. Hebatnya, dia tetap mampu berprestasi di kampusnya, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Bahkan, besok (12/7), putri kondektur bus ini akan diwisuda dengan IPK 3,64 (cumlaude).

BAGI Ulfa Nurjanah, hidup dalam kemiskinan bukanlah sebuah halangan untuk berprestasi. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Ekonomi Program Studi Manajemen Universitas Negeri Semarang (UNNES). Rabu (12/7) besok, putri keempat pasangan Sunjoyo, 58, dan Mafrikhatun, 53, warga Pakembaran, Slawi, Tegal, ini akan diwisuda. Ia lulus dengan predikat cumlaude, dengan masa studi 3 tahun 9 bulan.

Selain berprestasi di bidang akademik, dara cantik kelahiran Brebes, 17 September 1995 ini sukses mengelola bisnis kuliner. Ia memiliki enam outlet cumi krispi dengan brand Mr Cuki. Ulfa sendiri kuliah dengan keterbatasan ekonomi. Ayahnya bekerja sebagai kondektur bus dengan penghasilan tidak menentu.

”Bapak saya harus menghidupi empat anaknya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (10/7) siang.

Untuk biaya sekolah, ibunya harus ikut membanting tulang dengan menjadi penjual sayur keliling kampung. Lebih miris lagi, keluarganya harus pindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lainnya, karena tidak punya rumah sendiri.

Setelah lulus SMK Negeri 1 Slawi, Ulfa bertekad untuk melanjutkan kuliah. Namun lagi-lagi keterbatasan biaya menjadi kendala. Ulfa tidak kehabisan akal. Ia mencoba mendaftar di UNNES lewat jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Ia ikut program bidikmisi yang memang diperuntukkan bagi calon mahasiswa tidak mampu namun berprestasi. ”Saya sempat khawatir dengan biaya, apalagi bapak saya penghasilannya tidak menentu, namun dengan usaha dan doa, saya coba ikut SNMPTN dan program bidikmisi,” tuturnya.

Perjuangan Ulfa membuahkan hasil. Ia lolos seleksi SNMPTN dan mendapatkam bantuan bidikmisi dari pemerintah. Sehingga kedua orang tuanya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk studinya. ”Saat saya sudah diterima dan harus kuliah, saya minta restu kepada orang tua serta punya tekad tidak akan merepotkan keduanya. Dengan bekal uang dari tabungan selama sekolah sebesar Rp 200 ribu dan tiket kereta api yang dibelikan ibu, saya mencoba mengadu nasib ke Semarang,” kenangnya.

Perjuangannya untuk kuliah bisa dibilang tidak mudah. Mahasiswi angkatan 2013 ini terbentur dengan rumah tinggal atau indekos selama kuliah. Pada awal semester, ia pun terpaksa menumpang di kamar kos salah satu temannya. Setelah uang saku sebesar Rp 600 ribu dari beasiswa bidikmisi cair, ia pun menggunakan untuk mencari tempat kos sendiri. ”Awal pertama kuliah saya nunut di kos teman, karena uang yang saya bawa hanya cukup untuk makan,” ujarnya haru.

Dengan sisa uang bidikmisi yang tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari, Ulfa pun kemudian memutar otak dan mencari jalan bagaimana agar tak merepotkan kedua orang tuanya. Saat kuliah, ia melihat jika ada teman jualan makanan di kampus. Hingga akhirnya manfaatkan uang bidikmisi untuk berjualan juga.

”Sisa uang bidikmisi saya jadikan modal untuk jualan online sepatu, jam tangan, baju dan tas, karena waktunya tidak terlalu mengganggu kuliah. Alhamdulillah bisa mendapatkan tambahan jajan dan bisa ditabung,” kenangnya.

Dari semester pertama hingga semester empat, ia terus menekuni bisnis jual beli online. Baru pada tahun ketiga kuliah, Ulfa berusaha menambah penghasilan dengan mendaftar kerja part time menjadi beauty agent dan make-up artist untuk acara wisuda dan wedding. Ia tak menyesal masa kuliahnya ia habiskan untuk bekerja dan tidak punya waktu untuk nongkrong seperti teman-teman sebayanya.

”Jadi beauty agent saya punya uang tambahan, namun jualan online-nya tetap jalan. Akhirnya saya beli peralatan rias untuk mencoba make-up artist dan rias wedding, per orang saya bisa mendapatkan Rp 200 ribu untuk ditabung,” jelasnya.

Meski telah memiliki penghasilan sendiri dan cukup untuk biaya hidup, Ulfa tidak berpuas diri. Ia kembali memutar otak dengan mencoba bisnis kuliner. Kebetulan ia mendapatkan inspirasi program Presiden RI Joko Widodo dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk gemar memakan ikan. Kesempatan tersebut tidak ia sia-siakan hingga pada Februari lalu, ia merintis usaha kuliner. Ia memilih usaha kuliner seafood yang menurutnya memiliki pangsa pasar dan peluang yang cukup besar.

”Untuk modal awal sebesar Rp 10 juta, saya menggunakan tabungan saya. Karena belum cukup, saya mengajak teman untuk menambah modal,” katanya.

Usaha kuliner tersebut ia beri nama Mr Cuki, singkatan dari Cumi Krispi. Usaha dirintis sejak Februari lalu terus berkembang pesat, dan kini punya 6 outlet. Yakni, tiga di Semarang, antara lain di sekitar kampus UNNES Sekaran, Sampangan dan Tlogosari, sedangkan tiga lagi di Jepara, di salah satu wilayah teman bisnisnya. Total ada 12 karyawan yang ia pekerjakan yang mayoritas mahasiswa dari keluarga tak mampu.

”Awal saya buka outlet di sekitar UNNES, sampai akhirnya berkembang dan bertambah banyak,” ujarnya bangga.

Dari 6 outlet-nya itu, dalam sehari rata-rata bisa mendapatkan hasil yang tidak kecil. Bahkan sampai jutaan rupiah. ”Alhamdulillah saya bisa membelikan rumah orang tua dengan cara patungan dengan kakak saya. Soalnya selama ini kami selalu berpindah, karena masih ngontrak,” katanya.

Setelah diwisuda besok, ia punya obsesi untuk terus mengembangkan bisnisnya hingga punya ratusan outlet. Selain itu, ia ingin melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Ulfa, rezeki yang terus mengalir dari Sang Pencipta ini lancar karena doa dari kedua orang tuanya dan usaha keras untuk mengentaskan kemiskinan yang selama ini membelenggunya. ”Alhamdulillah setelah berhijab, semuanya bertambah lancar,” ucapnya penuh syukur.

Menurut dia, orang yang tidak mampu pun punya kesempatan yang sama dalam pendidikan, salah satunya adalah dengan memanfaatkan program bidikmisi. Tujuan dari bidikmisi sendiri adalah beasiswa atau bantuan bagi orang yang tidak mampu, namun punya tekad yang kuat untuk maju dan berkembang.

”Saya pikir teman-teman yang lain pasti bisa, ada yang lebih dari saya. Bidikmisi itu digunakan sebagai sarana motivasi untuk menjadi yang lebih baik, dan mengentaskan kemiskinan,” ujar dara yang akan memberikan pidato motivasi untuk mahasiswa pada wisuda besok.

(sm/den/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia