Rabu, 26 Jul 2017
radarsemarang
Features
Romantika Pernikahan Beda Usia

Kadang Perlu Turunkan Usia agar Selaras

Minggu, 09 Jul 2017 23:10 | editor : Agus Purwahyudi

ROMANTIS : Suplier dan pengecer daging sapi dan ayam di Pasar Jatingaleh Semarang, Suyetno atau Yanto dan Mulyati yang menikah beda usia ini saling menjaga keharmonisan. 

ROMANTIS : Suplier dan pengecer daging sapi dan ayam di Pasar Jatingaleh Semarang, Suyetno atau Yanto dan Mulyati yang menikah beda usia ini saling menjaga keharmonisan.  (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Cinta tak mengenal generasi. Perbedaan umur yang terpaut jauh bukan halangan untuk merajut bangunan rumah tangga. Bahkan, tak kalah harmonis dengan pasangan suami istri (Pasutri) yang seumuran. Bagaimana kisahnya?

BEDA usia 9 tahun tak menghalangi cinta suplier dan pengecer daging sapi dan ayam di Pasar Jatingaleh Semarang yakni Suyetno yang akrab disapa Yanto ini, untuk mempersunting Mulyati. Yanto, pria kelahiran Madina, 31 Januari 1984 ini, mulai mengarungi bahtera rumah tangganya dengan Mulyati kelahiran Semarang, 17 September 1975, sejak 7 Oktober 2015 di Kota Semarang.

Di kediamannya Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik, Yanto membeber kisah kasihnya dengan sang istri. Membuktikan pepatah Jawa, semua berawal dari Witing Tresno Jalaran Soko Kulino (Cinta tumbuh karena terbiasa). 

Yanto awalnya membuka usaha kelontong di area Jalan Karang Rejo, Jatingaleh, tepatnya di sebelah Pembangkit Listrik Negara (PLN). Sedangkan sang calon istri (kala itu, red), jualan bakso tepat di sebelahnya. Lantaran setiap hari bertemu dan saling bertegur sapa, akhirnya memahami adanya persamaan pandangan hingga tumbuh cinta.

Yanto kerap membeli bakso di warungnya Mulyati sebagaimana para pembeli lain. Saking seringnya membeli bakso, Yanto kerap gombal-gombalan (merayu, red) Mulyati. “Pernah saya katakan, kalau jadi pelayan seumur hidup bagaimana? Ternyata dia justru langsung bersedia dan akhirnya kita sepakat membangun rumah tangga,” kata Yanto yang didampingi istrinya Mulyati, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kediamannya, Jumat (7/7) kemarin.

Namun untuk meyakinkan pilihannya tersebut, tidak didapat secara instan. Masih harus menjalin pacaran selama 2 tahun. Setelah merasa yakin dan paham, bahwa keduanya memiliki sifat dan kebiasaan yang sama, akhirnya memutuskan untuk menikah pada 2015 lalu.

“Walau beda usia, terpenting istri harus kembali kepada kodrat dan fitrahnya seorang istri yakni melayani suami, sekalipun saya lebih muda. Kemudian saya sebagai suami harus mengayomi,” ungkapnya.

Yanto tidak setuju kalau pernikahannya dianggap sebagai hutang budi atau lantaran kesulitan menemukan pasangan hidup yang sepantaran umurnya. Ia sendiri sebelum memutuskan bersama Mulyati, sudah pernah berpacaran dengan beberapa wanita seumuran. Namun, istrinya sekaranglah yang bisa melayaninya dengan baik dan memiliki sifat lebih dewasa dan keibuan. “Itu yang menjadikan saya yakin dalam memutuskan menikah bersama Mulyati,” tuturnya.

Makanya, saat keduanya resmi menikah, justru menutup usahanya saat kali pertama dipertemukan sebagai sepasang kekasih yakni usaha kelontong dan warung bakso. Keduanya memilih banting setir mendirikan usaha baru yang dirintis bersama yakni supplier daging sapi dan ayam di Pasar Jatingaleh yang dibuka rutin setiap hari dari pukul 06.00 hingga 09.00.

Keduanya bersyukur, hingga saat ini tidak memiliki hambatan dalam mengatasi kesulitan mengarungi bahtera rumah tangga. Menurutnya, hal itu karena pola pikir dirinya dan istrinya sudah sama, sehingga apapun masalah dapat diatasi, karena sudah sejalan.

“Kalau terjadi cek cok, saya akui itu sifat umumnya banyak pria. Tapi istri saya ini, benar-benar bisa melayani, sehingga bisa saling memaafkan. Dan yang terpenting terus menjaga komunikasi,” katanya penuh syukur.

Sedangkan terkait cara memadukan pola pikir dan sikap dalam menjaga keseimbangan, tidak harus disatukan. Namun harus diperkuat dengan komunikasi yang baik. Ia sendiri sering melakukan komunikasi saat akan tidur, makan dan santai bersama. “Kalau ingin memutuskan membeli sesuatu, kami diskusikan dengan baik. Jadi tetap sesuai dan ada prioritas. Terpenting, komunikasi terus dijaga,” ujarnya.

Lain halnya dengan pegawai honorer di lingkup Pemprov Jateng. Pria berumur 45 tahun pada November 2017 mendatang yang tak mau dipublikasikan namanya, memutuskan untuk menyunting wanita 27 tahun. Kehidupan rumah tangga yang dilakoni 2,5 tahun silam ini, diakuinya penuh warna melankolis-romantis.

Sejak kali pertama kenal, dia mengaku langsung menaruh hati. Meski sudah punya 1 putra, kebutuhan asmaranya masih menggema untuk terus menjalin rumah tangga. Apalagi, dia sudah bercerai dengan istrinya, 2002 silam. "Alasan bercerai, tidak perlu diceritakan," ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Semangat menjalin asmara itu membuatnya punya segala cara untuk mendapatkan sang pujaan hati. Mulai dari mencari alasan mengajak makan malam bareng, pergi ke tempat wisata, hingga berkenalan dengan keluarga masing-masing. "Saat PDKT itu, dia sudah tahu kalau saya punya anak. Keterbukaan pribadi, menjadi kunci untuk memulai sebuah hubungan," bebernya.

Pucuk di cinta, ulampun tiba. Tanpa menembak sebagai prosesi resmi pacaran, sang wanita tidak menolak ketika dibocori jadwal lamaran. Maklum, keduanya sudah kerap berjalan mesra bergandengan tangan sekira 1 tahun lebih.

Dia mengaku sengaja tidak menembak sebagai simbol dimulainya pacaran karena dirasa terlalu usang. "Rasanya kok terlalu remaja banget. Mending langsung lamar setelah ada lampu hijau," terngnya.

Selera yang kadang sudah tidak meremaja itu, diakuinya menjadi semacam kendala saat sudah berumah tangga. Perbedaan selera perlu disiasati agar pasangan beda umur 18 tahun ini bisa tetap romantis. Soal memilih fashion saja, sang pria kerap mengalah. Di suatu acara makan malam bersama, dia rela berdandan ala remaja demi memenuhi keinginan sang istri. "Sebenarnya tidak masalah. Tapi kan rasanya bukan aku banget," katanya.

Tak hanya itu, kematangan emosionalnya juga harus diselaraskan. Kadang sang pria harus menurunkan usianya agar bisa bersikap layaknya sahabat bagi sang istri. Kadang kala istri pun berusaha bersikap dewasa ketika suami dilanda masalah kerja atau masalah lain. "Kami sudah komitmen. Rumah tangga kami bukan bisa saling percaya, tapi bisa saling dipercaya. Makanya, kami sama-sama berusaha ingin mengerti satu sama lain. Bukan ingin dimengerti," paparnya.

Soal mengurus anak pun begitu. Anak semata wayang yang dibawa sang suami, dirawat bersama-sama. Sang istripun, meski belum mendapatkan keturunan, agaknya mau menyayangi anak tirinya dengan penuh kasih. Meski sang istri tidak bekerja, tetap mau membelikan mainan atau kebutuhan sekolah dari hasil menyisihkan uang belanja.

Ketika ditanya mengenai intensitas bertengkar, dia mengaku biasa saja. Tidak jauh berbeda dari pengalamannya dulu ketika berumahtangga dengan wanita yang hanya selisih 2 tahun darinya. "Pertengkaran rumah tangga itu kan sebagai bumbu. Kalau harmonis terus, malah bosenin. Adakalanya bertengkar biar tambah mengerti pribadi satu sama lain," tegasnya. 

(sm/jks/amh/ida/ap/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia