Sabtu, 22 Jul 2017
radarsemarang
Features

Laura Salvadora, Wisudawati UKSW Salatiga Peraih IPK Sempurna

Kamis, 06 Jul 2017 07:23 | editor : Agus Purwahyudi

CANTIK DAN PINTAR: Laura Salvadora menunjukkan skripsinya.

CANTIK DAN PINTAR: Laura Salvadora menunjukkan skripsinya. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Laura Salvadora tak hanya cantik, tapi juga cerdas. Mahasiswi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UKSW ini menjadi wisudawati dengan nilai sempurna. Seluruh mata kuliah yang diikuti mendapat nilai A. Seperti apa?

SOSOK Laura Salvadora sebenarnya tidak asing lagi bagi Jawa Pos Radar Semarang. Sebab, gadis kelahiran Jakarta, 16 Oktober 1992 ini kala duduk di bangku SMA pernah menjadi bintang basket DBL. Wajahnya sering terpampang dalam event basket pelajar terbesar di Indonesia tersebut.

Balik ke studinya, Laura berhasil menyelesaikan strata 1 selama 3 tahun 10 bulan dengan IPK 4,00. Ia membuat skripsi dengan judul Teaching Attitude Toward The Delivery of Grammar Teaching: Independent and Integrated Methods. Sesuai jadwal, Laura akan mengikuti wisuda UKSW pada 22 Juli mendatang.

”Saya memang berusaha dan belajar di sela berbagai kegiatan yang diikuti. Tidak ada hal khusus yang dilakukan,” jelas Laura saat ditemui koran ini di rumahnya, kemarin.

Selepas lulus SMA Lab School Salatiga, putri sulung pasangan Pdt Bagus Surjantoro dan Dolores Adelaida Louis ini memang tidak langsung masuk kuliah. Selama dua tahun, ia berkeliling dunia menjadi volunteer di kegiatan sosial keagamaan bersama ratusan pemuda lain dari 50 negara.

”Ikut pelayanan selama dua tahun ke Afrika Utara, India, Srilanka, Philipina, Spanyol, Qatar dan berbagai negara lain. Memang banyak pengalaman dan itu sangat berharga,” jelas Laura.

Kegiatan pelayanan saat ini juga tengah dilakukan adiknya, Victoria Evangelista, yang telah satu tahun berada di luar negeri. Namun, kemahirannya berbahasa asing tidak serta-merta membantunya dalam kuliah.

Ia mengakui, di awal masuk kuliah memang sangat membantu, tetapi di perjalanan, tetap ada kesulitan yang membuatnya harus belajar keras untuk menyelesaikannya. Terlebih, banyak sekali kegiatan lain yang diikutinya.

”Masih aktif di senat mahasiswa, kemudian juga ikut kegiatan drama di FBS. Masih juga ikut basket dan Duta Mahasiswa Favorit Nasional. Semua itu harus dilakukan beriringan agar bisa berjalan baik,” terang dia.

Kala menjadi duta itu, ia pernah berdandan tari gambyong. Tidak dinyana, di mata uang pecahan Rp 5.000 emisi 2017, ada gambar gadis menari gambyong yang mirip dengannya. Banyak rekan dan kerabat yang menanyakannya, namun ia tidak yakin. ”Ya memang mirip tapi entahlah,” ujarnya sambil tertawa.

Disinggung mengenai harapan ke depannya, Laura berharap bisa menjadi guru. Pasalnya, dengan menjadi guru, ia bisa berinteraksi dengan murid dan berbagi ilmu. Selain itu juga bisa ikut belajar bersama.

Sementara itu, sang ayah Bagus Surjantoro menandaskan, pendidikan dalam keluarganya memang menjadikan anak mandiri. Mulai dari kecil hingga usia 7 tahun, semua pertanyaan anak harus dijawab. Kemudian selepas itu, mulai diarahkan dan setelah dewasa akan muncul kemandirian.

”Kita semua menanamkan kasih dan kemandirian dalam mendidik anak. Adik bungsunya, JJ Peter, masih suka basket dan kini sedang mengikuti kejurda antarklub di Solo,” jelas Bagus.

Ia pun menghargai keinginan Laura untuk bisa mengaktualisasi diri sebelum masuk ke jenjang pernikahan. ”Padahal sudah kepingin momong cucu,” ujar Bagus sambil tertawa ringan.

(sm/ewb/ap/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia