Kamis, 17 Aug 2017
radarmadura
Resensi

Gairah Nasionalisme dari Pinggiran

Minggu, 13 Aug 2017 15:11 | editor : Abdul Basri

DEWASA ini negeri kita dihebohkan beragam isu kurang sedap tentang indikasi pudarnya rasa nasionalisme di kalangan anak bangsa. Munculnya kelompok anti-Pancasila, misalnya, disebut-sebut sebagai pemicu keretakan sikap toleransi dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejauh ini kita memaknai nasionalisme masih pada level sederhana. Bahkan tak jarang nasionalisme bersifat abstrak. Ini terjadi karena wawasan kebangsaan yang menjadi akar lahirnya sikap nasionalisme tersebut tidak dibuatkan ruang khusus untuk segenap anak bangsa. Baru setelah polemik kebangsaan itu lahir, maka ramai-ramailah gerakan wawasan kebangsaan digeber di sana-sini.

Buku ini merupakan gambaran tentang energi nasionalisme dari potret yang berbeda. Tafsir nasionalisme dalam buku ini setidaknya dibahasakan dalam bentuk kepedulian anak bangsa yang notabene kelompok minoritas, namun memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan negerinya. Dengan demikian, nasionalisme tak lagi ada di awang-awang, namun lahir dalam bentuk tindakan konkret memaknai Indonesia sebagai rumah besar yang wajib dijaga keutuhannya.

Salah satu spirit yang dibangun dalam upaya menanamkan sikap nasionalisme dalam buku ini adalah ditanamkannya keyakinan. Bahwa rumah yang kita punya adalah milik kita, dan tak ada yang bisa menentukan bersih tidaknya rumah tersebut selain kita yang memilikinya. Maka negeri ini adalah milik kita dan kitalah yang punya andil besar untuk menjadikan rumah itu bersih.

Inilah spirit nasionalisme kaum pinggiran, membangun keyakinan bahwa kita sukses dan berhasil bukan karena siapa-siapa, tapi karena diri kita sendiri. Begitu pula dalam upaya menjaga rumah besar bernama Indonesia. Bahwa, keberhasilan dan kebahagiaan hidupmu terutama tidak tergantung pada keadaan-keadaan baik atau buruk di luar dirimu, melainkan tergantung pada kemampuan ilmu dan mentalmu menyikapi keadaan-keadaan itu (hlm. 56).

Merawat nasionalisme berarti menjaga harkat dan martabat sebuah bangsa. Buku ini mengajari kita bahwa menjaga martabat adalah menjaga apa yang kita punya. Di saat kita menjaga apa yang kita punya tidak harus mengorek-ngorek apa yang dimiliki orang lain.

Oleh sebab itu, nasionalisme kaum pinggiran yang diurai dalam buku ini mengarah pada lahirnya sikap toleransi yang utuh. Apa pun yang dimiliki oleh bangsa lain itu adalah milik mereka. Tak ada hak bagi kita untuk mengorek-ngorek milik mereka. Namun demikian, mereka juga tidak boleh mengorek-ngorek apa yang kita punya.

Emha Ainun Nadjib dalam buku terbitan Bentang Pustaka ini betul-betul merekam denyut nadi nasionalisme anak bangsa, termasuk dari kelompok akar rumput. Jika makna nasionalisme sudah tertafsirkan secara konkret seperti pada uraian-uraian di atas, sangat mungkin keutuhan NKRI ini bisa terwujud dengan sebenar-benarnya. Sudah waktunya kita sadar diri tentang signifikansi pendidikan nasionalisme yang mengakar, dan bersifat praktis, tidak hanya berkutat pada tataran teoretis yang ujungnya hanya menjadi wacana abstrak.

Indonesia adalah bangsa yang sangat besar dan kaya raya. Maka jangan biarkan kebesaran bangsa ini tiba-tiba keropos lantaran ulah segelintir orang yang tak memiliki rasa cinta terhadap rumah besarnya tersebut.

Buku ini berupaya menggali dasar nasionalisme yang konkret. Mengajak segenap elemen bangsa untuk bisa hadir menjadi tuan rumah yang baik bagi rumah mereka sendiri sehingga NKRI terus terjaga hingga akhir masa. (*)

AHMAD WIYONO

Pegiat literasi dan peneliti di Universitas Islam Madura (UIM)

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia