Senin, 21 Aug 2017
radarmadura
Resensi

Menatap Wajah Islam di Nusantara

Minggu, 13 Aug 2017 15:10 | editor : Abdul Basri

Identitas muslim Indonesia tidak tergantung pada tokoh agama, kekuasaan, dan organisasi kemasyarakatan. Sepenuhnya dijaga kesanggupan masing-masing untuk terus mempertahankan corak keislaman di tengah gempuran perang budaya global.

TERMINOLOGI Islam Nusantara menjadi tema utama pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang, Jawa Timur, 2015 lalu. Sejak itu, istilah Islam Nusantara menjelma sebagai diskursus keilmuan yang menarik. Seperti biasa, pada setiap wacana ilmiah apa pun, sikap pro dan kontra sudah tentu selalu ada. Buku ini terasa penting untuk dibaca dan dijadikan sebagai salah satu sumber bacaan karena beberapa pertimbangan.

Menurut Ketua Umum PB NU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., Nahdlatul Ulama sebagai penggagas terminologi Islam Nusantara didudukkan sebagai entitas yang terus bergerak secara dinamik. Pasang surut dan dinamika NU dalam merawat Islam yang ramah dikaji dengan pendekatan yang tidak hitam putih. Di sinilah keunggulan buku ini (hlm. viii). Ini pertimbangan pertama.

Pertimbangan berikutnya adalah membaca buku ini tak ubahnya sedang menatap sebagian kecil dari gambar besar wajah praktik keislaman masyarakat muslim di bumi Nusantara. Perkawinan antara implementasi spirit keislaman dengan kultur lokal menghasilkan corak perilaku –amaliah yaumiyah– khas di setiap daerah. Akumulasi kekhasan inilah yang memperkaya perilaku sosial budaya masyarakat muslim Indonesia dan ini yang menjadi identitas utama Islam Nusantara.

Buku ini tidak hanya berisi kumpulan kata dan kata saja. Hampir di setiap halaman terdapat gambar berwarna yang terkait dengan uraian isi buku sehingga pemahaman pembaca akan suatu hal tidak berada di ruang kosong. Tapi, langsung menemukan wujudnya yang konkret. Karenanya, segmen pembaca buku ini bisa menjadi luas. Tidak hanya difokuskan pada kalangan akademisi an sich.

Selain itu, hal menarik lainnya adalah untuk mengantarkan pada pemahaman yang utuh atas konsep Islam Nusantara. Penulis mengawali dengan uraian tentang agama asli manusia nusantara. Kemudian dilanjutkan dengan kajian atas delegasi nusantara yang menemui Rasulullah.

Pendek kata, penulis menggunakan pendekatan historis untuk menggiring pemahaman pembaca. Dengan begitu, pemahaman atas terminologi Islam Nusantara tidak hanya berangkat dari pendekatan definitif semata. Tapi juga memiliki titik pijak sejarah yang kuat.

Adapun pertimbangan terakhir karena Muhammad Sulton Fatoni, sebagai penulis Buku Pintar Islam Nusantara merupakan salah seorang intelektual muda NU yang sudah lama berkecimpung sebagai pengurus besar. Sebagai pengurus NU yang sekaligus juga akademisi di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Penulis telah banyak menghasilkan karya-karya tentang NU seperti NU, Identitas Islam Indonesia; NU, Ideologi, Garis Politik dan Cita-cita Pembentukan Khaira Ummah, Kaum Muda NU dalam Lintas Sejarah; NU, Muslimat dan Ulama Perempuan; dan sebagainya.

Keragaman sudut pandang pada karya-karya tersebut mengindikasikan bahwa kegelisahan intelektual penulis tentang NU begitu luas dan mendalam. Keluasan dan kedalaman pemikiran Muhammad Sulton Fatoni kembali nampak di buku ini dalam membahas istilah Islam Nusantara (hlm. 190–200).

Ulasannya terkait definisi Islam Nusantara juga merespons kesalahpahaman pihak-pihak yang mencoba memahami Islam Nusantara dengan pendekatan ilmu linguistik Arab. Bahkan, untuk mempertegas relasi Islam Nusantara dengan Nahdlatul Ulama, penulis menyajikan tiga uraian penting. Menurutnya, ketiga hal tersebut menjadi dasar signifikan dan pemakluman kenapa pada Muktamar ke-33 di Jombang, Nahdlatul Ulama mengusung Islam Nusantara sebagai narasi besarnya.

Terlepas dari sikap pro kontra atas gagasan Islam Nusantara, buku ini pada dasarnya dapat membuka kembali kesadaran kita. Bahwa, masa depan eksistensi identitas masyarakat muslim Indonesia tidak tergantung pada pesona tokoh agama, kekuasaan negara, dan organisasi kemasyarakatan. Tapi, sepenuhnya dijaga oleh kesanggupan masing-masing kita untuk bangga dan terus mempertahankan corak keislaman lokal di tengah-tengah gempuran perang budaya global. (*)

ACHMAD FAESOL

Dosen IDIA Prenduan Sumenep

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia