Sabtu, 22 Jul 2017
radarmadiun
Features
Ajeng Eka Widyawati Tekuni Usaha Kreatif

Pakai Cat Tahan Luntur, Lukisan Disetrika Terbalik agar Lebih Awet    

Senin, 10 Jul 2017 17:00 | editor : Budhi Prasetya

Ajeng Eka Widyawati (kanan) dan Yessica Seprimardhani memamerkan bantal lukis usaha kreatifnya.

Ajeng Eka Widyawati (kanan) dan Yessica Seprimardhani memamerkan bantal lukis usaha kreatifnya. (Deni Kurniawan/Radar Madiun)

Coba-coba menghias bantal sofa dengan lukisan wajah anggota keluarganya, Ajeng Eka Widyawati akhirnya keterusan. Dia kebanjiran order bantal lukis. Butuh ketelatenan membuat sketsa wajah di atas kain lalu mewarnainya sebelum menjahitnya menjadi pembungkus bantal. Dia sengaja berkongsi dengan teman semasa SMA yang jago dalam hal pemasaran. 

DENI KURNIAWAN, Madiun

RUANG seukuran 3x3 meter bercat putih itu menjadi workshop bagi Ajeng Eka Widyawati. Ada rak penuh berisi bantal beragam ukuran berdiri di sudut ruangan. Bantal-bantal itu berhiaskan lukisan wajah manusia. 

Di samping rak, seorang perempuan berjilbab serius melukis di bentangan kain ukuran 30x30 sentimeter. Berbagai ukuran kuas dan palet penuh bercak cat berserakan di atas meja kerja setinggi 0,5 meter. 

‘’Ada pesanan bantal lukis  untuk acara ulang tahun,’’ kata Ajeng Eka Widyawati di ruang kerjanya. 

Membuat bantal lukis kini menjadi keseharian Ajeng. Bantal berbagai ukuran sengaja dihiasi lukisan wajah pemesan. Ajeng menekuni usaha kreatif ini sejak dua tahun lalu. Susahnya berpromosi hingga kewalahan memenuhi pesanan sudah dilakoninya. 

Ide awal didapat ketika dia iseng-iseng melukis di bantal sofa rumahnya. Lukisan wajah anggota keluarga yang dibuat Ajeng, Agustus 2015, menjadi cikal bakal usaha kreatif bantal lukis. 

‘’Basic saya bukan pelukis,’’ jujur Ajeng. 

Warga Jalan Toto Tentrem, Desa Bangunsari, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, itu lebih dulu membuat sketsa wajah dengan pensil di atas kain. Ajeng baru mewarnainya setelah sketsa rampung. Lukisan kelar, kainnya lantas dijahit membungkus bantal sebagai sisi depan. 

Tanpa disangka, upload pertama lukisan di atas bantal langsung mengundang respons masuk ke BBM-nya. Chat itu berisi pesanan bantal lukis yang harus rampung esok harinya. 

‘’Foto wajah yang harus dilukis juga dikirim ke saya,’’ kenangnya. 

Perasaan pempuan 23 tahun itu senang bercampur bingung melayani pesanan perdananya. Ajeng memberanikan diri membuat sketsa sebelum mewarnainya dengan cat. 

Beruntung ayahnya seorang penjahit sehingga bisa membantu merampungkan pesanan bantal itu dalam semalam.  

‘’Saya kebut malam itu juga karena dapat pelanggan pertama,’’ ucap sulung dua bersaudara pasangan Joko Widodo dan Sri Sundari itu.

Pesanan ternyata mengalir di hari-hari berikutnya. Mayoritas pemesan dari kalangan remaja yang ingin memberi hadiah khusus untuk teman dekat. Kendati pasang surut, Ajeng merasa bersyukur kesibukan membuat bantal lukis mampu mengisi hari-harinya. 

’’Sebelumnya saya pernah bekerja sebagai admin di salah satu CV. Berhenti  karena jenuh,’’ terangnya.

Ajeng kini sudah ambil keputusan menekuni usaha kreatif bantal lukis. Keinginan memasarkan karya lebih luas membuatnya teringat nama Yessica Seprimardhani. Ya, Yessica adalah teman Ajeng semasa menuntut ilmu di SMKN 4 Kota Madiun dulu. 

‘’Yessica sudah akrab dengan jual beli online. Kami berdua mulai bekerja sama sejak awal akhir 2015 lalu,’’ tambahnya.

Usaha yang dilakukan Ajeng berbuah hasil. Bantal lukis buatannya kebanjiran pesanan. Tak urung, jam kerjanya sekarang ikut bertambah. 

Ini berbanding lurus dengan tingkat kemiripan lukisan yang dia buat. Dia betah berlama-lama membuat sketsa wajah para pemesan bantal lukisnya. 

‘’Setelah diwarnai cat kain, saya perkuat karakternya dengan spidol water proof,’’ jelasnya.

Ajeng mengklaim cat yang dipakainya tahan luntur. Untuk menambah kekuatan, dia sengaja menyetrika lukisan yang sudah jadi dengan teknik membalik kainnya. Mesin setrika tidak boleh kelewat panas. Ajeng juga menjahit sendiri kain pembungkus bantal berisi dakron. 

‘’Pada sisi lukisan, saya beri lembaran busa agar tampilan gambarnya lebih jelas,’’ ucapnya. 

Ajeng menyebut musim nikah dan wisuda menjadi masa panennya. Bantal ukuran 30x30 sentimeter yang laku keras. Ketika banyak pesanan datang, Ajeng biasa lembur hingga dini hari. Dia menyebut pembuatan sketsa paling memakan waktu. 

‘’Sebisa mungkin harus mirip dengan wajah aslinya,’’ ungkap Ajeng.

Sering kewalahan melayani pesanan, Ajeng kini menerapkan teknik sketsa printing. Lama pekerjaan terpangkas separo. Namun, pewarnaan tetap dilakukan secara manual. Dia mengaku mendapat penghasilan yang terbilang fantastis dari produksi bantal lukis kendati musiman. 

‘’Sekarang punya beberapa reseller, sebagian di luar Madiun,’’ ujarnya. ****

(mn/mg8/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia