Jumat, 28 Jul 2017
radarkudus
Features
Dwi Yusi Sasepti, Camat Jekulo Kudus

Camat Perempuan Satu-satunya di Kota Kretek

Senin, 17 Jul 2017 09:16 | editor : Ali Mustofa

Dwi Yusi Sasepti

Dwi Yusi Sasepti (FOTO-FOTO DOK PRIBADI)

Sejak 30 Mei 2017 lalu Dwi Yusi Sasepti resmi menjadi Camat Jekulo. Dia menjadi camat perempuan satu-satunya di Kudus. Kendati dari kaum hawa, dia tak ingin kalah dengan kecamatan lainnya yang dipimpin kaum Adam. Perempuan pun merelakan waktunya 24 jam untuk mengurusi warga di kecamatannya.

AGUS SULISTIYANTO, Kudus

MENGUNJUNGI warga di Kecamatan Jekulo menjadi kegiatan rutin Dwi Yusi Sasepti saat ini. Perempuan satu ini semakin sering berhubungan dnegan masyarakat langsung setelah resmi menjadi Camat Jekulo.

Hal itu berbeda dengan jabatan yang diemban sebelumnya, sebagai kabid di Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kudus, di mana jam kerjanya seperti kebanyakan PNS lainnya, dari pagi hingga sore.

Saat ini, aktivitas Yusi –sapaan akrabnya- di luar kantor lebih sering. Tak hanya pada jam kerja, melainkan juga sampai tengah malam. Seringkali ada undangan dan koordinasi yang terkadang sampai malam hari. Kunjungan ke warga juga lebih banyak, terutama saat ada keluhan dari masyarakat hingga menyukseskan program pemerintah.

Seperti pembagian beras sejahtera (rastra). Yusi harus melihat langsung ke lapangan untuk memastikan pembagian berjalan lancar dan sesuai aturan. Bahkan saat kali pertama menjabat terjadi bencana puting beliung, dia langsung terjun lapangan walaupun saat itu sudah malam hari.

Bagi Yusi, aktivitas tersebut tidak mengagetkannya, karena dia sudah pengalaman mendampingi suaminya, Bergas Catursasi Penanggungan ketika menjadi camat Kota (saat ini menjabat kepala BPBD Kudus). ”Saya jadi Bu Camat delapan tahun. Jadi sedikit banyak sudah tahu. Belajar dari suami,” katanya kemarin.

Dia mengakui, menjadi camat cukup melelahkan. Namun ada rasa bahagia dalam setiap aktivitasnya, terutama saat berbincang dengan warga langsung. Banyak masukan yang diberikan. Terlebih warganya juga ramah.

Dengan menjadi camat, dia bisa merasakan apa yang dirasakan warga dan tahu harapannya. Saat berinteraksi dengan warga itulah, dia merasa bahagia, walaupun untuk kerja lebih berat, bahkan waktu libur terkadang harus masuk. ”Ritme kerja sebagai camat sudah saya pahami sejak suami menjadi camat selama delapan tahun,” terangnya.

Meski perempuan, dia tidak mau menjadikan alasan untuk tidak bekerja all out. Dia sudah berikrar akan menghibahkan pikiran, tenaga, dan waktunya untuk masyarakat Kecamatan Jekulo.

Yusi pun menjalaninya dengan ikhlas, karena dia menemukan kebahagiaan setiap aktivitasnya. Apalagi ketika bisa membantu warga yang kurang beruntung di Kecamatan Jekulo melalui program pemerintah.

Seperti beberapa waktu lalu, dia mengunjungi rumah warga yang kondisinya cukup memprihatinkan. Tembok rumahnya pecah-pecah, atap gentengnya sudah rusak, sehingga dirinya bisa membantu melalui program bedah rumah. Rumah tersebut menjadi salah satu prioritas yang mendapatkannya.

Untuk keluarga, tentunya tetap mendapatkan perhatiannya, karena dia sebagai istri sekaligus ibu. Waktu untuk keluarga tetap harus ada, namun dengan aktivitas padat seperti saat ini, keluarga sudah memahami karena tugas menjadi camat.

Tak hanya masyarakat, kepala desa juga menjadi keluarga, karena merekalah penguasa di desa-desa. Sukses tidaknya program pemerintah salah satunya tergantung dengan kepala desa. ”Koordinasi dan jagong dengan kepala desa menjadi kegiatan yang sering dilakukan,” imbuhnya.

(ks/lis/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia