Sabtu, 22 Jul 2017
radarkudus
Grobogan

Usai Lebaran Perceraian Meningkat

Sabtu, 15 Jul 2017 12:14 | editor : Ali Mustofa

MEMBELUDAK: Pemohon sedang menunggu proses sidang di Pengadilan Agama Purwodadi kemarin (14/7).

MEMBELUDAK: Pemohon sedang menunggu proses sidang di Pengadilan Agama Purwodadi kemarin (14/7). (INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

GROBOGAN – Pernikahan yang seharusnya menjadi hal sakral, kini tidak diindahkan pasangan suami istri (pasutri). Faktor ekonomi menjadi pemicu utama masalah perceraian. Dari data di Pengadilan Agama (PA) Purwodadi, pasca-Lebaran kasus perceraian terus meningkat hingga kemarin.

Humas PA Kabupaten Grobogan Zuhdi Muhdlor mengatakan, setelah Lebaran pengajuan perceraian mengalami peningakaatan. Pada Mei lalu ada 202 kasus. Sedangkan Juni atau Ramadan ada sebanyak 91 perkara. ”Namun baru sepekan setelah Lebaran sudah ada 105 perkara. Dari data tersebut, artinya angka perceraian meningkat drastis,” jelasnya.

Zuhdi menjelaskan, sejak Januari sampai akhir Juni ada 1.559 perkara perceraian dan yang sudah diputus ada 856 perkara. Selain itu, masih 553 sisa perkara tahun lalu.

Di antara penyebab perceraian dari jumlah tersebut, didominasi faktor ekonomi. Selain itu, ada juga karena poligami, krisis anak, kawin paksa, tidak tanggung jawab, kawin di bawah umur, kekerasan jasmani dan mental, cacat biologis, dan perselingkuhan.

Salah satunya yang dialami Sakimin, warga Desa Karangrejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Ia mengajukan perceraian karena permasalahan ekonomi. ”Saya sudah menjalani dua kali sidang perceraian. Saya ajukan perceraian karena faktor ekonomi. Kebutuhan keluarga semakin banyak, sedangkan saya sudah tidak sanggup lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Terpisah, salah satu pengacara, Sutomo saat mendampingi pemohon mengatakan, perceraian di Grobogan memang masih tergolong tinggi. Bahkan, didominasi pasangan muda.

”Selama saya mengani kasus, faktor ekonomi memang mendominasi penyebab perceraian. Meski orang tua pasangan sudah menengahi, namun tidak berhasil. Akhirnya mengajukan ke PA,” terangnya.

Dia menambahkan, dengan mengajukan perceraian mereka nanti akan membangun rumah tangga baru yang lebih produktif. ”Sebab, pasangan muda tersebut sebelumnya belum siap menikah, namun ada unsur keterpaksaan,” imbuhnya. 

(ks/int/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia