Minggu, 20 Aug 2017
radarkediri
Features
Laporan Haji 2017 Langsung dari Tanah Suci

Berebut Bus Salawat, Berburu 100 Ribu Pahala

Minggu, 13 Aug 2017 23:39 | editor : Adi Nugroho

Tiba paling awal di Tanah Haram, membuat jamaah haji asal Kediri punya waktu panjang menunggu hari Wukuf. Selama menunggu, mereka melakukan umrah sunah. Juga, mengejar salat fardu di Masjidil Haram. Walaupun harus berdesakan saat naik bus pengangkut.

"Hari ini saya umrah mengambil miqot di masjid Jekrona. Rencananya besok umrah lagi ke Hudaibiyah. Mumpung di sini. Saya maksimalkan berumrah," ujar Didit Nurcahyadi. Didit adalah jamaah asal Kelurahan Lirboyo, Kota Kediri.

Selain berumrah, para jamaah bersemangat salat fardu lima waktu di Masjidil Haram. Seakan merasa kehilangan bila ketinggalan salah berjamaah.

Antusiasme jamaah karena besarnya pahala beribadah di Masjidil Haram. Dalam satu hadis diriwayatkan bahwa salat di Masjidil Haram setara dengan salat 100.000 kali di masjid lain. Inilah yang membuat para jamaah haji dari Kediri selalu bersemangat. Meskipun butuh perjuangan keras dan kesabaran ekstra.

Mereka harus bergelut melawan cuaca ekstrem. Juga berebut transportasi dengan jamaah lain dari seluruh dunia. Pemerintah memang menyediakan bus untuk jamaah Indonesia menuju masjid selama 24 jam. Tranportasi itu diberi nama bus Salawat. Kependekan dari Salat Lima Waktu.

Namun bus itu tidak hanya digunakan jamaah Indonesia. Juga jamaah haji negara lain. Paling banyak jamaah dari Turki dan India. Ada juga dari negara lainnya. Tapi tidak banyak.

Jumlah bus salawat sebenarnya banyak. Namun seakan tak mampu melayani jamaah yang terus bertambah. Selalu saja jadi rebutan.

"Padahal ini yang datang masih belum keseluruhan. Seminggu lagi akan tambah ramai," ujar Rahman, salah satu petugas tranportasi di depan hotel kami.

Sebenarnya hotel kami letaknya sangat strategis untuk menggapai transportasi. Kami berada di sisi terminal bus menuju masjid. Di daerah Masbahjin. Hotel kami hanya 500 meter dari mulut terowongan. Terowongan yang menjadi akses terdekat menuju Masjidil Haram.

Di ujung terowongan adalah terminal Bab Ali. Tepat di sisi utara masjid, di samping arena Sai Sofa Marwa. Terminal dan halaman masjid dibatasi pagar besi.  Itu bukan sekadar pagar. Juga alat untuk mengatur antrean penumpang.

Pagar itu membentuk lorong-lorong dan kotak-kotak. Hanya ada dua pintu di ujung dan pojok kotak. Sebagian lorong didesain seperti labirin. Berbelok-belok panjang. Sebelum naik bus, jamaah harus antre di situ. Berdesakan dengan jamaah negara lain.

Jelas, secara postur jamaah Indonesia kalah. Seringkali harus mengalah karena terdesak. "Saya selalu berangkat awal dan pulang akhir untuk menghindari antrean. Tapi tetap saja ramai. Ya mau bagaimana lagi. Yang penting sabar," ujar Yanik Dyah, salah seorang jamaah yang juga berstatus PNS Pemkab Kediri.

Paling rawan adalah antrean usai salat dhuhur. Karena saat itu suhu sedang sangat terik. Ditambah berdesakan di dalam pagar besi. Membuat jamaah sulit bernapas dan kepanasan.

Tak ada pohon yang bisa untuk berteduh. Hanya di bagian tertentu dari pagar itu diberi atap pelindung. Itu pun hanya sedikit. Lainnya beratap langit. Di beberapa kotak antrean ada kipas angin. Tapi seolah tak kerasa. Kalah dengan terik matahari.

Untuk mengatur antrean jamaah itu, ada petugas dari berbagai negara. Petugas itu memakai seragam dengan tulisan negara masing-masing. Selain itu, ada juga laskar berbaju doreng ikut berjaga.

Bila ramai, antrean untuk dapat bus bisa sampai satu jam. Beruntung kalau 30 menit bisa naik bus. Bila sepi, paling lama antre bisa 10 menit. Tidak bisa dibayangkan nanti jika mendekati waktu wukuf. Menurut informasi, H-7 hari wukuf  bus salawat berhenti beroperasi. Saat itu jamaah harus jalan kaki menuju masjid.

"Dinikmati saja. Ini adalah bagian dari ikhtiar kita untuk meraih pahala berlipat. Semoga seluruh jamaah selalu sehat," kata Basori, warga Bedug, Ngadiluwih. (han/fud)

Judul Sambungan\\Bisa Antre Selama Satu Jam

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia