Kamis, 17 Aug 2017
radarkediri
Features
Menelusuri Rute Gerilya Jenderal Sudirman (1)

Tempat Jenderal Atur Strategi, Kini Tinggal Puing

Minggu, 13 Aug 2017 23:35 | editor : Adi Nugroho

BERSEJARAH: Warga melihat Gedung Pagora saat ini. Gedung ini dulu digunakan Jenderal Sudirman untuk mengatur strategi perang. (M FIKRI ZULFIKAR - RadarKediri/JawaPos.com)

Sejarah kemerdekaan Indonesia tak terlepas dari sosok Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sikap pantang komprominya memberi warna pada perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang fenomenal adalah keputusannya melakukan perang gerilya. Sebagian rute gerilyanya juga melintasi wilayah Kediri.

Gedung itu sudah tinggal tembok saja. Sangat tebal. Khas tembok peninggalan zaman belanda. Jauh lebih tebal bila dibandingkan tembok-tembok bangunan zaman sekarang. Dihiasi jendela-jendela yang tinggi dan lebar. Ada tulisan berbunyi ‘Tempat Beli Karcis’ di salah satu bagian tembok.

Atap gedung itu sudah lenyap. Tak berbekas. Bila masuk ke gedung itu dan menengadah pandangan kita akan langsung ke langit biru. Tak ada bekas rangka atap lagi.

“Ini sisa-sisa Gedung Pagora. Di sini terkenalnya Gedung Bioskop Pagora.  Setelah perang memang ini jadi gedung bioskop,” jelas Ikhrom, 32.

Ikhrom adalah ketua rukun tetangga (RT) 03. Gedung Pagora itu masuk wilayah Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota, Kota Kediri.

Kini, Gedung Pagora bukan lagi gedung bioskop. Di dalam gedung itu kini berdiri rumah-rumah petak berukuran kecil, sekitar 3x4 meter. Jumlahnya sepuluh petak. Diisi oleh keluarga-keluarga yang menyewa lahan itu dari TNI AD. Menurut Ikhrom, lahan itu memang milik TNI AD. Rumah Ikhrom sendiri ada di dalam bekas bangunan bersejarah itu.

Bersejarah? Ya. Karena di gedung itulah Jenderal Sudirman pernah tinggal. Walaupun sebentar. Karena saat itu sang Jendral tengah menjalani perang gerilya menghadapi tentara pendudukan Belanda.

Ikhrom, yang baru tinggal di tempat itu 16 tahun silam, kerap mendengar cerita dari para sesepuh kampung. Yang menceritakan sang Pahlawan itu sempat berada di Gedung Pagora. Mengajak warga untuk melakukan perang gerilya.

Aksi gerilya yang dilakukan TNI selepas Belanda melanggar Perjanjian Renville dengan Agresi Belanda II pada 19 Desember 1948. Belanda langsung menyerang Ibu Kota RI, yang saat itu di Jogjakarta. Jenderal Sudirman, panglima TNI kala itu langsung mengobarkan perlawanan dengan melakukan perang gerilya. Walaupun saat itu sang Jendral didera penyakit paru-paru dan harus dirawat di RS Panti Rapih Jogjakarta.

Rute gerilyanya yang heroik itu, salah satunya melintas di wilayah Kediri. Dari Jogjakarta, ke timur melintasi Gunung Kidul hingga Solo. Kemudian ke Pacitan, Ponorogo, pasukan gerilya pun masuk wilayah eks-Karesidenan Kediri melalui Trenggalek.

“Kisah Sudirman di Kediri ini banyak dikisahkan dalam buku berjudul Soerahmad, Profil Perjuangan. Buku itu karya Sujudi Soerahmad,” terang Achmad Zainal Fachris, ahli sejarah yang juga penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) Kediri.

Buku ituditulis anak Letkol Soerahmad. Saat itu Letkol Soerahmad adalah Panglima Brigade II S. Membawahi wilayah Kediri dan sekitarnya. Soerahmadlah yang menjemput Sudirman dan anggotanya dari Trenggalek menuju Kediri. Melalui jembatan Ngujang di Tulungagung.

“Jembatan itu sempat dihancurkan dengan bom oleh anak buah Sudirman. Agar tentara Belanda tidak bisa mengejar gerilyawan,” ungkap sejarawan lulusan Universitas Negeri Malang ini.

Letkol Soerahmad menjemput Sudirman menggunakan Jeep. Mereka langsung menuju Gedung Pagora. Di gedung itulah Sudirman dan anggotanya mengumumkan dan mengajak tentara serta rakyat Kediri untuk ikut bergerilya melawan Belanda. “Di gedung itulah pertama kali rombongan berhenti di Kediri dan melakukan kordinasi terkait menggelorakan gerilya,” terang pria yang juga sebagai guru sejarah di MAN 2 Kota Kediri.

Fachris menerangkan bahwa saat itu Gedung Pagora adalah balai pertemuan warga Kediri. Di gedung itu juga kerap diadakan pertunjukan seni seperti ketoprak. Dan saat Sudirman berada di gedung tersebut merupakan hal yang krusial terkait dengan gerilya di wilayah Kediri. Karena memantapkan strategi bersama petinggi tentara yang ada di Kediri. Di tempat ini pula rakyat Kediri berbondong-bondong ikut dalam barisan gerilya atas ajakan Sudirman. “Gedung itu penting perannya untuk menggalang kekuatan untuk basis Kediri,” terang Fachris.

Sebagai penanda bahwa di wilayah itu sang Jenderal pernah berada juga dibangun patung Sudirman. Lengkap dengan jubah kebesaran dan udeng (ikat kepala). Patung setinggi  sekitar tiga meter itu berdiri di depan gang yang menuju bekas gedung Pagora.

Menurut warga, yang membangun patung itu adalah warga. Pembuatannya sekitar 1976. Sebagian warga masih ingat ketika bekerja bakti membangun patung.

 “Monumen Sudirman yang ada di pinggir Jl. Pattimura ini sebagai pengingat bahwa disini pernah didatangi Jendral Sudirman,” terang Ikhrom.

(rk/fiz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia