Kamis, 17 Aug 2017
radarkediri
Kolom

Buku dan Bola, (Bukan) Lagi Candu

Minggu, 13 Aug 2017 23:25 | editor : Adi Nugroho

RINO HAYYU SETYO

RINO HAYYU SETYO

“Tumpukan buku pada rak menjadi jablai (jarang dibelai). Sampulnya kusam dan gudang bola penuh debu”

Sore hari itu penuh dengan keringat. Menanti azan Magrib yang datang menyapa telinga para anak di tengah lapangan. Belaian angin sore terpaksa harus dilepas dan segera menuju rumah. Jika sapaan azan tak kunjung membuat para anak itu pulang, maka yang ada teriakan dari ibunda menarik telinga bocah pulang.

“Ndang adus kono, ndang sinau (segera mandi, segera belajar), kata ibu-ibu zaman kuno. Dengan nada sedikit meninggi, ia memberikan peringatan kepada sang buah hati.

Tujuannya agar anaknya tak lupa waktu. Lebih tepatnya, bisa membagi waktu yang dimilikinya seusai pulang sekolah. Kenangan semacam ini mungkin sudah jarang ada di kampung urban. Suasana kota membuat anak yang dulu punya jam belajar dan bermain kini berubah. 

Hal semacam ini mungkin kini jarang dirasakan para bocah. Sebab, untuk menghabiskan waktu mereka harus mencari tempat berkumpul dan bermain bersama. Mulai dari main bola, hingga main gejlik bahkan dakon. Karena semua itu dianggap terlalu ribet. Dan semua bisa diganti atau disederhanakan dengan gawai yang ada di tangan para anak tersebut.

Bola yang sering menjadi representasi olahraga rakyat pun tak lagi diminati. Bagaimana mau berminat, lagi pula lapangan juga tidak ada di sekitar rumahnya. Semua menjadi bangunan bertingkat. Kalau pun ada, yang bermain bola bisa dihitung jari. 

Namun, meskipun demikian setidaknya cukup melabeli diri dengan julukan suporter, sudah cukup untuk menunjukan eksistensinya menjadi pecinta sepak bola. Punya satu rasa, satu komunitas yang bisa menerimanya. 

Mereka tak tahu lagi bagaimana permainan bola dan olah raga. Kecuali yang hanya disodorkan di aula sekolah atau lapangan sekolah. 

Semua bentuk miniatur masyarakat terkungkung sekolah dan sekolah. Semua simulasi ada di sekolah. Ini sebenarnya tantangan atau beban moral sekolah? 

Ini masih soal lapangan sebagai olah fisik anak. Lalu bagaimana dengan nasib perpustakaan sekolah. Lagi-lagi mereka kosong. Adakah yang pernah memberikan survei ke instansi sekolah berapa jumlah siswa dalam sehari yang ingin membaca cerpen dan pengetahuan lainnya?

Tumpukan buku pada rak menjadi jablai (jarang dibelai). Sampulnya kusam dan gudang bola penuh debu. Tak ada lagi anak yang mau menyapa mereka. Mungkin mereka takut jika lelah membaca kertas dan mengeluarkan keringat dengan media bola.

Pernahkah sekolah memberikan kesadaran kepada para siswa jika olahraga itu mengajarkan sprotivitas? Dalam bahasa olah raga disebut sportif, dalam bahasa yang lain dimaksudkan adil.

Belum ada kamus yang menerjemahkan hal ini kepada siswa kecuali mulut dari sang guru.Lalu apa yang membuat anak-anak kita harus berkacamata? Lelah baca kertas buku tidak, akan tetapi tak jarang dari anak-anak yang masih berusia dibawah 10 tahun harus memakai kaca tambahan. Agar retinanya bisa berfungsi maksimal lagi. 

Jika sudah berkacamata, tak lagi ada yang main olahraga. Dengan alasan, jika kacamatanya dilepas nanti akan mengganggu penglihatan. Banyak sekali alasan yang membuat anak jauh dari buku dan olahraga karena alasan ini.

Namun  ada sisi lain yang harus kita cermati bersama. Yakni fenomena tentang lahirnya komunitas pengepul buku. Yang dikonversikan menjadi taman baca masyarakat (TBM) atau sejenis lainnya.

Mulai menjamur di setiap hari Minggu. Mengisi ruang kosong taman-taman kota. Dengan alas tikar, buku-buku itu dijajar. Hanya ada yang lalu lalang melewatinya. Sesekali melihat sudah bagus. Meskipun tak dibacanya. 

Namun, setidaknya jika orang tua mengajak para anak sejak membiasakan membaca mungkin bisa menjadi ingatan alam bawah sadarnya ketika ia dewasa kelak. Ini hanya soal kebiasaan olahraga dan membaca buku. Lapak-lapak bertikar itu harus bertahan di tengah serangan gawai yang menjadi salah satu instrumen wajib ditangan bocah-bocah itu. Sayangnya bukan membaca informasi atau pengetahuan.

Para anak-anak sangat asyik untuk menghabiskan waktunya di hadapan game. Seperti mobile legends kini yang tengah laris menjadi aplikasi ponsel mereka. Tak pandang jenis kelamin maupun usia. Jempol mereka bisa berjam-jam menari diatas layar kaca gadget  itu.

Kecanduan mendapatkan prestasi olahraga dan pengetahuan dari buku mungkin telah luntur. Fenomena ini mungkin sudah terjadi diberbagai daerah maju. Seperti data yang dilansir tirto.id, generasi zetizen yang lebih suka mendapat seluruh informasi melalui gawai.

Fenomena tersebut menjadi ladang refleksi yang harus diantisipasi agar anak tak asosial atau bahkan antisosial. Kekhawatiran ini perlu dilihat oleh para orang tua dalam memberikan pemahaman terhadap anak.

Penulis bersyukur, setidaknya masih ada pasokan atlet bola Kediri yang berhasil lolos dari penyisihan grup pertama. Baik Persik dan Persedikab U-17. Meskipun kedua gagal untuk lolos menjadi yang terbaik di grup, prestasi gemilang para anak ini masih mendapatkan dukungan dari orang tuanya.

Para anak itu berhasil menorehkan nama baik kampung halamannya dengan prestasi olahraga. Dan semoga hal tersebut terus menjadi candu. Demi pengalaman belajarnya ke depan. Sehingga, dapat menjadi bagian sejarah kecil persepakbolaan muda Kediri.

Sayangnya, mereka juga jarang disentuh untuk diberitakan. Wajar saja apabila anak yang dianggap investasi bangsa masa depan dianggap tidak penting. Karena kurangnya apresiasi dari stakeholder terkait. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)  

(rk/noe/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia