Sabtu, 29 Jul 2017
radarjogja
Gunung Kidul

Kekeringan Makin Parah

Senin, 17 Jul 2017 14:59 | editor : Jihad Rokhadi

Berita Terkait

Bencana kekeringan mulai dirasakan warga yang tinggal di zona krisis air Gunungkidul. Di Padukuhan Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, warga membuat belasan lubang di tanah untuk mendapatkan air.

Menurut keterangan warga setempat, dibanding tahun lalu krisis air tahun ini sangat parah. Telaga yang selama ini menjadi tumpuan akhir penduduk untuk mendapatkan air secara cuma-cuma berubah menjadi lahan tandus.

Telaga berubah menjadi tanah retak, tidak ada lagi genangan air. Namun masyarakat di sekitar telaga meyakini jika tanahnya digali maka di dalamnya terdapat sumber air. Sejak beberapa pekan terakhir mereka membuat lubang berdiameter lingkaran pinggang orang dewasa.

“Sejak dua bulan lalu tidak turun hujan, telaga mengering. Kami membuat lubang untuk memanfaatkan sisa air telaga untuk keperluan dapur,” kata Sukini, 56, penduduk setempat kemarin (16/7).

Selama ini sudah ada belasan galian lubang, namun sebagian besar sudah mengering hanya sisa sekitar tiga lubang yang masih berair. Warga harus berhemat, lantaran perjuangan mendapatkan air tidak mudah. “Mengambil air dengan gayung kedalaman rata-rata 50 sentimeter,” ujarnya.

Menurut dia, dampak musim kemarau mulai menyulitkan masyarakat. Bak tempat penampungan air hujan miliknya sudah mengering. Saluran dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum menjangkau kampungnya.

“Membeli air harganya Rp 120.000 per truk tangki. Kami pergunakan untuk seminggu sampai dua minggu,” ungkapnya.
Bagi hewan ternak, dia harus rela jalan kaki untuk mencari sumber mata air. Salah satunya memanfaatkan sisa air di telaga. Dengan cara hemat, Sukini meyakini ekonomi keluarga masih bisa aman.

Penduduk yang lain, Watinah, 63, mengaku jalan kaki dengan jarak setengah kilometer untuk menuju lubang air di telaga. Dari telaga Banteng, menggunakan jeriken ukuran 20 liter, dia bolak balik ke rumahnya.

“Sehari kadang tiga kali kadang, ya empat kali bolak-balik, tergantung kebutuhan. Air dari lubang di telaga sebagian untuk hewan ternak, sebagian untuk memasak. Airnya jernih sekali,” kata Watinah.

Warga sengaja mengambil air pada pagi hari dan membawa pulang sore supaya kotoran mengendap. Bantuan dari pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah turun namun tidak mencukupi kebutuhan. “Hanya satu tangki ukuran 5.000 liter,” ujarnya.

Berdasarkan data BPBD Gunungkidul, sudah ada permintaan droping air bersih ke tujuh kecamatan. Mulai dari Kecamatan Panggang, Purwosari, Tepus, Tanjungsari, Paliyan, Rongkop, dan Girisubo. Meliputi 32 desa, 254 padukuhan, 9.046 kepala keluarga, dan 45.230 jiwa

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia